08 August 2020, 17:20 WIB

PGRI Tasikmalaya Pelajari Kurikulum Darurat Nadiem


Adi Kristiadi | Humaniora

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Tasikmalaya masih belum memutuskan menerapkan kurikulum darurat atau tidak. Namun jika dipandang efektif untuk pendidikan jarak jauh (PJJ) bagi siswa PAUD, SD, SMP dan SMA maka organisasi profesi akan membuat suatu program untuk menyosialisasikan dan menerapkannya.

"Kurikulum darurat yang baru saja diluncurkan Mendikbud, Nadiem Makarim, tentunya harus kita pelajari terlebih dahulu dan jika kurikulum tersebut dipandang efektif untuk pendidikan jarak jauh (PJJ) bagi siswa di masa pandemi covid-19 maka organisasi profesi secepatnya akan membuat suatu program terutamanya kurikulum yang terbaik bagi guru," kata Ketua PGRI Kota Tasikmalaya, Bangbang Hermana, Sabtu (8/8/).

Baca juga: KPAI: Pembelajaran Tatap Muka di Zona Kuning Berisiko

Bangbang mengtakan, pihaknya belum menerima kurikulum darurat yang diluncurkan Mendikbud sampai sekarang ini. Jika itu telah diterimanya akan disesuaikan dengan pembelajaran yang sudah berjalan di setiap sekolah. Saat ini, metode pembelajaran selama masa pandemi covid-19 telah berubah mulai dari tatap muka menjadi daring.

"Selama ini setiap sekolah pada dasarnya itu telah menerapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang disesuaikan sendiri karena kondisi di masa pandemi covid-19 ini, tidak bisa mencapai dengan sesuai kondisi normal. Tingkat pencapaian kompetensi dasar juga harus disesuaikan dengan metode pembelajaran yang dilakukan di setiap sekolah mulai dari daring maupun luring," ujarnya.

Menurutnya, kurikulum yang hebat tentunya akan mampu mendidik dan membelajarkan siswanya dalam kondisi serta situasa apapun dan yang wajib ditempuh oleh pemerintahan bagaimana menciptakan dan mendorong agar bisa terwujudnya guru yang hebat. Karena, di satu sisi para guru harus kreatif, inovatif akan mampu memecahkan segala bentuk masalah dan bukan destruktif.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya Budiaman Sanusi mengatakan, pihaknya akan tetap mempelajarinya dan juga mempertimbangkan terutama belajar dengan tatap muka di zona kuning. Sekolah, lanjut Budiaman, harus siap segalanya termasuk para orang tua dalam kondisi sekarang ini.

"Kami akan merumuskan dengan sekolah dan mereka harus siap jika melakukan tatap muka dalam proses kegiatan belajar mengajar harus menyediakan cuci tangan, jaga jarak, masker dan lainnya. Namun, untuk kurikulum darurat yang dikeluarkan Mendikbud tentunya harus melakukan penyesuaian terkait proses KBM PJJ, tapi jika orang tua ingin tatap muka tentu sekolah harus mengurangi siswanya di dalam kelas. Contoh 32 menjadi 16 siswa termasuk pengurangan jam pelajaran," paparnya. (H-3)

BERITA TERKAIT