14 January 2021, 05:10 WIB

Membenahi Hilir Memikat Dunia Usaha


Syarief Oebaidillah | Fokus

PLATFORM Kedaireka yang diluncurkan pada 12 Desember 2020 diharapkan menjadi wadah kolaborasi inovasi di kalangan perguruan tinggi dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) guna melahirkan karya-karya anak bangsa sebagai solusi dalam berbagai masalah di masyarakat.

Dengan keberadaan platform ini bisa menjadi interaksi dan menajamkan link and match yang selama ini cukup sulit diwujudkan. Untuk memahami keberadaan Kedaireka tersebut
Media Indonesia Syarief Oebaidillah mewawancarai Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud (Ditjen Dikti Kemendikbud) Prof Ir Nizam. Berikut petikannya.

Apa yang melatarbelakangi platform Kedaireka?


Ekonomi Indonesia terus berkembang dan di 2019 menapaki batas bawah sebagai negara berpenghasilan menengah ke atas. Capaian tersebut harus dijaga dan terus ditingkatkan
untuk menjadi negara berpenghasilan tinggi seperti harapan kita semua. Namun, hal tersebut tidak mudah. Ada risiko untuk terperangkap dalam negara berpenghasilan menengah (middle income trap bila kita tidak dapat terus meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan inklusi perekonomian bangsa. Belajar dari negara maju untuk menjadi
negara maju berpenghasilan tinggi, perekonomian Indonesia harus semakin didasarkan pada inovasi (innovation driven economy). Tidak selalu mengandalkan sumber daya alam atau kemelimpahan tenaga kerja semata.

Jadi, melalui platform ini di mana posisi pendidikan tinggi?


Inovasi hanya dapat lahir melalui sumber daya manusia unggul yang kreatif serta riset dan pengembangan.

Lembaga yang menyiapkan SDM unggul sekaligus melakukan riset dan pengembangan ialah perguruan tinggi. Karena itu, perguruan tinggi harus dapat menjadi sumber, mata air
bagi tumbuhnya ekonomi berbasis inovasi tersebut.

Inovasi akan tumbuh dan berkembang apabila invensi dari perguruan tinggi dapat menjawab kebutuhan dunia industri, dunia kerja, dan permasalahan yang ada di masyarakat. Antara perguruan tinggi dan dunia industri, dunia kerja, dan masyarakat harus nyambung.

Penyiapan SDM unggul serta riset di perguruan tinggi harus menjawab permasalahan dan kebutuhan pembangunan. Untuk itu pendorong harus dari hilir, demand driven (sisi pengguna). Riset dengan agenda kebutuhan nyata di industri, bukan dari hulu, melakukan riset dengan agenda sendiri dan kemudian ditawarkan pada industri untuk  menggunakannya.

Jadi perlu jembatan di antara perguruan tinggi dan DUDI?


Iya betul link-and-match harus betul-betul dilakukan. Agar ketersambungan erat huluhilir terjadi, harus ada medianya, dan untuk meng akselerasi reaksi berantai harus ada katalisnya sehingga Kedaireka hadir sebagai media untuk bertemunya insan industri dengan insan perguruan tinggi (dosen dan mahasiswa), dan sebagai katalisnya disiapkan matching fund atau dana pendamping oleh pemerintah.

Melihat ketertinggalan kita dalam kedaulat an teknologi dan kemajuan yang pesat negara lain, kita harus bekerja keras dan berlari kencang. Semangat merah putih untuk membangun kedaulatan teknologi anak bangsa harus terus digelorakan dan dikerjakan.

Langkah apa untuk menarik kalangan DUDI berkolaborasi dengan PT?


Di samping super tax deduction melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 153/PMK.010/2020 yang memberikan pengurangan penghasilan bruto hingga 300% dari jumlah biaya
yang dikeluarkan untuk kegiatan penelitian dan pengembangan

Dengan melalui Kedaireka, akan terbangun ekosistem link-and-match riset dan penyiapan SDM di perguruan tinggi dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Harapannya penelitian di perguruan tinggi akan semakin menjawab kebutuhan di dunia industri dan masyarakat.

Sejauh ini bagaimana kemajuan link and match tersebut?


