12 October 2021, 12:19 WIB

Pedagang Permen Dalgona Ikut Sukses Gara-Gara Squid Game


Kevino Dwi Velrahga | Hiburan

KEPOPULERAN serial drama Korea Squid Game membuat pedagang permen dalgona di Korea Selatan (Korsel) kecipratan rezeki karena jajanan tradisional itu muncul di serial tersebut. 

Serial Netflix tersebut sukses menampilkan kelompok marginal Korsel yang saling bersaing dalam permainan anak-anak untuk merebutkan 45,6 miliar won (Rp549 miliar) dengan konsekuensi yang mematikan.

Dalam satu tantangan tertentu, para kontestan diharuskan membuat bentuk bintang dan payung dari permen gula renyah yang disebut dalgona. Hal ini harus dilakukan tanpa ada retakan dan mereka yang gagal akan dibunuh.

Baca juga: Ini Adegan Squid Game yang Buat Jung Ho Yeon Menangis

Permainan hidup atau mati ini terinspirasi oleh pengalaman sutradara Hwang Dong-hyuk yang tumbuh di Seoul pada 1970-an. Namun, pada saat tersebut, hadiah untuk seorang anak yang berhasil membentuk dalgona sesuai bentuk yang diminta adalah sebuah dalgona gratis.

Hwang selalu bertekad memenangkan hadiah ekstra dan menggunakan beberapa taktik dalam usahanya, termasuk menjilati permen untuk melonggarkan bentuknya dan menggunakan jarum yang dipanaskan di atas briket. Teknik ini turut diulang dalam film saat adegan tantangan dalgona.

"Saya akan membuat pembuat dalgona yang asli sangat bingung karena berhasil membentuk dalgona bentuk payung yang paling sulit," kata sutradara tersebut dalam video wawancara di YouTube.

Tapi permen itu sendiri sulit diatur di lokasi syuting karena mudah melunak, terutama selama musim hujan lembab di Korsel. Maka dari itu, Hwang dan Direktur Artistik Chae Kyung-sun menyewa ahli dalgona untuk membuat permen yang baru langsung di lokasi.

Ahli dalgona tersebut adalah Lim Chang-joo dan istrinya Jung Jung-soon yang memproduksi antara 300 dan 400 dalgona selama tiga hari pembuatan film.

Sekarang, kios pinggir jalan sederhana mereka di distrik teater Seoul – tidak lebih dari payung, tenda, dan peralatan mereka – ramai dikunjungi orang-orang. 

Pesanan untuk permen 2.000 won mulai menumpuk segera setelah toko dibuka. Pelanggan menunggu hampir enam jam lamanya dan beberapa pun menyerah pulang dengan tangan kosong.

Dalam waktu 90 detik, Lim melelehkan sebagian gula di atas kompor lalu menambahkan soda kue ke dalam adonan. Kemudian adonan diratakan menjadi lingkaran dan ia pun meninju adonan tersebut agar bisa dibentuk sesuai dengan keinginan pelanggan. Dia menawarkan pilihan yang lebih luas daripada empat bentuk dalam film.

"Saya tidak pernah membayangkan akan menjadi sepopuler ini," kata Lim kepada AFP tentang serial tersebut. Ia turut mengakui bahwa hidupnya kini menjadi sangat sibuk.

“Tentu saja saya senang karena bisnis saya berjalan dengan baik dan bagaimana dalgona menjadi terkenal di negara lain. Saya berharap mereka membuat dan memakan dalgona mereka sendiri," tambahnya.

Sejarawan mengatakan dalgona pertama kali muncul pada 1960-an ketika Korsel masih dilanda kemiskinan pascaperang. Pada masa tersebut makanan penutup – seperti es krim atau cokelat – tidak tersedia secara luas dan sangat mahal.

Permen ini memiliki rasa manis dengan sedikit rasa kacang serta sedikit pahit. Di Korsel pada saat tersebut dalgona sangatlah populer dengan banyak penjual mendirikan kios mereka di dekat sekolah.

Lim dan Jung sendiri memulai usaha dalgona mereka dengan modal 30.000 won setelah menutup bisnis menjahit yang telah mereka jalani selama 20 tahun sekitar tahun 1997 saat krisis keuangan menimpa wilayah Asia.

Manisnya dalgona bertahan hingga kebangkitan Korsel yang menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-12 di dunia. Hal ini dicapai setelah beberapa dekade pertumbuhan ekonomi yang cepat selama pemerintahan otoriter periode pascaperang.

Squid Game adalah manifestasi terbaru dari pengaruh budaya populer negara yang semakin meluas. Sebelumnya, gelombang budaya populer Korea Selatan yang sempat ramai di dunia adalah musik K-pop BTS dan film pemenang Oscar Parasite.

"Korsel selalu berada di jalur modern dan pramodern, alat Barat dan cara Timur, dan melestarikan masa lalu sambil mengorbankan segalanya untuk masa depan," kata Michael Hurt, pengajar kajian budaya di Korea National University of Arts. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT