13 April 2021, 10:52 WIB

Asdrafi di Atas Kereta Waktu, Spirit Para Alumni Lewat Film


Ardi Teristi Hardi | Hiburan

SEJAK berdiri pada tahun 1955, Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (Asdrafi) menjadi kawah candradimuka bagi para sineas film tanah air, dari Teguh Karya, Koesno Sudjarwadi, Maruli Sitompul, Hendra Cipta, Alex Suprapto Yudho, Sri Harjanto Sahid, hingga Masrom Bara. Untuk menghadirkan spirit Asdrafi, para alumninya pun membuat film dokudrama berjudul Asdrafi  di Atas Kereta Waktu, Serpihan Jejak Asdrafi.

Film tersebut disutradarai oleh Indra Tranggono dan telah dipersiapkan selama tiga bulan. Indra mengatakan, film Asdrafi di Atas Kereta Waktu akan diluncurkan, Jumat (9/4) di Pendapa Pakuningratan/Asdrafi, Sompilan, Ngasem 12 Yogyakarta, pukul 19.00 WIB.

.Indra yang juga menjadi penulis skenario film tersebut mengatakan, film ini bukan film sejarah, melainkan dokudrama. Cerita fiksi dalam film ini digunakan untuk mengungkap beberapa data kualitatif tentang perjalanan dan semangat kreatif Asdrafi.

"Saya berusaha menghadirkan spirit Asdrafi yang tahan pukul dalam  perubahan zaman. Pada setiap era, Asdrafi selalu berkontribusi melalui ide, karya, dan sumber daya manusia kreatif," ujar Indra dalam keterangan tertulis, Selasa (13/4).

Produser film Asdrafi di Atas Kereta Waktu, Jedink Alexander menambahkan tujuan pembuatan film ini adalah untuk menggugah ingatan atas eksistensi Asdrafi dan memberikan apresiasi kepada masyarakat. Menurut dia, Asdrafi tidak hanya memberikan ilmu seni, tapi juga ilmu kehidupan yang sangat bermakna bagi kelahiran para seniman.

"Kini Asdrafi telah menginisiasi berdirinya Insaga Asdrafi yang menangani pendidikan seni," ujar Jedink.

Jedink menjelaskan, film Asdrafi di Atas Kereta Waktu mengisahkan tentang semangat kreatif Asdrafi yang tidak mengenal mati. Kisah dibuka dengan kemunculan tokoh Jedink bersama isteri dan anaknya bernama Stefani. Jedink yang selama ini tinggal di Melbourne Australia mengajak anak dan isterinya mengunjungi kampus Asdrafi untuk menyerap pengalaman dan pengetahuan.

Mereka menemukan komunitas kreatif yang memberikan banyak inspirasi. Stefani pun akhirnya memutuskan untuk kuliah di Yogyakarta karena ingin menempa diri dan menjadi seniman profesional.

baca juga: HBO Rayakan 10 Tahun Game of Thrones 

"Ini film kedua setelah Aku Bukan Marsinah yang diproduksi Jedink Production dan Guyub Rukun Keluarga Asdrafi Yogyakarta," kata Jedink.

Film ini melibatkan banyak aktor, seperti Jedink Alexander (merangkap produser), Siti Nikandaru Chairina, Deddy Ratmoyo, Meritz Hindra, Ende Riza, Titok Pangesthi Adji, Dr Nur Iswantara, Mahmoud Elqadrie, Harlizon, Khocil Birawa, dan Awang Rebo Legi, Vio Bintang Pamungkas, Cristina Deque, Gee Myta, Yosep S, dan Nunung Rita.

Selain itu, ada Joni Asman bertindak selaku kameraman/editor, Dr Memet Chaerul Slamet selaku penata musik, dan Marco Dinata selaku penata artsitik. (OL-3)

BERITA TERKAIT