15 April 2021, 20:41 WIB

Bangun Usaha sejak SMA Sukses Manfaatkan Peluang Pandemi


Wisnu Arto Subari | Hiburan

SEJAK kecil, Ferdinand Ryan memang bercita-cita ingin menjadi pengusaha. Anak muda kelahiran Kudus, Jawa Tengah, 33 tahun lalu itu mulai membangun bisnis pertamanya di bidang animasi dan situs web bernama Fortitude pada 2006 saat ia duduk di bangku SMA. Setahun kemudian, karena saudara perempuannya ingin mengadakan pesta ulang tahun ke-17, ia mendirikan Groovyeo dengan menjadi penyelenggara acara tersebut.

Namun, siapa sangka dari menolong saudarinya itu ia membuka peluang bisnisnya ke depan. Salah satu teman dari saudarinya terpikat dengan konsep acara ulang tahun yang dibuat Perpi, begitu panggilannya. "Yang menarik dari acara ulang tahun itu yaitu ada beberapa gim khusus. Tarif juga kompetitif karena MC dari saya sendiri. Dari situ 99% bisnis saya terkait penyelenggaraan acara ulang tahun," ungkap lulusan Kwik Kian Gie School of Business jurusan Marketing Communication pada 2010 itu di Jakarta, pekan lalu.

Dari berbagai bisnis kecil itu akhirnya pada akhir 2013, Perpi bersama tiga teman kuliahnya membangun perseroan terbatas untuk menggarap pasar korporasi. Syukurnya, usaha mereka terus berkembang. Ini terbukti pada 2014 ia membuat dua anak perusahaan bernama PT Sahabat Pesta Indonesia dan PT Sahabat Kreasi Indonesia di bawah naungan Groovygroup. Perpi yang kini menjabat sebagai CEO of Groovygroup telah melakoni jatuh bangun dalam membangun perusahaan sekitar 14 tahun. Tentu lamanya waktu tersebut tidak dilalui dengan mudah dan lancar. Pasti ada banyak cerita suka duka dan rahasia prinsip bisnisnya yang turut memengaruhi perkembangan perusahaan.

Salah satu cerita suka dalam usahanya itu ialah saat memperoleh proyek dengan nilai terbesar hingga Rp3 miliar dari PT PP Properti sepanjang 2017-2018. Ada empat acara PT PP Properti yang ditangani Groovygroup saat itu yakni soft opening Lagoon Avenue Bekasi Mall, Zumba Color dengan sekitar 2.000 peserta, Komunitas Kopi, dan pengoperasian kawasan De Tjolomadoe di Solo yang dihadiri Presiden Joko Widodo.

Ada peristiwa berkesan bagi Perpi ketika acara di Solo itu. Jokowi datang terlambat dari jadwal yang ditentukan dan mendadak sehingga para pejabat BUMN properti itu sudah pulang dari acara. "Walhasil, saya dan tim serta beberapa perwakilan perusahaan yang menemani Jokowi saat di De Tjolomadoe," tuturnya yang merasa senang dapat dekat dengan orang nomor satu di Indonesia.

Namun, ada pula kisah yang paling tidak mengenakkan bagi Perpi. Pada Januari 2019, pihaknya menangani merek perusahaan asal Jepang di bidang pendidikan dengan 900-an undangan di ICE BSD. Setelah acara selesai, Groovy menyediakan bus untuk mengantar tamu undangan ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sayangnya, ada satu bus yang membawa 35 orang tidak melalui jalan tol sehingga menemui kemacetan dan tertinggal pesawat menuju Surabaya, Jawa Timur.  

Menurut Perpi, tanggung jawab terhadap 35 orang itu sejatinya tidak jelas di dalam kontrak. Karena tidak ada pihak yang mau bertanggung jawab, pihaknya akhirnya yang menyediakan hotel untuk menginap dan mengurus tiket pesawat pada penerbangan berikutnya. Tentu ini mendatangkan kerugian bagi Groovy karena ada biaya tidak terduga yang muncul. Akan tetapi, di balik musibah ada hikmah. Ternyata perusahaan asal Jepang itu menjadi percaya kepada Groovy sehingga mau menjalin kerja sama kembali pada Januari 2020 dan Februari 2021.

