28 July 2020, 14:20 WIB

Pengendalian Virus Hepatitis pada Pencegahan


Ihfa Firdausya | Humaniora

VIRUS hepatitis merupakan beban penyakit yang besar di dunia, termasuk di Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi virus hepatitis B di Indonesia sebesar 7,1% atau sekitar 18 juta. Sementara virus hepatitis C sebesar 1,01% atau sekitar 2,5 juta.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto menyatakan saat ini pemerintah memprioritaskan program pengendalian virus hepatitis pada upaya pencegahan, pemutusan rantai penularan, dan deteksi dini. Hal tersebut dilakukan tanpa mengurangi upaya pengobatannya.

"Program pengendalian yang dilakukan adalah meningkatkan upaya promosi kesehatan dan pencegahan dengan imunisasi bagi bayi yang lahir di Indonesia," kata Yuri, sapaan akrabnya, dalam webinar peringatan Hari Hepatitis Sedunia 2020, Selasa (28/7).

Sejak tahun 2017, lanjutnya, program imunisasi hepatitis B pada bayi baru lahir harus dilakukan saat bayi berusia kurang 24 jam. Lalu dilanjutkan dengan imunisasi rutin HB-1 pada usia 2 bulan, HB-2 pada usia 3 bulan, HB-3 pada usia 4 bulan.

Selain itu adalah kegiatan deteksi dini hepatitis B pada ibu hamil dan memberikan hepatitis B imunoglobulin kurang dari 24 jam pada bayi lahir dari ibu reaktif hepatitis B. "Model pengendalian ini diharapkan bisa memutuskan penularan hepatitis B dari ibu ke anak sampai 95%," jelas Yuri.

Dia menjelaskan virus hepatitis sangat infeksius, terutama hepatitis B dan C yang dapat menyebabkan sirosis hati, kanker hati, bahkan kematian.

Sementara penyebaran virus hepatitis B mempunyai karakteristik tersendiri, yakni penularan vertikal dari ibu ke anak yang sangat tinggi. Jika bayi terinfeksi pada usia sangat dini, ini akan mengakibatkan komplikasi berupa sirosis dan kanker hati pada usia yang masih muda.

Di sisi lain, pandemi covid-19 mempengaruhi jalannya implementasi program pencegahan dan pengendalian hepatitis. Hal ini terlihat dari adanya penurunan cakupan pelayanan hepatitis B dan C. "Baik kegiatan deteksi dini, maupun pengobatannya," kata Yuri.

Namun, katanya, pelayanan pencegahan penyakit harus tetap berjalan, termasuk pengendalian virus hepatitis. "Ini menjadi tantangan kita bersama bahwa covid-19 ini membuat kita harus mengubah berbagai kebiasaan-kebiasaan yang selama ini anggap normal. Mari kita menempatkan upaya preventif menjadi pekerjaan besar kita di dalam mengelola kesehatan masyarakat," ujarnya.

Upaya preventif ini, kata Yuri, harus dibekali dengan promosi kesehatan yang lebih intens. Dia mengingatkan bahwa pada hakikatnya semua insan kesehatan adalah promotor kesehatan.

"Mari kita dorong semua warga negara kita, untuk bergerak bersama dalam perahu besar yang disiapkan oleh negara yang kita kenal dengan Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat)," tegasnya.

Hal serupa diungkapkan Ketua Komite Ahli Hepatitis dan PISP David H. Muljono. Menurutnya, pada momentum Hari Hepatitis Sedunia ini, Germas perlu diintensifkan di semua tingkat administrasi kesehatan.

"Sehingga kepala-kepala dinas di tingkat provinsi, kabupaten/kota, maupun puskesmas punya bala tentara yang bukan saja dari tenaga kesehatan tapi juga partisipasi masyarakat," tutur David pada kesempatan yang sama. (H-1)

BERITA TERKAIT