16 April 2023, 21:45 WIB

Jelang Perhelatan Hannover Messe 2023, Indonesia Amankan Investasi US$2 Miliar


Fetry Wuryasti |

MENJELANG rangkaian perhelatan pameran teknologi industri Hannover Messe 2023 di Hannover, Jerman 17-21 April, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, telah terjadi penandandatanganan kontrak Business to Business (B to B) senilai US$2 miliar (Rp29,56 triliun, kurs Rp14.782,55).

"Setelah Hannover Messe 2023, dibuka pada 16 April 2023, terus menerus akan ada kerja sama investasi dari perusahaan-perusahaan yang masuk ke Indonesia," kata Agus dalam keterangan pers yang diterima, Minggu (16/4).

Indonesia merupakan satu-satunya negara di dunia yang pernah tiga kali menjadi Official Partner Country Hannover Messe, dan dua kali menjadi partner country dalam dalam tiga tahun berturut-turut.

Baca juga : Dipercaya Menjadi Official Partner Country, Indonesia Optimalkan Hannover Messe

"Deutsche Messe AG (DMAG) kembali memilih Indonesia sekali lagi untuk Hannover Messe 2023. Ini tidak boleh disia-siakan. Keberadaan sebagai negara mitra harus kita gunakan sebaik-baiknya," kata Agus.

Di sela-sela kegiatan, dalam pertemuan dengan para pelajar dan diaspora asal Indonesia di Berlin, Agus menyampaikan perkembangan terkini dari sektor industri di Indonesia.

Baca juga : Promosi Gaungkan Indonesia Partner Country Hannover Messe 2023

Dia katakan kinerja industri cukup menggembirakan, ditunjukkan dengan Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur yang sudah selama 16 bulan berturut-turut di atas 50 poin.

"Terakhir, naik dari 51,2 di Februari 2023 menjadi 51,9 pada Maret 2023. Hal ini menunjukkan bahwa confidence pelaku industri manufaktur cukup tinggi,” jelas Agus.

Seperti disampaikan oleh Menko Perekonomian di forum yang sama, ekspor manufaktur mencapai US$206 miliar (Rp Rp3045,2 triliun) dan berkontribusi 70% dari total ekspor Indonesia.

Penyerapan tenaga kerja di sektor ini juga sudah kembali normal, bahkan lebih tinggi dari sebelum pandemi Covid-19. Berangkat dari kinerja sektor manufaktur yang baik, Indonesia juga cukup serius dalam mengakselerasi kendaraan listrik/ electric vehicle (EV).

Pemerintah menerbitkan berbagai macam kebijakan yang diharapkan dapat mengakselerasi pembangunan ekosistem EV.

"Di antaranya, pemberian bantuan pembelian motor listrik bagi para pelaku IKM dan UMKM agar manfaat yang diberikan menjadi produktif,” papar Agus.

Terkait kondisi beberapa subsektor manufaktur yang masih tertekan seperti industri tekstil dan produk tekstil (TPT), Menperin menjelaskan adanya pengaruh pasar yang sedang lemah, termasuk pasar Eropa.

Hal ini menempatkan perusahaan industri dalam posisi yang berat. Namun, hasil survei Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang dilakukan oleh Kemenperin menunjukkan bahwa industri TPT sudah mulai rebound dalam tiga hingga empat bulan terakhir, mendekati level 50.

Selanjutnya, Menperin menyampaikan bahwa Kemenperin fokus mengawal peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN) untuk menjaga industri dalam negeri.

Prinsip ini juga diterapkan dalam menjalin hubungan kerja sama dengan negara-negara lain, termasuk perundingan Indonesia European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA).

"Kami mendukung pelaksanaan perjanjian yang juga didesain untuk menjaga daya saing sektor industri di Indonesia," kata Agus. (Z-5)

BERITA TERKAIT