02 December 2020, 05:35 WIB

Memaksimalkan Dana Pelatnas


Rifaldi Putra Irianto | Fokus

SETIAP cabang olahraga memiliki program pemusatan latihan nasional (pelatnas) untuk mempersiapkan atletnya mengikuti sejumlah turnamen. Misalnya, untuk ikut kejuaraan level internasional seperti Olimpiade, Sea Games, dan ajang lainnya.

Bukan hal yang asing, bila induk cabang membutuhkan anggaran untuk bisa menggelar pelatnas. Lebih seringnya, mereka mendapatkan bantuan dana dari pemerintah. Namun, tidak jarang juga yang didapat dari pemerintah tidaklah memenuhi harapan dan itu menjadi alasan mengapa potensi atlet tidak bisa dimaksimalkan. Ujung-ujungnya, prestasi Indonesia di dunia internasional kurang membanggakan.

Sejak awal tahun ini, pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) kembali menyalurkan anggaran ke sejumlah induk cabang yang akan mengirimkan wakilnya ke Olimpiade tahun depan. Mulai cabang atletik, panahan, bulu tangkis, hingga judo telah menandatangani kesepakatan dengan Kemenpora.

Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) misalnya, telah mengajukan proposal bantuan dana kepada Kemenpora dan berharap mereka mendapat Rp6,2 miliar. Setelah ditinjau, Kemenpora memberikan Rp6,1 miliar.

Meski tidak sesuai harapan, Sekretaris Jenderal PASI Tigor Tanjung menyebutkan pihaknya langsung tancap gas untuk menjalankan pelatnas. "Seperti diketahui, dana dari Kemenpora selalu berdasarkan proposal yang disepakati dan telah ditentukan pos pengeluarannya yang berlaku sama untuk semua cabor," sebut Tigor dalam keterangan resminya, Jakarta, Minggu (29/11).

"Kita langsung menggunakannya sesuai dengan pos pengeluaran, terdapat di situ honor atlet, pelatih, dan tim pendukung, akomodasi, peralatan, dan obat-obatan penunjang seperti suplemen," sambungnya.

Saat ditanya apakah selisih dana bantuan yang disalurkan pemerintah berdampak signifikan untuk program pelatnas, Tigor mengaku pihaknya langsung melakukan penyesuaian pengeluaran sesuai dengan anggaran yang dikucurkan pemerintah. "Itu hal biasa (selisih dana bantuan), tentunya terjadi penyesuaian setelah pertemuan klarifikasi dan pembahasan detail tentang proposal," tuturnya.

Jika melihat data yang ada, sejatinya ini bukan kali pertama PASI menerima dana bantuan yang kurang dari kebutuhan. Pada 2018, PASI pernah mengajukan dana senilai Rp33,4 miliar, tetapi hanya disetujui pemerintah sebesar Rp9,9 miliar.

Tahun lalu, untuk mempersiapkan pelatnas untuk SEA Games 2019 dan kualifikasi Olimpiade 2020, PASI hanya menerima kucuran dana sebesar Rp7,7 miliar dari usulan sebesar Rp20 miliar.

"Yang pasti, kami akan melaksanakan pertanggungjawaban keuangan ini dengan sebaik-baiknya, jadi betul-betul kami pegang dan akan kami lakukan prosedur keuangan yang benar," sebutnya.

 

Hapus agenda latihan

Ketua Umum Persatuan Panahan Seluruh Indonesia (Perpani) Illiza Sa'aduddin Djamal menegaskan akan memaksimalkan dana pelatnas dari Kemenpora untuk meraih hasil maksimal di Olimpiade 2020. Saat ini pelatnas yang sudah berjalan sejak Agustus lalu terus berjalan.

Indonesia saat ini sudah memiliki dua tiket masuk Olimpiade. Hanif Wijaya dan Hendra Purnama diproyeksikan berkompetisi di nomor putra, sedangkan untuk putri yang dipersiapkan adalah Rezza Octavia dan Dela Berliana.

Untuk bisa memantapkan persiapan menuju Olimpiade, Perpani tahun ini mengusulkan anggaran Rp8 miliar. Namun, setelah dilakukan peninjauan proposal, dana yang disetujui Kemenpora untuk dicairkan hanya sebesar Rp3,9 miliar. Dana itu mencakup untuk delapan atlet, tiga pelatih, dan enam tenaga pendukung.

Saat ini, para atlet menjalani latihan di Lapangan Paintball, Yogyakarta. Latihan itu tetap digelar di tengah absennya berbagai kejuaraan panahan akibat pandemi covid-19. Selain latihan rutin, para pemanah nasional juga menjalani uji tanding dengan atlet-atlet asal Yogyakarta.

"Kami maksimalkan dana pelatnas. Dalam kondisi seperti ini, kita harus memenuhi protokol kesehatan semua, baik dari sisi penginapan maupun tranportasinya ke lokasi," kata Illiza saat dihubungi Media Indonesia.

Dengan dana yang ada, Perpani pun menghapus agenda uji coba ke luar negeri. Illiza mengatakan untuk uji coba hanya di dalam negeri.

"Ya, saat ini yang bisa kami lakukan ialah berupaya memaksimalkan latihan dan pertandingan internal di dalam negeri," ujar Illiza yang juga mengatakan bahwa anggaran juga dipakai untuk beli peralatan.

 

Realistis

Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora Chandra Bhakti mengungkapkan dana bantuan yang diberikan oleh pemerintah selama ini digunakan untuk menjalankan pembinaan prestasi jangka panjang para atlet yang akan tampil di kejuaraan multinasional.

Untuk bisa menerima dana bantuan dari pemerintah, setiap induk cabang harus mengajukan permohonan ke Kemenpora. Setelah itu, ditinjau tidak hanya oleh Kemenpora, juga akademisi, dan praktisi.

"Ya, indikator penilaiannya, kita harus realistis dalam memberikan bantuan, misalnya kita lihat programnya seperti apa, kemudian, tenaganya atau SDM (sumber daya manusia) seperti apa," terang Chandra.

"Misal dari atlet, kita lihat sesungguhnya yang diajukan ini apa betul atlet yang memang layak untuk dipersiapkan oleh mereka pada multiajang. Nah, hal ini bisa kita lihat dari faktor usia, dari faktor prestasi atletnya juga kita lihat," imbuhnya.

Program-program yang dibuat oleh induk cabang juga ikut ditinjau. Menurut Chandra, dengan adanya pandemi, pasti rencana latihan di luar negeri sulit dilakukan.

"Masak lagi pandemi mau ke luar negeri. Padahal, mungkin saja negera tujuannya sedang lockdown. Indikator-indikator tadilah yang membuat pemerintah melakukan efisiensi anggaran dan tidak menggulirkan dana 100% dari yang diajukan," jelas Chandra.

Chandra mengakui bahwa memang anggaran Kemenpora berkurang akibat adanya pandemi. Namun, hal-hal yang masuk kategori prioritas, menurut dia, tidak dikurangi pendanaannya. "Uang pelatnas juga tidak berpengaruh," tegas dia.

Chandra pun berpesan kepada induk cabang agar menggunakan dana yang sudah diberikan sebaik mungkin dan diharapkan pelatnas saat ini bergulir dengan menerapkan protokol kesehatan. (Mal/R-3)

BERITA TERKAIT