25 January 2023, 11:17 WIB

Bisnis Data Center Memiliki Ruang Besar untuk Tumbuh di Indonesia


 Fetry Wuryasti |

INDUSTRI teknologi saat ini diramaikan dengan berkembangnya bisnis data center dan diperkirakan ke depannya akan semakin masif seiring dengan adaptasi ekonomi digital saat ini.

Structure Research memperkirakan bahwa valuasi bisnis data center di Jakarta mencapai USD 938 juta pada 2027.

Kalau dilihat dari pelaku industri pusat data di Indonesia didominasi oleh pelaku bisnis lokal seperti BUMN seperti TLKM serta swasta seperti Salim dan DCI Indonesia.

"Secara potensi kami lihat memang terus berkembang seiring dengan kenaikan pengguna internet dan bisnis pusat data," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Indonesia Maximilianus Nico Demus, Rabu (25/1).

Ruang untuk tumbuh bagi data center Indonesia cukup besar ke depan, yang saat ini baru mencapai sebesar 0,6 watt per kapita atau secara agregat sebesar 167 megawatt.

Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan Jepang yang populasi penduduknya 126 juta jiwa dengan memiliki kapasitas data center terpasang sebesar 15 watt per kapita.

Baca juga: Indosat Business  Luncurkan Platform Analisa Data

Mengingat pengguna internet Indonesia saat ini sudah mencapai 73,7%, industri teknologi khususnya data center memiliki prospek yang baik ke depan.

Keseriusan pemerintah juga dibuktikan dengan 4 pusat data di beberapa lokasi di Indonesia termasuk di Batam, yang menjadi salah satu wilayah yang memiliki potensi.

Sebab Singapura sedang moratorium untuk membangun pusat data baru. Lokasi Batam juga strategis karena selat Malaka memiliki banyak jaringan kabel optik.

Tak hanya itu, Ibu Kota Negara (IKN) juga nantinya berpotensi memiliki pusat data center hanya dalam jangka waktu panjang.

Terkait dengan pusat data, TLKM Indonesia saat ini menggarap proyek Hyperscale Data Center (HDC) yang berlokasi di Cikarang di mana berkapasitas IT Load 1,75 megawatt. TLKM juga akan menambah kapasitas HDC itu dan akan terus dikembangkan.

Proyek tersebut mulai dibangun pada Desember 2022, dengan di nilai investasi tahap awal sebesar USD 198 juta atau setara dengan Rp 3,08 triliun di Batam, Kepulauan Riau.

Perusahaan teknologi asing seperti Alibaba pun sudah memiliki 3 data center di Indonesia dan menjadi pioneer yang mengembangkan data center di Indonesia yang awal diluncurkan pada 2018.

Di tengah masifnya pembangunan pusat data center, ada yang krusial dari sisi keamanan data. Sistem keamanan data yang dilakukan yaitu dengan server crash, dan adanya backup data dan di aplikasi data center BP Batam, perlu perlu dilakukan pemulihan seiring dengan adanya pengembangan infrastruktur. Sehingga, kerjasama menjadi salah satu strategi untuk memperkuat kemanan tersebut.

"Lainnya yang juga penting yaitu tingkat efisiensi dalam hal penggunaan energi. Sehingga, energi berbasis ramah lingkungan pada industri data center ini bukan tidak mungkin untuk diadaptasi dan dikembangkan.

"Kami memandang bahwa secara jangka menengah hingga panjang, sektor data center akan cukup masif ke depan, mengingat ekonomi digital yang terus ditekankan serta penetrasi internet di Indonesia yang cukup besar," kata Nico.

Hal ini juga yang mendorong banyak stakeholder mulai dari pemerintah hingga swasta.

Dengan pemain telekomunikasi yang banyak mulai fokus membangun infrastruktur menandakan bahwa industri ini potensial ke depannya dan prospek adanya lini bisnis baru terkait segmen data center bukan tidak mungkin.

Pada saat yang sama, 2030 diperkirakan Indonesia membutuhkan minimal sekitar 1,2 GW yang tak lepas dari kebutuhan dan permintaan yang kian meningkat.

"Hal ini pun yang kami lihat akan berpotensi terbentuknya ekosistem data center ke depannya," kata Nico. (Try/OL-09)

BERITA TERKAIT