22 June 2022, 11:28 WIB

The Black Phone, FIlm Thriller Berbalut Drama Supernatural


Basuki Eka Purnama | Hiburan

THE Black Phone adalah film horor supernatural, yang merupakan adaptasi dari cerita pendek 2004  dengan judul yang sama, karya penulis Joe Hill.

Berlatar pada 1978, film dibuka dengan informasi adanya sebanyak lima anak hilang di sebuah kota di pinggiran Colorado.

Seorang pemain bisbol muda Finney Shaw (diperankan oleh Mason Thames), menjadi yang keenam ketika seorang pembunuh berantai, yang dijuluki The Grabber (diperankan oleh Ethan Hawke), membuatnya pingsan dan melemparkannya ke dalam sebuah van.

Baca juga: Ini Kata Ethan Hawke Soal Perannya Sebagai Penjahat di The Black Phone

Finney terbangun di ruang bawah tanah kedap suara dengan telepon terputus. Dia dengan cepat mengetahui kemampuan telepon untuk mengirimkan suara korban The Grabber sebelumnya, yang ingin membantunya melarikan diri.

Sementara itu, saudara perempuan Finney, Gwen (diperankan oleh Madeleine McGraw), mengalami mimpi psikis yang mengirimnya dalam pencarian untuk menemukan kakaknya.    

Bukan hal yang mengagetkan bahwa penampilan Ethan Hawke sebagai seorang penculik anak berdarah dingin, menjadi salah satu elemen paling menarik dari film ini. 

Hawke, seperti yang diketahui, dalam 30 tahun, belum pernah memerankan penjahat yang kejam sebelumnya. Terlebih, ia memainkan karakter ini sepenuhnya dengan mengenakan topeng.

Film-film thriller dengan pembunuh berantai cenderung memiliki misteri kelam tertentu bagi sang antagonis. Hal yang menarik di The Black Phone, karakter Hawke bisa dibilang tidak digali sangat dalam, namun, anehnya, penonton seakan sudah mengenal karakter ini dengan cara tertentu.

Tentu ini merupakan penampilan yang begitu menyegarkan dari Hawke -- yang karakternya sedikit mengingatkan audiens dengan si badut Pennywise dari It (2017) -- yang sama-sama 'memburu' anak-anak kecil untuk hiburannya sendiri.

Variasi karakter yang diperankan Hawke pun kini kian beragam, setelah ia juga sempat memainkan antagonis lain baru-baru ini di Moon Knight (2022), Arthur Harrow, hingga menjadi Raja Aurvandil War-Raven di The Northman (2022) -- membuatnya semakin pantas disebut sebagai aktor yang tidak hanya berbakat, namun juga memiliki jangkauan akting yang begitu luas.

Tidak adil rasanya jika pujian hanya dilontarkan kepada Hawke. Dua aktor cilik Mason Thames dan Madeleine McGraw pun tidak kalah mencuri perhatian. Bagi Thames, ini merupakan debut layar lebar pertamanya.

Sebagai lakon utama, penampilannya sebagai Finney cukup meyakinkan. Rasa takut dan tegang sebagai seorang anak yang diculik, disekap, dan mencoba kabur dari sang penculik keji, seakan tersampaikan kepada penonton.

Berbeda dengan Thames, bagi McGraw yang memerankan tokoh Gwen, ini bukan debut film pertamanya. Ia bisa dibilang merupakan salah satu bintang yang menjanjikan, setelah memerankan karakter-karakter kunci di film-film populer termasuk Ant-Man and The Wasp (2018), Toy Story 4 (2019), hingga The Mitchells vs. The Machines (2021).

Penampilannya sebagai adik Finney yang ceria, blak-blakan, dan pemberani pun sukar untuk dilupakan. Ia memberikan bumbu emosional dan psikis yang berpadu apik dengan jalannya cerita.

Semuanya memiliki porsi yang pas bagi pengembangan karakter keduanya, ditambah dengan dinamika keluarga dan upaya untuk kabur dari The Grabber.

The Black Phone disutradarai Scott Derrickson, ditulis oleh Derrickson dan C. Robert Cargill, dan diproduksi oleh Jason Blum. Ketiga nama ini tidak asing di filmografi horor Hollywood.

Derrickson sendiri dikenal melalui film-film seperti Sinister (2012), The Exorcism of Emily Rose (2005), hingga Doctor Strange (2016). 

Ia memiliki gaya dan pendekatan tersendiri dalam film horor dan supernatural, yang seakan sudah menjadi spesialisasinya saat ini.

Soal visual, The Black Phone dikemas dengan cantik dan mampu memberikan kejutan-kejutan bagi siapa pun yang menontonnya. Hal ini juga diperkuat dengan scoring dan efek suara yang menggelegar -- bahkan dering telepon di film pun bisa menjadi begitu menegangkan saat dialami di bioskop.

Lebih lanjut, salah satu yang mencolok dari gaya penceritaan Derrickson adalah kedekatannya dengan Kristiani, yang merupakan agama dan keyakinannya. 

Di The Black Phone, audiens dapat menemui elemen ini, yang dibungkus dengan baik dan cukup ringan.

Hal lain yang menarik dari film ini adalah latarnya di akhir era 70-an. Ternyata, hal ini bukan hal yang jauh dari Amerika Serikat. Di 'Negeri Paman Sam', akhir 70-an dan awal 80-an merupakan tahun-tahun dimana angka penculikan anak marak dilaporkan. Seperti digambarkan di film, poster-poster anak-anak hilang banyak bermunculan di penjuru kota.

Kedekatan ini juga diperkuat dengan percikan nostalgia era 70-an, termasuk gaya berbusana dan gaya rambut pra-remaja kala itu, sentilan soal Perang Vietnam, hingga budaya pop seperti film The Texas Chain Saw Massacre (1974) dan lagu-lagu ikonis seperti Free Ride oleh Dizzie Gillespie (1977).

Secara keseluruhan, The Black Phone, yang melakukan pemutaran perdana dunianya di Fantastic Fest pada 25 September 2021 ini agaknya dapat menjadi salah satu pilihan tontonan menarik di tengah tahun ini.

Film berdurasi 102 menit ini akan siap hadir 'meneror' para pecinta film di Indonesia pada hari ini, 22 Juni 2022. Bersiaplah, dan jangan lupa untuk mengangkat telepon rumah Anda ketika tiba-tiba berdering nanti setelah film selesai! (Ant/OL-1)

VIDEO TERKAIT :

BERITA TERKAIT