Kesuksesan perusahaan tidak bisa dilepaskan dari gaya kepemimpinan yang diterapkan. Perpi mengungkapkan bahwa ia menjalankan gaya kepemimpinan terbuka. Ini berarti ia membuka ruang untuk penyampaian ide-ide dari bawah. Apalagi karyawan inti Groovy yang sekarang mencapai 25 orang berusia terbilang muda dan sepantaran dengan dirinya antara 19-35 tahun.

Perpi pun menjalankan bisnis dengan prinsip profesionalitas kekeluargaan. "Saya hampir enggak pernah marah-marah ke bawah," ujarnya. Apalagi kepada sesama temannya yang juga menjadi pendiri Groovy. Untuk menjaga hubungan pertemanan dalam bisnis juga merupakan tantangan tersendiri. Dalam hal ini, ia mengaku empat pendiri Groovy menerima gaji yang sama besar. Keuntungan yang diperoleh juga disampaikan secara transparan kepada karyawan dan pembagiannya dilakukan dengan musyawarah.

Dalam menjalani bisnis itu, Perpi mengaku pernah mengalami konflik dengan teman-teman pendiri perusahaan dan ingin bubar. Hal tersebut terjadi pada 2020 ketika perusahaan mulai berekspansi dan mendirikan sejumlah anak perusahaan lain. Sayangnya, pandemi covid-19 datang tidak terduga sehingga bisnis mereka pun terhenti. Agar perusahaan berjalan, Groovy banting setir dengan membuat cairan disinfektan yang sangat dibutuhkan ketika itu. "Hasilnya lumayan dapat menutupi biaya operasional kami. Tapi sekarang bisnis itu sudah tidak kami lanjutkan karena sudah banyak pemainnya," ucap Perpi yang hobi menjadi DJ.

Pandemi covid-19 pun mendatangkan berkah tersendiri bagi Groovy. Jika sebelumnya acara berlangsung secara tatap muka, pandemi memberikan peluang untuk pertemuan bisnis secara online. Groovy pun mengubah fungsi kantornya yang diperbesar pada 2020 menjadi studio untuk menggelar acara virtual. Studio tersebut dapat disulap menjadi panggung virtual 2D, 3D, dan 360 degree.

 

Ada dua layanan yang diberikan yaitu acara virtual dan hibrida. Menurut Perpi, acara virtual memiliki kelebihan berupa harga lebih murah dan acara dapat dibuat dalam waktu cepat atau mendadak. Sebaliknya, acara hibrida dapat mendatangkan audiens secara terbatas ke tempat acara dan sebagian live stream sehingga dapat berinteraksi langsung dengan tamu yang hadir. Dan ternyata perusahaan yang berminat atas acara virtual dan hibrida cukup banyak. Sebagai contoh, Groovy membantu Dell menggelar acara virtual boothcamp selama dua hari. Selama dua hari itu ada presentasi, talkshow, kuis, dan grand prize.   

"Selama 2020 kami membuat sebanyak 160 event atau sampai dengan 2021 sekitar 200 acara," kata Perpi. Omzet perusahaan pada 2020 mencapai Rp7,5 miliar. Omzet ini turun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar Rp10,8 miliar. Sekarang Groovygroup memiliki tujuh merek di bawah tiga perusahaan berbeda. Jika dihitung dari 2007, pihaknya telah menyelenggarakan dan memproduksi acara secara total lebih dari 1.400.

Meskipun sudah sukses membesarkan Groovy, ternyata Perpi masih punya banyak mimpi untuk merambah bisnis lebih luas. Ia ingin membuat acara melayat secara online. Ini disebabkan selama pandemi banyak orang tidak bisa melayat kepada keluarga atau sahabat yang meninggal. Impian jangka panjangnya lagi yaitu ia ingin membuat platform online event asli buatan Indonesia. Masalahnya, sekarang platform yang ada dan banyak dipakai merupakan buatan asing alias impor. Tentu ini sejalan dengan imbauan Jokowi untuk menyintai produk Indonesia dan membenci barang impor. (OL-14)

BERITA TERKAIT