Sudah banyak permintaan masuk dari industri untuk menyelesaikan masalah-masalah industri yang ditawarkan ke perguruan tinggi. Seperti pengembangan baterai untuk kendaraan
listrik, pengolahan mineral dengan hydro-metallurgy, pengolahan limbah fl y ash dan bottom ash, pengolahan produk pertanian, dan sebagainya.

Sementara dari perguruan tinggi, para inventor, inovator juga sudah banyak menawarkan solusi dan produk inovatifnya. Produk-produk inovatif tersebut juga berpotensi melahirkan
industri baru atau start-up baru yang lahir dari perguruan tinggi di-back-up oleh industri sebagai bagian dari mata rantai pasok industri .


Sejak diluncurkan Kedaireka, bagaimana update, respons pihak terkait?


Respons dari perguruan tinggi dan DUDI sangat menggembirakan. Sampai akhir Desember 2020 dan pekan pertama Januari 2021 telah bergabung lebih dari 5.793 inovator dari 250
perguruan tinggi serta 287 dunia usaha dan dunia industri. Selain itu, sudah lebih dari 250 proposal kemitraan yang diajukan untuk matching fund, dengan komitmen pendanaan
dari industri sekitar Rp100 miliar.

Beberapa proyek kerja sama pemberdayaan masyarakat juga banyak diajukan. Sasaran utamanya adalah Bumdes, yang dapat berdampak pada 100.000 keluarga.

Pihak Dikti menggandeng luar negeri khususnya Jepang, apa alasannya?


Kerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri Jepang terjadi karena kesamaan misi. Kebetulan mereka juga punya program serupa yang disebut INNOV-ation.

Programnya mencari ide gila yang kreatif dari anak muda yang bisa menjadi terobosanterobosan baru.

Ternyata ada kecocokan antara Kedaireka dengan INNOV-ation sehingga bisa saling belajar dan mengisi.

 

Ada kerja sama konkret dengan Jepang?


Peluang kerja samanya sangat luas, bisa berupa ide dan inovasi dari Indonesia dimanfaatkan di Jepang dan sebaliknya. Termasuk kolaborasi untuk proyek bersama. Selain itu,
dosen atau mahasiswa inovator kita bisa berkolaborasi dengan inovator dari Jepang guna mengerjakan suatu proyek bersama. (H-1)

(DUDI) guna melahirkan karya-karya anak bangsa sebagai solusi dalam berbagai masalah di masyarakat.

Dengan keberadaan platform ini bisa menjadi interaksi dan menajamkan link and match yang selama ini cukup sulit diwujudkan. Untuk memahami keberadaan Kedaireka tersebut
Media Indonesia Syarief Oebaidillah mewawancarai Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud (Ditjen Dikti Kemendikbud) Prof Ir Nizam. Berikut petikannya.

Apa yang melatarbelakangi platform Kedaireka?


Ekonomi Indonesia terus berkembang dan di 2019 menapaki batas bawah sebagai negara berpenghasilan menengah ke atas. Capaian tersebut harus dijaga dan terus ditingkatkan
untuk menjadi negara berpenghasilan tinggi seperti harapan kita semua. Namun, hal tersebut tidak mudah. Ada risiko untuk terperangkap dalam negara berpenghasilan menengah (middle income trap bila kita tidak dapat terus meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan inklusi perekonomian bangsa. Belajar dari negara maju untuk menjadi
negara maju berpenghasilan tinggi, perekonomian Indonesia harus semakin didasarkan pada inovasi (innovation driven economy). Tidak selalu mengandalkan sumber daya alam atau kemelimpahan tenaga kerja semata.

Jadi, melalui platform ini di mana posisi pendidikan tinggi?


Inovasi hanya dapat lahir melalui sumber daya manusia unggul yang kreatif serta riset dan pengembangan.

Lembaga yang menyiapkan SDM unggul sekaligus melakukan riset dan pengembangan ialah perguruan tinggi. Karena itu, perguruan tinggi harus dapat menjadi sumber, mata air
bagi tumbuhnya ekonomi berbasis inovasi tersebut.

Inovasi akan tumbuh dan berkembang apabila invensi dari perguruan tinggi dapat menjawab kebutuhan dunia industri, dunia kerja, dan permasalahan yang ada di masyarakat. Antara perguruan tinggi dan dunia industri, dunia kerja, dan masyarakat harus nyambung.

