04 November 2020, 01:30 WIB

Macron Picu Kemarahan Muslim, Menuai Boikot Produk


Faustinus Nua |

PRESIDEN Prancis Emmanuel Macron baru-baru ini menuai kecaman dari umat muslim di dunia karena mengaitkan Islam dengan terorisme. Pernyataan itu dilontarkan terkait dengan insiden pemenggalan seorang guru bernama Samuel Paty oleh pemuda 18 tahun asal Chechnya setelah menunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada muridnya.

Akibat ucapan Macron itu, muncul seruan boikot produk Prancis.

Tindakan Marcon mendapat kecaman keras dari Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Recep Tayyip Erdogan dalam pidatonya bahkan menyebut bahwa Presiden Prancis itu membutuhkan perawatan pada tingkat mental, Sabtu (24/10).

Imbas dari ucapan Emmanuel Macron tersebut, Erdogan meminta kepada seluruh rakyat Turki untuk tidak membeli barang-barang dari produk Prancis.

"Pernyataan Emmanuel Macron tentang 'Islam dalam krisis' di kota mayoritas muslim telah melampaui rasa tidak hormat dan merupakan provokasi yang jelas," kata Erdogan.

"Seorang Presiden Prancis membuat pernyataan yang mendesak restrukturisasi Islam adalah tidak sopan," ujarnya menambahkan.

Erdogan pun mendesak Macron untuk bertindak seperti negarawan yang bertanggung jawab daripada berpura-pura menjadi gubernur kolonial. "Di banyak negara Barat, rasialisme dan islamofobia dilindungi negara itu sendiri," ujar Presiden Turki.

Setelah muncul seruan-seruan itu, Macron lalu mengeluarkan pernyataan terbaru. Dalam cicitannya yang menggunakan bahasa Arab, Macron menjelaskan maksud dari ucapannya.

Ia mengaku tidak mendukung gambar kartun yang ditampilkan Samuel Paty. Namun, ia mengaku hanya ingin mendukung kebebasan berpendapat dan menggambar yang dimiliki seluruh warga Prancis.

"Mereka menyebut bahwa saya mendukung kartun yang menghina Nabi (Muhammad). Saya hanya mendukung kemampuan menulis, berpikir, dan menggambar dengan bebas di negara saya. Ini adalah hak dan kebebasan kami," tulis Macron dikutip Minggu (1/11).

"Saya menyadari ini (kartun) bisa menimbulkan kemarahan (umat Islam) dan saya menghormatinya, tetapi kita harus membicarakannya," imbuhnya.

Macron juga menegaskan, Prancis tidak pernah punya masalah dengan agama apa pun. Ia memastikan, semua agama bisa dipraktikkan dengan bebas di negara Eiffel itu.

"Semua agama ini dipraktikkan dengan bebas di negara ini. Tidak ada stigmatisasi khusus. Prancis berkomitmen menjaga perdamaian dan hidup berdampingan bersama," tuturnya.

Kasus tersebut bermula ketika Macron berjanji melawan 'separatisme kelompok Islam' yang disebut mengancam mengambil alih kendali di beberapa komunitas muslim di sekitar Prancis.

Dia juga menggambarkan Islam sebagai sebuah agama yang sedang dalam krisis di seluruh dunia dan mengatakan pemerintahnya akan mengajukan RUU pada Desember untuk memperkuat UU 1905 yang secara resmi memisahkan gereja dan negara.

Ditambah dukungan terhadap majalah yang menerbitkan karikatur Nabi Muhammad, memicu kampanye di media sosial menyerukan boikot produk Prancis dari supermarket di negara-negara Arab dan Turki.

 

Kebebasan berekspresi ada batasnya

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeauikut angkat bicara terkait dengan pernyataan Presiden PrancisEmmanuel Macron.

Trudeau mengungkapkan pihaknya menjunjung kebebasan, tetapi dia menegaskan tetap ada batasannya.

"Kami selalu mendukung kebebasan untuk berekspresi, tetapi kebebasan itu bukannya tanpa ada batasan," ujarnya kepadaAFP.

"Kami berutang pada diri sendiri untuk bertindak dengan menghormati orang lain dan berusaha tidak sewenang-wenang atau melukai semua yang berbagi masyarakat dan planet dengan kita," tambah Trudeau.

Meski mengkritik pernyataan Macron, Trudeau menegaskan tak setuju dengan tindakan kekerasan di Prancis.

"Hal itu tak bisa dibenarkan dan Kanada dengan sepenuh hati mengutuk aksi tersebut bersama rekan kami, Prancis, yang harus melalui masa-masa sulit," tambahnya.

Prancis telah dilanda serangan ekstremis selama beberapa dekade terakhir di bawah para pemimpin di seluruh spektrum politik, tetapi PresidenEmmanuel Macron yangsentrisialah target yang sangat populer.Para pengunjuk rasa membakar potretnya atau menginjaknya pada protes di banyak negara minggu ini.

Itu sebagian karena undang-undang yang direncanakan Macron untuk menindak fundamentalis Islam yang menurutnya membuat beberapa komunitas menentang negara dan mengancam pilar masyarakat Prancis, termasuk sekolah.

Setelah serangan ekstremis baru-baru ini, pemerintahnya mengusir umat Islam yang dituduh menyebarkan intoleransi dan menutup kelompok-kelompok yang dianggap merusak hukum atau norma Prancis.

Miguel Angel Moratinos, kepala badan antiekstremisme Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyatakan keprihatinan yang mendalam atas pertikaian yang terus meningkat sambil mengutuk karikatur yang menghasut dan memprovokasi tindakan kekerasan terhadap warga sipil tak berdosa yang diserang karena agama mereka, kepercayaan, atau etnik.

Moratinos memperingatkan agar tidak menghina agama dan mendesak saling menghormati dalam masyarakat Prancis. Ini merupakan jenis yang harus sesuai denganlaicite,sekularismeversi Prancis. Ini dimaksudkan untuk melindungi agama, seperti banyak undang-undang Prancis yang berfokus pada pemberantasan kejahatan rasial. (AFP/Aljazeera/The Independent/I-1)

BERITA TERKAIT