03 June 2018, 0:55 WIB

MENEPIS MAUT ALAS ROBAN


MI|Foto

TEPAT di pinggir tikungan, tunawisma itu berdiri. Mengenakan pakaian serba hitam dan muka tertutup, tangannya setia menadah berharap belas kasihan dari kendaraan yang melintas. Sekilas sosoknya memang mengejutkan, terlebih dengan kisah-kisah menyeramkan yang sudah terkenal di jalur jalan tempatnya berada itu.

Semenjak menjadi jalan favorit di Pantai Utara (Pantura), semenjak itu pula Jalur Alas Roban memiliki banyak kisah.

Jalur yang dibangun pada masa penjajahan VOC dengan nama De Grote Postweg ini diwarnai banyak mitos.

Kondisi pepohonan yang tumbuh lebat di kanan-kiri jalan memang menghadirkan suasana mencekam. Ini sesungguhnya sesuai dengan arti nama jalur itu sendiri. Alas berarti hutan.

Namun, tanpa lebatnya hutan dan cerita mistis, sesungguhnya topografi jalanlah yang menjadi faktor utama tingginya ancaman maut. Kontur yang menanjak dan menikung saling silih berganti bahkan hadir juga bersamaan.

Kondisi ini diperparah ketika malam hari. Sering kali kabut tebal turun menyelimuti jalan sehingga mengganggu konsentrasi pengendara dan jarak pandang.

Namun, kesan angker Alas Roban kini terus terkikis dengan bertambahnya berbagai sarana dan prasarana penunjang yang berada di Jalur Pantai Utara Kecamatan Gringsing hingga mendekati Kecamatan Batang Kota.

Alas Roban kini sudah terbagi menjadi tiga jalur, yaitu jalur lingkar selatan dan tengah yang digunakan untuk lintasan kendaraan berat, serta jalur utara untuk jenis mobil dan sepeda motor.

Selain itu, penambahan beberapa lampu penerangan jalan yang dipasang di sepanjang jalur Pantura Batang ini juga menambah kenyamanan pengendara yang melintas. Namun, hal yang tidak kalah penting ialah kesiapan kendaraan dan pengendara itu sendiri. Hanya dengan kesiapan prima, maka ancaman maut di Alas Roban bisa ditepis jauh. MI/Ramdani

BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA