11 August 2020, 08:57 WIB

Kampanye Protokol Kesehatan dengan Kearifan Lokal


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

MENGGUNAKAN masker menjadi salah satu protokol kesehatan yang wajib dilakukan masyarakat di masa adaptasi kebiasaan baru. Hal ini menjadi upaya pencegahan penularan covid-19, dengan menggunakan masker cipratan droplet akan terhalangmasuk  ke mulut atau hidung seseorang.

Untuk menyukseskan gerakan penggunaan masker di kalangan masyarakat, pemerintah melakukan berbagai upaya salah satunya melalui kolaborasi dengan tokoh masyarakat, ulama, dan relawan.

Deputi Bidang Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan mengatakan perlu adanya tokoh panutan sebagai agen perubahan yang berada di masyarakat yang turut mengajak menggunakan masker.

“Sehingga perlu sebenarnya ada tokoh-tokoh panutan, orang-orang yang ada di sekeliling masyarakat yang mereka selama ini tidak pernah pakai masker, untuk kemudian selalu mengingatkan dan menyehatkan karena intinya adalah pencegahan,” kata Lilik dalam dialog di Media Center Satuan Tugas, Jakarta, Senin (10/8).

Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat dan media massa menjadi sangat penting. Hal itu bisa dilakukan dengan mengajak para pakar dari setiap daerah untuk menyusun materi atau konten mengenai protokol kesehatan sesuai dengan bahasa lokal.

Agen perubahan atau tokoh masyarakat pun beragam di setiap tempatnya agar setiap tokoh mampu menggerakan masyarakat di sekitarnya dan dibekali materi agar mampu mengedukasi dengan baik dengan pendekatan kearifan lokal.

Lilik menjelaskan, sebelum tokoh masyarakat turun ke lapangan, mereka harus dibekali oleh tiga hal. Pertama, bagaimana adaptasi kebiasaan baru untuk mengubah perilaku dan berdasarkan protokol kesehatan. Kedua, materi terkait dengan komunikasi publik untuk memberikan edukasi dan sosialisasi. Ketiga, mendokumentasi kegiatan lewat inaRISK agar orang lain menjadi terinspirasi dan tergerak.

“Nah materi-materi itu (dikemas) dengan kearifan lokal yang ada, budaya lokal yang ada. Misalnya misalnya di daerah Jawa Tengah, Jogja itu kita bisa melihat ada kearifan lokal dengan menggunakan tokoh-tokoh wayang, Punokawan dan sebagainya. Jadi, itu materi yang kemudian kita sampaikan, tetapi intinya adalah sebenarnya protokol kesehatan,” sebut Lilik.

Baca juga: Doni Senang Masyarakat Dukung Kampanye Nasional Penggunaan Masker

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Bidang Komunikasi Tim Koordinator Relawan Satgas Penanganan Covid-19 Devi Purgativa turut menjelaskan, tim relawan telah mengajak beberapa stakeholder seperti Kantor Staf Presiden, organisasi masyarakat, LSM, hingga UMKM untuk bekerja sama menyukseskan gerakan kampanye menggunakan masker di masyarakat.

“Nah kampanye yang kita akan lakukan itu melalui satu sosial media dan juga relawan turun ke lapangan. Jadi kita berusaha supaya semua orang dari elemen-elemen yang berbeda, semuanya harus melakukan (kegiatan) pakai protokol kesehatan. Pakai masker, jaga jarak, cuci tangan,” jelas Devi.

Dalam mendukung upaya yang dilakukan pemerintah, tim relawan menggunakan pendekatan dengan turun ke lapangan seperti ke pasar-pasar untuk memberikan edukasi mengenai protokol kesehatan kepada penjual dan pembeli, memberikan alat perlindungan seperti masker, hand sanitizer hingga face shield.

“Kita berusaha sebisa mungkin untuk menggunakan bahasa yang paling gampang dimengerti dan bahasa bahasa lokal supaya lebih mudah untuk ditangkap,” papar Devi.

Terakhir, Devi mengingatkan kampanye gerakan menggunakan masker tidak bisa dilakukan sendirian. Sehingga dibutuhkan bantuan dari seluruh elemen masyarakat baik dari pemerintah maupun swasta.

“Kita benar-benar butuh bantuan dari seluruh elemen masyarakat untuk membantu dan mengkampanyekan ini, gitu. Tapi, balik lagi, jangan hanya dikampanyekan tapi benar-benar memang harus dilakukan, memang harus dipatuhi,” pungkas Devi.(OL-5)

BERITA TERKAIT