13 January 2021, 00:00 WIB

Lembutan, Andalan saat Pabrik Melempem


Tosiani | Fokus

NOOR Ahsan, 30, menghitung pasokan tembakau lembutan yang baru ia terima. Di kiosnya, di kawasan selatan Alun-Alun Kota Temanggung, ia menata beragam jenis tembakau rajangan kecil itu ke dalam stoples-stoples kecil.

Kios Noor Ahsan baru beroperasi sepekan lebih. "Saya ingin mengembangkan usaha tembakau lembutan," ujar pria asal Dusun Lamuk, Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, itu.

Sebelumnya, Noor memasarkan tembakau lembutan secara daring. Sebagian tembakau itu berasal dari kebunnya sendiri, yang luasnya mencapai 2 hektare. Kebun itu menghasilkan 600-700 kilogram tembakau setiap panen.

Biasanya ia menjual tembakau rajangan ke dua pabrik besar, yakni Djarum dan Gudang Garam. Namun, setiap panen, Noor juga menyisakan sekitar 100 kilogram untuk dirajang halus dan disimpan sebagai lembutan.

Lembutan biasanya dicampurkan dengan cengkih dan aneka rempah sebagai saus. Para perokok kemudian mengisapnya sebagai rokok lintingan. Lembutan biasa digunakan sendiri atau disuguhkan saat tamu datang. Noor juga memanfaatkannya untuk oleh-oleh bagi tamu atau saat ia pergi ke daerah lain.

"Tahun ini, 60% hasil panen saya proses menjadi lembutan. Bukan semata bisnis, tapi ikut menyelamatkan tradisi rokok lintingan yang sudah turun-temurun," tambahnya.

Lembutan untuk rokok lintingan sudah lama diproduksi petani tembakau di Temanggung. Namun, keberadaannya menguat saat serapan tembakau oleh pabrik besar melemah. Kalau diurutkan, penyebabnya ialah regulasi cukai rokok dan pertembakauan yang tidak menguntungkan petani.

Di tangan petani dan pedagang tembakau lembutan, produk itu dikembangkan menjadi sejumlah varian, yakni tembakau iris, cangklong, rope, senuf, dan snud. Meski semula hanya dipasarkan secara daring, produksi lembutan Ahsan diminati banyak orang sehingga bisnisnya terus berkembang.

 

Digemari anak muda

Tren lembutan terus tumbuh di Temanggung. Saat ini, ada sedikitnya delapan kios lembutan baru yang muncul di dalam kota, menambah semarak kios penjual lembutan yang sudah lama ada.

Ketika Noor Ahsan ialah petani tembakau yang membuka kios, Prihatin, 55, pemilik kios di Jalan Jenderal Sudirman, bukan petani. Ia menjalankan kios milik anaknya, seorang pekerja tambang. "Persiapan anak jika sudah tidak bekerja di tambang batu bara," lanjutnya.

Usaha kios lembutan dimulai dengan modal Rp10 juta. Prihatin tidak perlu menyewa kios karena sudah punya sendiri.

Ia menjual 35 jenis lembutan yang berasal dari desa-desa di Temanggung. Harganya jualnya bervariasi antara Rp22 ribu dan Rp60 ribu per ons. "Ke depan, kami sudah punya rencana pengembangan bisnis. Kami akan memasok tembakau dendeng ke Vietnam. Untuk lembutan, kami akan mengirim ke Bandung dan Kalimantan," tandasnya.

Lembutan dan rokok lintingan juga mulai disukai anak muda. Dwi Riswanto, 24, penjaga kios di Jalan Jenderal Sudirman, mengakui adanya tren anak muda mulai beralih dari rokok pabrikan ke lintingan.

"Pembeli yang datang ke kios kami mulai banyak dari kalangan anak muda. Per bulan, kami bisa menjual 4-5 kilogram lembutan. Itu termasuk tinggi," ungkapnya.

Tembakau yang paling diminati ialah yang rasanya ringan dan wangi, di antaranya jenis dayan cungkup. Kios itu menjual 35 jenis lembutan dari 35 desa. Harga terendah dari jenis ngroto senilai Rp20 ribu per ons dan termahal jenis semayit dan srinthil yang dibanderol Rp60 ribu per ons.

Nizar, 35, punya cara lain untuk memasarkan lembutan. Sehari-hari, ia mengelola Kedai Kopi Bejo. Di setiap meja, ia menyediakan rokok lintingan gratis.

Konsumennya kebanyakan anak muda. Jika tertarik, mereka akan membeli bahan lembutan jenis lamsi, yang disediakan Nizar. Harga lembutan dari Gunung Sumbing itu Rp35 ribu-Rp50 ribu per ons.

Rokok lintingan disukai karena lebih hemat. "Rokok pabrik dijual Rp20 ribu-Rp30 ribu per bungkus. Sehari saya bisa habis dua bungkus. Dengan rokok lintingan, saya bisa belanja Rp50 ribu untuk satu minggu," ungkap Agung, 24, yang beralih ke lintingan sejak setahun lalu.

Selain murah, Safi, 30, pemuda lain, meyakini risiko rokok lintingan untuk kesehatan lebih kecil daripada rokok pabrik. "Nglinting bareng teman-teman itu ada sensasi tersendiri. Sejak kenal lintingan dua tahun lalu, saya merasa mapan di lintingan."

 

Tradisi petani tembakau

Lembutan, seperti dituturkan pakarnya, Tri Supono, merupakan rajangan tembakau berbentuk kecil dan tipis. Ada beberapa jenis tembakau rajangan di Temanggung, yakni lembutan, pegon atau tembakau rajangan ukuran sedang, dan dowal, tembakau rajangan ukuran besar. Istilah itu dipopulerkan penduduk Gunung Sumbing.

Perokok lintingan itu menyatakan di kampung halamannya di lereng Gunung Sumbing sisi Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, merokok lintingan ialah tradisi. Selain sebagian besar warga daerah itu memang petani tembakau, merokok lintingan membuat mereka tidak lekas bosan.

Biasanya warga bertukar tembakau lembutan dengan tetangga dan teman untuk mencoba berbagai rasa dan aroma. Tiap lahan di daerah berbeda memiliki kekhasan masing-masing.

Tri Supono juga menanam tembakau pada lahan seluas 0,5 hektare. Tiap kali panen ia biasa menyisakan sekitar 100 kg tembakau yang dirajang halus menjadi lembutan untuk dikonsumsi sendiri. "Melinting enggak bisa bosan karena bisa gonta-ganti tembakau," tambahnya.

Lembutan bisa dibedakan ke beberapa jenis, yakni lamsi, towalo, tionggang, paksi, dan swambi. Jenis itu berdasarkan nama desa atau dusun di Temanggung.

Pemerintah Kabupaten Temanggung juga merespons tren lintingan itu. Pada 2019, misalnya, mereka menggelar festival lembutan di Kecamatan Bansari, lereng Gunung Sindoro.

Festival diikuti 100 produsen tembakau lembutan. Selain merawat tradisi merokok lintingan, festival diharapkan bisa menjadi potensi wisata. (Tosiani/N-3)

BERITA TERKAIT