21 August 2019, 08:10 WIB

Pasar Kenari Menanti Pencinta Buku


Saskia Anindya Putri |

SIANG itu, aktivitas Pasar Kenari, di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, sudah menggeliat. Di lantai 1, pedagang sentra kelengkapan peralatan listrik riuh. Kios-kios berimpitan, dipenuhi rak dan gantungan alat listrik. Di lantai 2, tak jauh berbeda. Namun, di sini, kebanyakan kios tutup. Ada tulisan kios disegel dengan pita kuning.

Di lantai 3, suasana panas dan sumpek seketika berubah. Sepi dan lengang. Kios tertata dengan rapi dan teratur. Namun, tidak semua kios buka.

Di lantai ini ada sebuah ruangan kaca yang bertuliskan 'Jakbook', yang dipenuhi buku-buku. Selebihnya kios-kios kecil juga menjajakan bermacam buku.

Fasilitas di lantai ini terbilang cukup memadai, dari mesin ATM, nurse room, toilet, musala, hingga gerai kopi dan food court. Bahkan ruangan belajar PAUD juga tersedia.

Lantai 3 ini juga dilapisi keramik dan temboknya dicat putih. Ruangannya dilengkapi mesin penyejuk. Di sisi-sisi dinding terpasang sejumlah jendela yang menjadi sumber penerangan.

Di tengah-tengahnya ada taman bermain dengan rumput sintetis sebagai tempat bagi pengunjung untuk bersantai sambil membaca buku. Ada juga meja-meja panjang dan kursi bagi pengunjung.

Hanya ada beberapa anak yang bercengkerama di taman buatan itu. Suara mereka sesekali memecahkan suasana hening. Di sudut kiri, para pedagang terlihat menyibukkan diri dalam kios masing-masing.

Herudin, 40, pedagang buku yang menempati salah satu kios, mengaku sejak dibuka Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada akhir April 2019, pengunjung masih sepi. Sejak buka pukul sembilan pagi hingga siang itu, hanya dua eksemplar buku yang terjual.

Herudin mengaku pendapatannya menurun drastis jika dibandingkan dengan sebelumnya saat berdagang di kawasan Pasar Senen. Di kios Pasar Kenari omzetnya hanya berkisar Rp200 ribu-Rp300 ribu sehari, sedangkan ketika di Pasar Senen bisa mencapai Rp1 juta.

"Niat awal ramai atau sepi tetap buka karena nyari tempat susah. Sudah ada tempat senyaman ini, jangan disia-siakan," kata pria dua anak itu.

Di tengah kondisi seperti itu, Herudin memutar otak. Ia mengandalkan penjualan secara daring. Setidaknya itu bisa membuatnya bertahan sampai lokasi Jakbook di lantai 3 Pasar Kenari itu ramai.

"Kalau di sini sepi, sekarang kebantu dengan jualan online," jelasnya.

Keluhan serupa juga disampaikan Wawan, 35, pedagang buku lainnya. Di tempat asalnya dulu, ia bisa mendapatkan pendapatan di kisaran Rp5 juta sampai Rp10 juta setiap bulannya. "Hari ini, laris saja belum," kata Wawan.

Manajer Pemasaran Perumda Pasar Jaya, Gatra Vaganza, mengatakan berbagai kegiatan telah dilakukan untuk meramaikan pasar buku itu. Pasalnya, Pasar Kenari sudah identik sebagai pasar elektronik dan alat pertukangan.

"Kita telah siapkan kalender event setiap bulannya agar aktivitas tetap ramai. Seperti saat memasuki awal sekolah kemarin, kita lakukan promosi back to school," ujarnya. (Fer/Put/X-10)

BERITA TERKAIT