24 January 2023, 08:10 WIB

Memetakan Potensi Perekonomian Rakyat di Merauke


Dr Eng Nur Budi Mulyono Kelompok Keahlian Manajemen Operasi dan Kinerja SBM ITB |

PAPUA merupakan provinsi yang memiliki jarak paling jauh dari ibu kota negara, DKI Jakarta. Jaraknya kurang lebih 4.363 kilometer. Pengawasan dan pembangunan oleh pemerintah di wilayah Papua, termasuk di Merauke yang belum lama ini ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Papua Selatan, masih belum maksimal. Kondisi tersebut tentunya harus dibarengi dengan upaya bottom-up dari masyarakat setempat demi kemajuan perekonomian daerahnya.

Pun, merupakan tugas institusi seperti universitas atau lembaga riset untuk bisa mempercepat proses pertumbuhan ekonomi ini. Oleh karena itu, Tim Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Tim Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB melakukan survei dan berbincang dengan pihak-pihak di Merauke untuk menilai kondisi aktual, juga mengidentifikasi potensi-potensi peningkatan ekonomi yang dapat dilakukan.

Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan Tim SBM ITB pertama kali ini untuk memetakan pelaku usaha dan institusi atau pihak-pihak yang berperan dalam pergerakan ekonomi di Merauke. Dari sini selanjutnya bisa dipetakan kemungkinan peningkatan efektivitas dan efisiensi dari alur rantai pasok yang ada.

Kunjungan lapangan dilakukan pada pekan pertama Agustus 2022 lalu. Dalam kunjungan itu, tim menemui pihak Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) setempat setelah sebelumnya bertamu ke Kantor Bupati Merauke. Kepala Disperindagkop Merauke Eric C Rmulus mengajak rombongan Tim ITB untuk mengunjungi beberapa industri rumahan komoditas unggulan yang ada di Merauke, seperti rumah produksi minyak sereh dan minyak kayu putih, serta produksi kerajinan seperti produk-produk dari kulit kayu dan kulit buaya.

Kunjungan Tim ITB yang antara lain terdiri atas Arya Brehaspati Adisamito SSi, Lala Nurfitria SIKom, Raja Aksana Alrando SMB, Syane Rachma Dian SM, Amelinda Stefani SDs, Herti Audrey Maulina SDs, serta sejumlah mahasiswa ini dimaksudkan untuk menilai dari segi estetik dan seni produk yang akan disurvei. Lokasi kunjungan meliputi wilayah Rawa Biru untuk unit produksi minyak kayu putih, kawasan Seringgu Jaya untuk produksi minyak sereh, lalu perbatasan PLBN Sota yang menjadi sentra produksi suvenir. Untuk di dalam kota Merauke tim diarahkan ke sentra produksi kerajinan kayu dan kulit buaya.

Tujuan kunjungan itu ialah mendata berapa besaran produksi yang ada di lapangan dan jangkauan produk yang telah dipasarkan. Dari data tersebut nantinya dapat diolah menjadi skema rantai pasok sehingga akhirnya dapat dianalisis aliran keuangan dan aliran barang yang ada. Dengan demikian, pengembangan secara efisiensi dan efektivitas ekonomi bisa diperhitungkan dan diusulkan untuk ditingkatkan.

Sasaran yang diupayakan ialah barang komoditas khas daerah yang memiliki keunggulan tertentu dan berdampak secara ekonomi bagi masyarakat Papua Selatan, khususnya sekitar Merauke. Sejauh ini, unit usaha yang telah berkembang di Merauke ialah usaha penyulingan minyak kayu putih di perusahaan Ellu Pokos dan selanjutnya ke lokasi pembuatan kerajinan kulit buaya.

Dok. ITB

Kunjungan di Yayasan Istana Merauke, unit usaha kerajinan kayu.

 

Minyak sereh dan kayu putih

Ketersediaan pohon kayu putih di Merauke ternyata cukup melimpah. Produksi rumahan minyak sereh dan minyak kayu putih juga cukup banyak jumlahnya. Meskipun ketersediaan bahan baku melimpah, pada musim-musim tertentu produksi rumahan ini masih mengalami kendala. Dari temuan yang telah tim kami identifikasi, distribusi beberapa komoditas yang ada di Merauke belum secara maksimal tersebar, baik di dalam maupun di luar kabupaten tersebut. Komoditas unggulan seperti minyak sereh dan minyak kayu putih baru diproduksi secara rumahan. Standar kemasan dan produksinya pun belum memadai, meskipun beberapa izin telah dikantongi oleh sebagian pemilik.

