11 August 2020, 13:31 WIB

Perbaiki Sumbing Bibir dengan Rekayasa Jaringan Tulang


Atikah Ishmah Winahyu |

SUMBING bibir dan lelangit merupakan cacat pada jaringan lunak yang meliputi bibir, langit-langit, dan tulang alveolus pada maksila. Berdasarkan riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2007, prevalensi bibir sumbing dan lelangit di Indonesia mencapai 22,4 per 10 ribu kelahiran hidup.

Dokter spesialis bedah plastik, Kristaninta Bangun, mengatakan bibir sumbing dan lelangit merupakan jumlah kelainan tertinggi pada bidang bedah plastik. Sekitar 75% penderita bibir sumbing dan lelangit memiliki celah pada tulang alveolus maksila.

Baca juga: Total Pasien Sembuh Covid-19 di Wisma Atlet Hampir 8 Ribu

Dia menuturkan, celah ini menimbulkan beberapa masalah, seperti masalah estetik, gangguan periodontal, deviasi hidung, hingga gangguan psikologis. Oleh sebab itu, diperlukan tata laksana untuk menutup celah pada alveolus.

“Solusinya adalah menutup dengan menggunakan cangkok tulang,” kata Kristaninta dalam ujian promosi doktor, Selasa (11/8).

Pada umumnya, cangkok tulang yang dilakukan untuk menutup celah pada alveolus dengan menggunakan krista iliaka, tibialis, dan calvaria. Namun, tata laksana yang menjadi gold standar ini memiliki kekurangan yakni morbiditas pada area donor, terdapat nyeri pasca operasi, penurunan sensibilitas, gangguan berjalan, parut jelek, durasi operasi lama, hingga masa perawatan yang cukup panjang.

“Sehingga tidak banyak pasien-pasien dengan bibir sumbing dan langit yang memiliki celah yang akhirnya bersedia untuk melakukan tindakan penutupan defek alveolus tersebut,” ungkapnya.

Kristaninta melanjutkan, rekayasa jaringan tulang dapat menjadi alternatif dalam penanganan bibir sumbing dan langit. Rekayasa jaringan atau tissue engineering menerapkan konsep the diamond concept yang melibatkan empat komponen, yakni sel osteogenic, scaffold yang bersifat sebagai osteokonduktif, growth factors dan lingkungan mekanik.

“Rekayasa jaringan tulang alveolus bisa ditutup dengan menggunakan sel punca, biomaterial scaffold yang diberikan growth factors sehingga bisa tumbuh tulang yang baru pada defek,” terangnya.

Scaffold atau osteokonduksi terbuat dari berbagai bahan seperti logam, keramik, polymer organic dan polymer anorganik. Idealnya, scaffold harus mendukung kemampuan osteogenesis dengan kemampuan degradasi dengan kecepatan yang menyerupai pertumbuhan tulang asli. Scaffold yang paling umum digunakan adalah yang terbuat dari campuran keramik dan biopolymer.

Kemudian sel punca sebagai komponen osteogenesis, berdasarkan kemampuannya dapat dibedakan menjadi unipoten, multipotent, pluripotent, dan totipotent. Untuk rekayasa jaringan tulang, dapat digunakan sel punca mesenkimal dari sumsum tulang dewasa, lemak, periosteum, embrionik, tali pusat, dan sumsum tulang fetus.

Baca juga: Masyarakat Adat Desak Aparat Hukum Beri Sanksi Pelaku Intoleransi

Sedangkan, growth factor atau osteoinduksi dapat menggunakan bone morphogenic protein-2 (BPM-2), platelet-derived growth factor (PDGF), dan platenet rich plasma (PRP).

“Keunggulan dari metode ini yaitu tidak menimbulkan morbiditas donor, memakan waktu operasi yang lebih pendek dan lama perawatan yang lebih singkat. Pasien dapat dikerjakan dengan one day care dengan teknik seperti ini,” tandasnya. (OL-6)

BERITA TERKAIT