26 September 2021, 15:40 WIB

'Susi Susanti, Love All' Pikat Hati Penonton di Market Screening Beijing International Film Festival


mediaindonesia.com | Hiburan

FILM hasil karya anak bangsa Susi Susanti, Love All telah ditayangkan pada market screening Beijing International Film Festival, Kamis, 23 September 2021 di Bioskop Chao Art Center, Beijing, RRT. Tak hanya itu, film A Man Called Ahok juga diputar sehari sesudahnya dan disaksikan oleh sejumlah kalangan pemerhati dan distributor film di RRT.

Turut pula hadir Dubes Djauhari Oratmangun, serta jajaran pejabat Kedutaan Besar RI di Beijing, para penggiat sinema, sutradara serta insan media di Beijing yang tertarik memasarkan film ini di platform online. Semuanya terpukau dengan kualitas film dan alur cerita dari film ini.

Film yang diambil dari kisah nyata seorang atlet ini mengisahkan tentang perjalanan hidup atlet bulu tangkis legendaris Indonesia, Susi Susanti, dalam meraih medali emas di Olimpiade Musim Panas 1992 Barcelona. Tak hanya itu, semangat inklusivitas, pengorbanan dan bela negara juga tercermin kuat di film yang berdurasi kurang lebih 2 jam tersebut.

Sejak pertama kali digelar pada 2011, BJIFF telah menjadi tempat berkumpulnya sutradara, produser, pemilik bioskop dan platform film online, perusahaan pembuat film, investor usaha perfilman serta aktor dan aktris dari seluruh dunia. Karena BJIFF merupakan ajang perfilman paling bergengsi di RRT.

Pada BJIFF tahun ini, Indonesia menayangkan dua film karya terbaiknya yaitu Susi Susanti: Love All dan A Man Called Ahok yang merupakan pilihan dari para juri BJIFF yang teridiri dari sutradara dan artis terkenal Tiongkok, di antaranya Gong Li.

Foto bersama Susi dan Alan saat Sudirman Cup 2019 di Nanning.


Keikutsertaan film Indonesia pada BJIFF 2021 ini merupakan kolaborasi antara Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing, ASEAN-China Center dan Nanyang Bridge Media. Nanyang Bridge Media merupakan satu-satunya perusahaan Indonesia di RRT yang sangat aktif mempromosikan budaya, destinasi-destinasi syuting film dan artis-artis film Indonesia yang digemari di RRT. 

Adapun film-film Indonesia yang mengikuti festival-festival film di RRT adalah hasil kerja sama perusahaan ini dengan para pelaku bisnis perfilman Indonesia yang ingin menembus pasar film RRT.

Dalam kesempatan wawancara, Dubes Djauhari mengatakan bahwa lewat film, kita mampu memahami karakter dan nilai-nilai yang ada dalam suatu bangsa. "Oleh karena itu, penayangan film ini diharapkan dapat meningkatkan hubungan antara kedua negara, agar merefleksikan hubungan kemitraan strategis komprehensif yang selama ini telah terbina.”

Dirinya juga berharap penayangan ini menjadi salah satu langkah agar selanjutnya lebih banyak lagi film-film karya anak bangsa Indonesia dapat dinikmati para penggemar film di RRT. Hal ini mengingat RRT mengenakan kuota tahunan untuk penayangan film asing di layar lebar yang saat ini didominasi film-film barat. Harapannya bukan hanya film Susi Susanti: Love All dan A Man Called Ahok saja yang diputar di RRT, namun film Indonesia lainnya di masa mendatang agar dapat dikenal luas oleh pencinta layar lebar di RRT.
(Sumber: KBRI Beijing)

BERITA TERKAIT