07 April 2021, 08:49 WIB

Penulis Serial Jepang Oshin Tutup Usia


Basuki Eka Purnama | Hiburan

SUGAKO Hashida, penulis skenario di balik drama televisi legendaris asal Jepang Oshin meninggal dunia di usia 95 tahun, Minggu (4/4), akibat limfoma di rumahnya di Atami, Prefektur Shizuoka.

Serial Oshin, yang tayang pada 1983, mengisahkan hidup seorang perempuan yang lahir di desa miskin dan menjadi pebisnis supermarket sukses. Oshin tayang di banyak negara, termasuk Indonesia.

Oshin adalah anak yang lahir di keluarga petani miskin Yamagata. Demi memenuhi kebutuhan keluarga, dia ditukar dengan sekarung beras untuk
menjadi pembantu.

Baca juga: Pangeran Harry Buat Serial Soal Invictus Games untuk Netflix

Meski mengalami berbagai cobaan, Oshin gigih berjuang sejak zaman peralihan masa perang era Meiji ke era Showa.

Serial yang terdiri atas 297 episode dengan durasi masing-masing episode 15 menit itu dianggap sebagai salah satu drama televisi Jepang terbaik dengan rating mencapai 62,9%.

Hashida, yang bernama asli Sugako Iwasaki, lahir di Seoul. Dia menjadi penulis naskah drama setelah bergabung dengan Shochiku Co. Dia menerima Order of Culture pada 2020 dari pemerintah Jepang atas kontribusi dan pencapaian budaya.

Beberapa tahun lalu, Hashida mengundang kontroversi dengan menerbitkan buku pada 2017 yang mengungkapkan keinginannya menutup usia dengan
euthanasia yang ilegal di Jepang.

"Mati adalah pekerjaan terakhir bagi manusia. Saya ingin memutuskannya sendiri," kata dia dalam sebuah wawancara.

Dilansir Kyodo, karya Hashida disukai para ibu rumah tangga karena menggambarkan keluarga dengan gaya dry humor khasnya.

Di serial drama Wataru Seken wa Oni Bakari, yang tayang pada 1990, dia menggambarkan masalah lazim di rumah tangga Jepang, seperti ketegangan antara ibu rumah tangga dan ibu mertuanya.

Tema perempuan yang berjuang melindungi keluarga juga dimasukkan ke dalam drama sejarah.

Di Onna Taikoki, yang tayang pada 1981, dia meminjam sudut pandang perempuan untuk menggambarkan periode Sengoku, perang saudara dan pergolakan sosial pada abad 15 dan 16, fokus terhadap kehidupan Nene, istri Toyotomi Hideyoshi, salah satu dari panglima perang paling terkemuka pada masa itu. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT