14 January 2021, 05:20 WIB

Saatnya Bersinergi agar Mandiri


MI/AGUNG WIBOWO | Fokus

BERBAGAI karya menarik berhasil dibuat civitas akademika. Namun sayang, buah dari proses panjang riset tersebut hanya berujung pada presentasi dan ekshibisi. Jarang sekali yang bisa bersinergi dengan dunia industri agar bisa masuk lini produksi.

Kesenjangan antara dunia riset dan industri ini menjadi salah satu penyebab tertinggalnya Indonesia dengan negara tetangga. Sebesar 42,8% usulan inovasi berasal dari Tiongkok, hal ini berkorelasi dengan kemajuan ekonomi dan industri di negara tersebut, sedangkan Indonesia dalam konteks global innovation index masih kalah dengan Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, bahkan Filipina.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Bambang Brodjonegoro, mengatakan kerja sama inovasi perguruan tinggi dan industri sudah menjadi keharusan saat ini. Penting bagi Indonesia untuk mendukung penelitian dan pengembangan yang kuat.

Menurut Bambang, selama ini masih ada kesenjangan yang lebar di antara keduanya. Baik inovasi di perguruan tinggi maupun industri sama-sama asyik dengan dunianya masing-masing.

"Sering kali inovasi dari perguruan tinggi (prototipe) tidak siap diterapkan industri. Sementara itu, kebutuhan industri tidak terinfokan dengan baik ke perguruan tinggi," ujar Bambang, Jumat (16/10/2020).

Untuk itulah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan beberapa kementerian lain membuat sebuah platform Kedaireka yang nantinya bisa dimanfaatkan pendidikan tinggi dan dunia usaha serta dunia industri berinteraksi intensif untuk menghasilkan produk-produk inovatif.

Di platform Kedaireka, para inventor perguruan tinggi akan memberikan berbagai pilihan solusi bagi permasalahan yang ada di dunia usaha-dunia industri (DUDI) atau usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Perguruan tinggi ditantang menjawab kebutuhan DUDI atau UMKM. Lebih dari itu, penting bagi negara untuk memenuhi setiap kebutuhannya secara mandiri dan tidak bergantung pada bantuan negara lain.

BERITA TERKAIT