25 April 2019, 15:50 WIB

Optimalisasi Daur Ulang Ciptakan Ekonomi Melingkar


Dhika Kusuma Winata | Humaniora

PENERAPAN ekonomi sirkular (circular economy) digaungkan pemerintah untuk mengatasi masalah sampah plastik. Daur ulang menjadi tumpuan untuk mengurangi timbulan sampah plastik dengan memproses menjadi barang yang bernilai ekonomi. Namun, penyerapan industri daur ulang saat ini masih belum optimal.

"Memang belum maksimal ekonomi sirkular ini. Perlu terus didorong dengan meningkatkan demand melalui pertumbuhan industri daur ulang yang baik," kata Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Novrizal Tahar di Jakarta, Kamis (25/4).

Menurut catatan KLHK, serapan industri daur ulang untuk sampah plastik saat ini masih tergolong rendah yakni kisaran 10-12%. Di sisi lain, minimnya serapan daur ulang menjadi indikator masih dominannya sampah plastik yang berakhir di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Padahal, ekonomi sirkular didorong untuk mengatasi masalah sampah yang membanjiri tempat pembuangan, kelangkaan bahan baku plastik dan rendahnya kesadaran konsumen serta produsen untuk turut bertanggung jawab.

Baca juga: Jangan Nyampah mendingan Daur Ulang

Salah satu mata rantai penting yang menopang ekonomi sirkular, imbuh Novrizal, keberadaan bank sampah. Hingga 2018, KLHK mencatat ada sekitar 7.500 unit bank sampah di seluruh Indonesia. Kontribusinya dalam pengurangan sampah nasional baru sekitar 1,7%. Bank sampah diharapkan tumbuh lebih banyak untuk menyuplai industri daur ulang.

"Kita sedang menyiapkan revisi terhadap Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No.13 Tahun 2012 untuk mendorong tumbuhnya bank sampah menjadi sebuah ekosistem circular economy. Dari sisi itu kita akan menjamin off taker mengangkut sampah-sampah untuk didaur ulang," ucap Novrizal.

Sekjen Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyono sepakat daur ulang menjadi bagian penting dalam menciptakan ekonomi sirkular. Menurutnya, industri daur ulang saat ini masih memiliki kapasitas menganggur sebanyak 20%. Jika dioptimalkan, produksi daur ulang plastik bisa mencapai 2 juta ton per tahun dari kapasitas saat ini yang mencapai 1,5 juta ton.

"Utility industri daur ulang saat ini 80% artinya masih ada idle. Masalahnya, sampah plastik dari hilir masih kerap tercampur dengan sampah lain sehingga sulit diproses. Nilainya pun jadi turun jika tercampur," kata Fajar.

Ia pun mendorong pemerintah lebih gencar mengubah paradigma pengelolaan sampah di hilir dari kumpul-angkut-buang menjadi pilah-angkut-proses.

Tanggung Jawab Produsen

Novrizal menambahkan komitmen penerapan ekonomi sirkular juga dibutuhkan dari produsen kemasan plastik. Dorongan itu akan dituangkan melalui Peraturan Menteri LHK mengenai peta jalan pengurangan produksi kemasan plastik oleh industri.

Produsen penghasil kemasan plastik bakal diwajibkan mengurangi sedikitnya 30% produksi dalam jangka waktu 10 tahun. Produsen juga akan diwajibkan mengambil kembali sampah kemasan plastik untuk didaur ulang.

"Tanggung jawab produsen itu akan berlaku secara fair bagi semua sektor penghasil kemasan plastik baik itu manufaktur, retail dan pusat perbelanjaan, serta industri jasa makanan dan perhotelan. Maka itu menjadi tanggung jawab yang sama bagi semua produsen. Mereka memiliki peran yang sangat penting dalam pengurangan sampahnya," ucapnya.(OL-5)

BERITA TERKAIT