18 January 2021, 04:35 WIB

Gerak BUMN Melambungkan Usaha Wong Cilik


M Iqbal Al Machmudi | Fokus

KEBERADAAN Badan Usaha Milik Negara memiliki makna strategis bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

BUMN merupakan sebuah badan usaha yang mampu menyerap produk-produk hasil produksi dari UMKM. Tengok saja total belanja yang dimiliki seluruh BUMN yang mencapai ratusan triliun rupiah. Dari 9 BUMN yang telah berkomitmen untuk mengalokasikan belanja dari UMKM, diperoleh nilai Rp35 triliun. Sebuah jumlah yang amat besar untuk dibagi menjadi omzet usaha bagi UMKM yang menjadi suplier bagi 9 BUMN itu.

Peran strategis lainnya adalah kemampuan BUMN untuk memberikan akses permodalan bagi pelaku usaha milik wong cilik. Dana itu berasal dari penyisihan laba BUMN untuk program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL).

Sebagai contoh, PT Pertamina (Persero) melalui program kemitraannya sejak 1993 telah menyalurkan dana PKBL mencapai Rp3,5 triliun.Program kemitraan Pertamina tercatat telah menyalurkan pinjaman modal usaha kepada 64 ribu pelaku usaha yang menjadi mitra binaan

Bila ditotal dari seluruh BUMN yang ada, telah tersalurkan dana Rp20 triliun yang akan terus bertambah seiring dengan penyisihan dari BUMN dan pembayaran kembali dana pinjaman itu dari UMKM yang menerimanya.

Dengan memiliki dua peran yakni menjadi pasar dan sumber permodalan bagi UMKM, peran BUMN amat strategis dalam menumbuhkan usaha milik rakyat.

Staf Ahli Bidang Keuangan dan Pengembangan UMKM Kementerian BUMN, Loto Srinaita Ginting mengatakan pihaknya terus mendorong upaya pengembangan UMKM bekerja sama dengan berbagai pihak.

Upaya pengembangan UMKM dari Kementerian BUMN salah satunya merumuskan framework pemberdayaan UMKM. Rumus jitu tersebut dibagi menjadi tiga yakni UMKM naik kelas, pembiayaan UMKM, serta ekosistem UMKM.

"UMKM naik kelas merupakan upaya meningkatkan kapasitas usaha dan kompetensi UMKM agar bisa naik kelas, sehingga memiliki pemahaman dan pengetahuan yang lebih baik terkait pengelolaan usaha mulai dari packaging produk, pemasaran dan penjualan, pengelolaan keuangan, dan sebagainya," kata Loto saat dihubungi, Sabtu (9/1).

Pembiayaan UMKM adalah dengan mendorong lembaga keuangan khususnya BUMN untuk memberikan akses pembiayaan yang ramah bagi UMKM, sehingga kapasitas bisnis dapat meningkat dengan dukungan modal kerja yang mudah dan terjangkau.

Sementara Ekosistem UMKM adalah meningkatkan koordinasi lintas sektor untuk mendukung ekosistem UMKM, sehingga memberi ruang bagi UMKM untuk mengakses info dan layanan khususnya dalam upaya pengembangan UMKM.

"Dalam upaya pengembangan UMKM, Kementerian BUMN bersama dengan BUMN-BUMN telah menyiapkan channel bagi UMKM. Terdapat 4 channel yang sudah dipersiapkan yakni Rumah BUMN, Indonesia, Pasar Digital (PaDi), dan BUMN sebagai offtaker," ujar Loto.

Rumah BUMN yang dimaksud kini telah tersebar di 245 kabupaten/kota di berbagai wilayah Indonesia yang menyediakan berbagai program pelatihan dan wadah bagi peningkatan kapasitas usaha dan kompetensi UMKM. Indonesia Mall merupakan official store (toko resmi) yang memfasilitasi UMKM dalam memperluas jaringan penjualan melalui 15 marketplace baik dalam dan luar negeri.

Adapun Pasar Digital (Padi) UMKM bakal mempertemukan UMKM dengan BUMN, sehingga memberikan kesempatan bagi UMKM untuk memperoleh transaksi dari BUMN yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Terakhir upaya yang dilakukan untuk mendorong UMKM yakni keterlibatan BUMN sebagai offtaker produk-produk UMKM yang diyakini mempermudah UMKM dalam menjual produknya.

"Melalui program pemberdayaan UMKM tersebut, diharapkan akan makin mempermudah bagi UMKM dalam memasuki pasar yang lebih luas dan meningkatkan daya saingnya sehingga produknya makin diminati masyarakat," jelasnya.

 

Ekosistem digital

Saat ini salah satu upaya membuat UMKM mampu bertahan adalah mengarahkan mereka untuk bisa beradaptasi di zaman digital. Sehingga, mereka pada gilirannya akan masuk dalam sebuah ekosistem digital.

BRI melalui Rumah BUMN menfasilitasi pelaku UMKM yang ingin meningkatkan kapasitasnya untuk bisa menjadi go modern, go digital, go online, and go global.

Wakil Dirut BRI Catur Budi Harto memaparkan sepanjang 2020, tercatat sebanyak 350 ribu pelaku UMKM yang bernaung di 56 rumah BUMN yang dikelola BRI telah tergabung dalam ekosistem digital. Di tempat itu para pelaku UMKM tersebut diberikan pendampingan (workshop dan coaching) dengan harapan bukan hanya siap secara bisnis dan terpapar digitalisasi, tetapi juga naik kelas dan masuk ke pasar global.

"Kami mendorong agar pelaku UMKM melek teknologi dan mampu menjadi teknopreneur sehingga dapat meningkatkan produktivitas mereka. Pelaku usaha juga mendapatkan pelatihan metode atau cara bagaimana memperluas akses pasar secara online melalui platform Indonesia Mall dan Padi UMKM," ungkap Catur.

Di rumah BUMN, UMKM dikelompokkan berdasarkan kompetensinya agar pelatihan yang diberikan dapat lebih sesuai dengan kondisi setiap UMKM, mulai dari tahap kompetensi tradisional, berkembang, dan modern.

PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina UMKM Academy menargetkan sebanyak 500 UMKM bisa naik kelas setelah selesai merampungkan kepesertaannya dalam program Pertamina UMKM Academy.

VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman dalam program tersebut ialah program percepatan pembinaan UMKM dari mitra binaan Pertamina.

Pertamina memiliki parameter dalam melihat kriteria naik kelas di antaranya jumlah pegawai, peningkatan nilai pinjaman, peningkatan kapasitas produksi, peningkatan omzet, pelibatan masyarakat sekitar untuk menghasilkan produk, pemasaran produk di luar kota/negeri, dan memperoleh sertifikat nasional/internasional.

Lepas dari berbagai upaya yang telah dilakukan BUMN untuk mengembangkan UMKM, tantangan yang ada saat ini ialah penyerapan produk barang dan jasa UMKM oleh BUMN.

Sebab data terakhir pada 2020 menunjukkan bahwa dari total Rp318 triliun nilai pengadaan jasa dan barang kategori UMKM dari BUMN dan kementerian/lembaga, baru terserap 25%. Sebuah angka yang amat tidak menggembirakan. Ini artinya kesempatan untuk menciptakan nilai ekonomi dari gerak UMKM terbuang sia-sia.

Mumpung masih di awal tahun, segera benahi hambatan yang ada agar penyerapan produk UMKM dapat melesat di akhir tahun nanti. Jangan biarkan produk UMKM tidak terserap maksimal seperti tahun lalu. (E-1)

BERITA TERKAIT