Penyiapan SDM unggul serta riset di perguruan tinggi harus menjawab permasalahan dan kebutuhan pembangunan. Untuk itu pendorong harus dari hilir, demand driven (sisi pengguna). Riset dengan agenda kebutuhan nyata di industri, bukan dari hulu, melakukan riset dengan agenda sendiri dan kemudian ditawarkan pada industri untuk  menggunakannya.

Jadi perlu jembatan di antara perguruan tinggi dan DUDI?


Iya betul link-and-match harus betul-betul dilakukan. Agar ketersambungan erat huluhilir terjadi, harus ada medianya, dan untuk meng akselerasi reaksi berantai harus ada katalisnya sehingga Kedaireka hadir sebagai media untuk bertemunya insan industri dengan insan perguruan tinggi (dosen dan mahasiswa), dan sebagai katalisnya disiapkan matching fund atau dana pendamping oleh pemerintah.

Melihat ketertinggalan kita dalam kedaulat an teknologi dan kemajuan yang pesat negara lain, kita harus bekerja keras dan berlari kencang. Semangat merah putih untuk membangun kedaulatan teknologi anak bangsa harus terus digelorakan dan dikerjakan.

Langkah apa untuk menarik kalangan DUDI berkolaborasi dengan PT?


Di samping super tax deduction melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 153/PMK.010/2020 yang memberikan pengurangan penghasilan bruto hingga 300% dari jumlah biaya
yang dikeluarkan untuk kegiatan penelitian dan pengembangan

Dengan melalui Kedaireka, akan terbangun ekosistem link-and-match riset dan penyiapan SDM di perguruan tinggi dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Harapannya penelitian di perguruan tinggi akan semakin menjawab kebutuhan di dunia industri dan masyarakat.

Sejauh ini bagaimana kemajuan link and match tersebut?


Sudah banyak permintaan masuk dari industri untuk menyelesaikan masalah-masalah industri yang ditawarkan ke perguruan tinggi. Seperti pengembangan baterai untuk kendaraan
listrik, pengolahan mineral dengan hydro-metallurgy, pengolahan limbah fl y ash dan bottom ash, pengolahan produk pertanian, dan sebagainya.

Sementara dari perguruan tinggi, para inventor, inovator juga sudah banyak menawarkan solusi dan produk inovatifnya. Produk-produk inovatif tersebut juga berpotensi melahirkan
industri baru atau start-up baru yang lahir dari perguruan tinggi di-back-up oleh industri sebagai bagian dari mata rantai pasok industri .


Sejak diluncurkan Kedaireka, bagaimana update, respons pihak terkait?


Respons dari perguruan tinggi dan DUDI sangat menggembirakan. Sampai akhir Desember 2020 dan pekan pertama Januari 2021 telah bergabung lebih dari 5.793 inovator dari 250
perguruan tinggi serta 287 dunia usaha dan dunia industri. Selain itu, sudah lebih dari 250 proposal kemitraan yang diajukan untuk matching fund, dengan komitmen pendanaan
dari industri sekitar Rp100 miliar.

Beberapa proyek kerja sama pemberdayaan masyarakat juga banyak diajukan. Sasaran utamanya adalah Bumdes, yang dapat berdampak pada 100.000 keluarga.

Pihak Dikti menggandeng luar negeri khususnya Jepang, apa alasannya?


Kerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri Jepang terjadi karena kesamaan misi. Kebetulan mereka juga punya program serupa yang disebut INNOV-ation.

Programnya mencari ide gila yang kreatif dari anak muda yang bisa menjadi terobosanterobosan baru.

Ternyata ada kecocokan antara Kedaireka dengan INNOV-ation sehingga bisa saling belajar dan mengisi.

 

Ada kerja sama konkret dengan Jepang?


Peluang kerja samanya sangat luas, bisa berupa ide dan inovasi dari Indonesia dimanfaatkan di Jepang dan sebaliknya. Termasuk kolaborasi untuk proyek bersama. Selain itu,
dosen atau mahasiswa inovator kita bisa berkolaborasi dengan inovator dari Jepang guna mengerjakan suatu proyek bersama. (H-1)

BERITA TERKAIT