Untuk distribusi minyak sereh memang sudah dipasarkan hingga ke Pulau Jawa sebagai bahan baku mentah. Adapun untuk pemasaran minyak kayu putih, umumnya hanya tersebar di dalam wilayah Kabupaten Merauke terutama di titik tempat wisata dan pusat kota. Selain itu, beberapa kendala juga ditemukan dalam produksi rumahan minyak kayu putih ini, yakni belum tersedianya gudang yang memadai untuk penyimpanan hasil sulingan minyak. Begitu pula pengemasannya yang masih seadanya menggunakan botol kaca bekas minuman tanpa disertai stiker merek dagang dan keterangan perizinan.

Dok. ITB

Contoh kerajinan kayu yang dibuat masyarakat di Merauke.

 

Distribusi kerajinan

Dalam kegiatan ini, tim juga mengunjungi Yayasan Istana Merauke yang menaungi beberapa bidang kerajinan dan keterampilan seni di berbagai desa pedalaman Papua. Galeri Istana Merauke menyediakan berbagai kerajinan tangan yang sangat lengkap. Menurut ketua yayasan, Eriza Panca, mereka memiliki galeri di Merauke dan di Yogyakarta. Yayasan ini, kata Eriza, juga menjadi tempat untuk menitipkan penjualan karya masyarakat yang terkadang dilakukan dengan sistem beli putus. Selain itu, ada pula dengan cara sistem borongan atau pemesanan di awal.

Menurut Eriza, kendala yang sering mereka alami ialah ketidakpastian pembeli dan volume pembelian yang masih relatif sedikit. Segmen pasar yang membeli juga masih di kalangan terbatas karena terkendala sosialisasi dan pemasaran. Oleh karena itu, kami berpendapat perlu adanya katalog barang yang mungkin bisa dijadikan alat penyimpanan atau arsip, selain untuk menjaga kualitas karya seni yang dibuat.

Dari kunjungan tersebut, tim juga mendapat beberapa data krusial mengenai rantai distribusi, terutama terkait dengan proses dan ongkos angkut yang dilakukan oleh perusahaan ke Kota Surabaya melalui kontainer tol laut. Diketahui bahwa kapal kontainer dari Merauke ke Pulau Jawa masih sangat minim muatan sehingga produk dari Merauke atau Provinsi Papua Selatan yang dapat diperdagangkan ke Pulau Jawa sangat sedikit.

Dari data-data yang diperoleh, akhirnya tim dapat merumuskan skema distribusi untuk sejumlah produk tersebut. Pada UMKM kerajinan kayu dan kulit buaya, misalnya, kendala yang tengah dihadapi ialah berhentinya jalur distribusi ketika masa pandemi yang lalu. Selain itu, jumlah perajin dan ahli yang terampil dalam bidang tersebut juga terbatas (lihat skema 2).

Kendala lainnya ialah keterbatasan wawasan dan keuletan perajin untuk membuat barang yang kompetitif dan memiliki kualitas yang memenuhi standar pasar yang lebih luas. Alhasil, desain kemasan dan tampilan produk belum mengikuti perkembangan zaman. Begitu pula dengan kualitas dan ketahanan barang yang masih minim, serta kemampuan produksi yang relatif sedikit. Adapun di bagian hilir, permasalahannya terletak pada keterbatasan modal untuk memasarkan dan mengembangkan produk, serta biaya satuan barang untuk ongkos pengiriman yang relatif tinggi.

Sementara itu, untuk UMKM minyak sereh dan minyak kayu putih (lihat skema 1), pada hulu produksi, kendalanya ialah pada ketersediaan bahan baku yang tidak stabil. Hal itu karena terbatasnya kapasitas luaran bahan baku alam di sekitar serta belum ada pemenuhan antarlokasi. Alhasil, skala produksi belum bisa memenuhi kuota permintaan.

Pada proses pengemasan dan penyimpanan, kemasan juga belum memenuhi standar dan hanya memanfaatkan botol bekas minuman. Secara visual, kemasan seperti itu kurang menarik dari sisi penjualan. Di samping itu, branding barang dan toko juga belum ada. Pedagang hanya berjualan secara tradisional dengan cara berkeliling. Produsen juga belum bisa memenuhi permintaan besar karena terkendala gudang penyimpanan yang tidak memadai. (M-3)

BERITA TERKAIT