26 January 2023, 11:49 WIB

Rantai Pasok Dialihkan, Negara Berkembang Bakal Jadi Primadona di 2023


Fetry Wuryasti |

SEJAUH ini negara-negara berkembang tampaknya masih akan menjadi pemenang pada 2023. Hal tersebut diamini Lembaga Keuangan Morgan Stanley yang mengatakan ada penarikan investasi dari Amerika untuk menambah eksposur mereka di pasar negara berkembang.

"Saham-saham di negara berkembang masih terlihat memiliki valuasi yang menarik, dan perekonomian India tumbuh lebih baik dari Amerika," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Indonesia Maximilianus Nico Demus, Kamis (26/1).

Indeks pasar negara berkembang MSCI pun mendukung hal tersebut dengan naik sebanyak 8,6%, dibandingkan dengan 4,7% dengan benchmark di Amerika.

Sejauh ini masih banyak yang menganggap bahwa pasar saham di Amerika masih sangat mahal. Di sisi lain, perdagangan di pasar negara berkembang menawarkan diskon hampir 30%.

Negara-negara berkembang rata-rata diperkirakan akan tumbuh sebesar 4,1% pada 2023 dan 4,4% pada 2024. Hal itu berbanding terbalik, dengan proyeksi pertumbuhan Amerika yang hanya tumbuh 0,5% pada 2023 dan 1,2% pada 2024.

Sejauh ini dana obligasi dan pasar saham negara berkembang terus mencatatkan capital inflow sebesar US$12,7 miliar dalam sepekan hingga per 18 Januari 2023.

Seiring dengan penambahan tersebut, tercatat adanya capital outflow dari pasar Amerika sebesar US$5,8 miliar. Saat ini India juga akan menjadi mercusuar, tatkala Tiongkok masih berjibaku dengan covid-19.

Terlebih, apa yang tidak berhasil bagi Tiongkok ternyata berhasil untuk India. Tiongkok menghadapi badai deglobalisasi yang mendorong terjadinya pengalihan rantai pasokan. Namun ini ternyata justru menguntungkan negara-negara seperti Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Meksiko.

"Pengalihan rantai pasokan ini justru menciptakan kebangkitan manufaktur dan investasi langsung di negara-negara berkembang. Hal ini yang semakin membuat kami yakin, bahwa negara berkembang akan menjadi pemimpin tahun ini," kata Nico.

Sementara itu, di tengah perlambatan dan penurunan inflasi di negara-negara besar dalam beberapa bulan terakhir, hal itu ternyata tidak menular kepada inflasi di Australia.

Data inflasi Australia justru melesat cukup besar, dari 7,3% menjadi 7,8%. Ini merupakan inflasi dengan laju tercepat dalam kurun waktu 32 tahun terakhir.

Alhasil, Bank Sentral Australia tampaknya harus menaikkan tingkat suku bunga kembali dengan lebih cepat, dan mungkin lebih besar dari sebelumnya. Rasa khawatir langsung merebak di pasar, dengan naiknya imbal hasil obligasi sebagai bagian dari respons rasa khawatir terhadap tingkat suku bunga akan naik.

Saat ini, inflasi Australia masih bergerak terus naik, dan belum ada tanda akan ada penurunan. Bank Sentral Australia memang belum agresif seperti bank sentral lain.

Australia tidak agresif menaikkan tingkat suku bunga karena mereka merupakan salah satu negara dengan pinjaman rumah tangga terbesar di dunia. Otomatis ketika tingkat suku bunga naik, beban akan bertambah, menciptakan situasi dan kondisi potensi gagal bayar bagi rumah tangga.

Hal ini menjadi perhatian Bank Sentral Australia dalam menaikkan tingkat suku bunga. Bank Sentral juga harus menjaga antara pertumbuhan dengan risiko terjadinya resesi yang potensinya sangat besar.

Oleh karena itu, meski inflasi naik pasar masih menyakini Bank Sentral Australia akan berhati-hati dalam menaikkan tingkat suku bunga.

Ada potensi kenaikan 25 bps kemungkinan besar akan terjadi pada pertemuan yang akan diadakan pada Februari. Inflasi sejauh ini masih didominasi oleh harga komoditas yang masih tinggi pada bahan bakar dan biaya konstruksi, ditambah dengan cuaca ekstrim yang memberikan dampak pada pasokan makanan.

Inflasi inti Australia secara kuartalan naik dari proyeksi yang hanya berkisar 6,5% menjadi 6,8% pada kuartal terakhir tahun lalu. Tidak hanya karena tingginya harga bahan bakar, namun komponen jasa juga berkontribusi pada kenaikan inflasi secara tahunan terbesar sejak 2009.

"Oleh karena itu, kami yakin, Bank Sentral Australia akan kembali untuk membawa inflasi kembali kepada target di kisaran 2% - 3%," tutup Nico. (E-3)

BERITA TERKAIT