14 August 2020, 19:50 WIB

Teknologi Modifikasi Cuaca Efektif Tangani Karhutla


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

PENERAPAN Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) menjadi salah satu solusi permanen pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Teknologi rekayasa cuaca yang dahulu dikenal sebagai teknologi hujan buatan ini bagian dari upaya pencegahan karhutla dengan cara pembasahan lahan gambut.

"TMC dari segi biaya jauh lebih murah dari water boombing. Efektivitasnya juga jauh lebih tinggi, dengan TMC peluang terjadinya hujan merata di suatu wilayah terutama wilayah rawan karhutla, sehingga kita bisa menjamin tinggi muka air gambutnya, agar tetap basah dan tidak mudah terbakar," kata Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Dirjen PPI KLHK), Rhuanda Agung Suhardiman di Jakarta, Jumat (14/8).

Sebelumnya TMC disebutkan Presiden menjadi salah satu bagian solusi permanen, yaitu bagian analisis iklim, di samping dua bagian lainnya, yaitu pengendalian operasional dan pengelolaan landscape. Manfaat TMC juga akan mengurangi asap akibat kebakaran, dapat memadamkan api pada wilayah yang luas, serta dapat mengatasi kekeringan.

Pada pelaksanaannya TMC membutuhkan sinergitas beberapa instansi, seperti KLHK, BPPT, BMKG, BNPB dan TNI AU. Ke depan, diungkap, Rhuandha sinergitas antar instansi akan diperkuat menjadi sistem yang bekerja secara otomatis tanpa perlu adanya permintaan TMC. Berdasarkan data analisis iklim yang dioperasikan dengan bantuan kecerdasan buatan, TMC bisa segera dilakukan sehingga karhutla dapat ditanggulangi sedini mungkin.

"Tentunya para pembakar lahan itu akan melakukan aksinya dengan melihat kondisi lapangan. Kalau masih ada hujan mereka akan membatalkan niatnya. Kita juga melakukan upaya sosialisasi upaya pembukaan lahan tanpa membakar," sebutnya

Sejalan dengan itu Yudi Anantasena, Deputi Pengembangan Sumberdaya Alam BPPT menyebut jika efektivitas TMC sudah dibuktikan contohnya di Provinsi Riau. Hasil upaya TMC sejak 13-31 Mei 2020 curah hujan di Provinsi Riau meningkat menjadi 157 mm yang berarti lebih tinggi 22,4% dari prediksi curah hujan BMKG dan juga lebih tinggi 36% dari rata-rata curah hujan di Provinsi Riau periode 2009-2019.

Hal ini juga terjadi di Sumatra Selatan dan Jambi yang juga mengalami peningkatan curah hujan sekitar 20%-30% akibat dilakukannya TMC pada  2-19 Juni 2020 di Jambi dan 2 - 18 Juni di Sumatra Selatan. "Perlu adanya ekosistem TMC yang solid agar kemajuan teknologi ini dapat diakselerasi," paparnya.

Kedeputian Klimatologi BMKG, Indra Gustari menjelaskan jika sebagai institusi yang bertugas di bidang pemantauan Meteorologi, Klimatologi, Kualitas Udara dan Geofisika, keberadaan BMKG dalam mendukung TMC diarahkan pada penempatan personil dalam posko TMC, memberikan informasi prakiraan cuaca daerah penyemaian, memberikan informasi awan layak semai dan update rutin dan real-time informasi cuaca.

BMKG pun senantiasa melakukan inovasi dalam tugasnya agar dapat memberikan data yang semakin akurat. Diantaranya menggunakan teknologi radar cuaca untuk TMC. "Dengan radar cuaca akurasi prediksi cuaca menjadi lebih akurat karena resolusi data radar ini lebih tinggi," ucapnya.

Sedangkan Direktur Mobilisasi Sumberdaya Darurat BNPB, Jarwansah mengakui kejadian karhutla 2020 jauh sekali menurun dibandingkan tahun 2019, salah satunya akibat TMC yang gencar dilakukan sejak awal tahun. Diungkapkan jika BNPB mendukung TMC melalui Dana Siap Pakai (DSP) yang bisa digunakan pada daerah-daerah yang telah mengumumkan status siaga darurat.

Pelaksanaan TMC sampai dengan saat ini sudah dilakukan di Riau, Sumatra Selatan, dan Jambi. Berikutnya menyusul dilakukan di Kalimantan, Jawa dan Nusa Tenggara.(H-1)

 

BERITA TERKAIT