23 January 2023, 11:50 WIB

Jelang Ramadan, Meta Luncurkan Survei untuk Strategi Bisnis Pelaku Usaha


Fetry Wuryasti |

SEKITAR 1,5 bulan Jelang Ramadan, Meta meluncurkan Studi Ramadan Insights 2023, memberikan panduan bagi pelaku usaha guna menyusun langkah yang tepat dalam memaksimalkan potensi pengembangan bisnis, dan terhubung dengan pelanggan serts peluang baru melalui platform Meta. Studi ini Meta lakukan bersama YouGov.

Temuan utama dalam studi ini, yaitu 94% konsumen di Indonesia senang melihat konten bertema kebersamaan dan kehangatan Ramadan. Lalu sekitar 55% orang di Indonesia merencanakan barang-barang yang hendak mereka beli 10 hari sebelum Ramadan.

Dari hasil survei, selama bulan Ramadan, 68% konsumen menghabiskan lebih banyak waktu untuk menonton video secara daring, dan selama bulan Ramadan, 8 dari 10 orang di Indonesia terhubung dengan bisnis melalui layanan perpesanan.

Meta melihat, bulan Ramadan menjadi momen yang dinantikan oleh seluruh umat muslim di dunia, terlebih di Indon

Di momen ini, beragam peluang akan hadir untuk membantu komunitas dan pelaku usaha, terhubung dengan hal-hal bermakna, serta mendapatkan inspirasi bisnis dari platform digital seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp.

Baca juga: Indonesia Relatif Aman dari Dampak Resesi

Ramadan menjadi momen yang tepat bagi orang-orang di Indonesia untuk saling terhubung dan berbagi inspirasi kebaikan melalui konten-konten yang tersaji di Facebook, Instagram, dan WhatsApp.

"Kami percaya, hubungan yang hangat dan saling menginspirasi akan membuka berbagai peluang, khusus bagi pelaku usaha, untuk menemukan cara-cara baru mengembangkan usaha mereka selama Ramadan,"  jelas Pieter Lydian, Country Director, Meta, Indonesia, melalui keterangan resmi yang diterima, Senin (23/1)

"Kekuatan dari teknologi Meta menciptakan hubungan dan interaksi yang bermakna, yang pada akhirnya dapat membawa dampak bagi komunitas,” kata Pieter Lydian.

Panduan Ramadan 2023 dari Meta berfokus pada 4 hal yang seluruhnya bermuara pada konten yang menghubungkan orang-orang pada kehangatan Ramadan dan saling berbagi dan menemukan inspirasi di atas teknologi-teknologi Meta.

Meta melihat, Ramadan adalah momen kebersamaan. Menurut survei, 94% konsumen di Indonesia pada bulan Ramadan senang melihat konten kebersamaan dan kehangatan di Facebook atau Instagram.

Selain itu, terdapat 13,4 juta interaksi yang menonjolkan kebersamaan dan silaturahmi di Instagram per bulan Mei 2022.

Selain itu, sebanyak 82% dari mereka yang disurvei ikut berpartisipasi dalam kegiatan amal selama bulan Ramadan dan Idul Fitri, dengan 7,8 juta interaksi yang menunjukkan kebaikan di Facebook per Mei 2022.

Ramadan juga menjadi momen ketika pengalaman personal dapat mendorong bisnis.

Di Indonesia, 4 dari 5 orang percaya bahwa merencanakan keuangan di bulan Ramadan dan Idul Fitri menjadi lebih penting, di mana 55% orang merencanakan belanja setidaknya 10 hari sebelum Ramadan dimulai.

Selain itu, sebanyak 71% konsumen mengeksplorasi kategori produk yang berbeda pada saat Ramadan dibandingkan sebelum Ramadan. Produk makanan dan pakaian tetap menjadi kategori belanja paling populer.

Studi ini juga melihat adanya tren pembelian paket berlibur yang meningkat dari tahun lalu, dan merupakan kategori yang sudah terencana dan bahkan pembelian terjadi sebelum Ramadan dimulai, selain kategori lain seperti barang-barang bermerek dan barang-barang untuk ibadah.

"Dalam hal ini, Meta masih mendominasi sebagai platform online top of mind untuk penemuan barang;" kata Pieter Lydian.

Ramadan adalah momen ketika konsumsi konten video dapat membuka peluang bisnis untuk terhubung melalui brand storytelling.

Berbicara mengenai konsumsi media, Indonesia menjadi negara dengan tingkat konsumsi video yang tinggi. SYNC Study dan Bain dan Meta tentang Konsumen Digital Asia Tenggara menemukan, video di media sosial berperan penting bagi konsumen digital di Indonesia untuk mengambil keputusan, dengan 44% orang Indonesia suka menonton konten-konten video.

"Hampir 1 dari 3 responden Indonesia menonton video untuk mencari produk melalui media sosial, dan 40% dari responden tersebut memutuskan membeli produk dari konten-konten terkait hiburan dan streaming dari kreator konten," kaya Pieter Lydian.

Hal ini sejalan dengan studi dari Global Web Index (GWI) mengenai konsumsi media yang menyebutkan bahwa menonton konten video menjadi aktivitas utama bagi kelompok Millenials dan Gen Z saat mereka berada di media sosial, terutama konten-konten terkait kebersamaan dan hiburan, yang keduanya bisa didapatkan di Facebook dan Instagram.

Sebanyak 2 dari 3 orang Indonesia menonton konten video tersebut dari platform-platform Meta. Saat bulan Ramadan, 68% konsumen di Indonesia banyak menonton konten video, dan hal ini juga menentukan keputusan berbelanja mereka.

Sekitar 1 dari 3 orang menempatkan video online sebagai kanal utama untuk menentukan apa yang hendak mereka beli. Tren konten video ini juga mendorong media dan kreator konten untuk membuat konten-konten yang diminati oleh orang-orang dan bisnis selama bulan Ramadan.

"Survei kami menunjukkan, selama bulan Ramadan, kategori konten yang banyak diminati di Indonesia adalah lomunitas dan lebersamaan (84%) serta hiburan dan onspirasi (85%).

"Hadirnya kreator konten selama bulan Ramadan dapat menjadi peluang bagi bisnis untuk memasarkan produk mereka secara digital karena 1 dari 2 konsumen di Indonesia mempercayai bisnis yang bermitra dengan kreator," kata Pieter Lydian.

Ramadan juga menjadi momen untuk terhubung lebih erat dengan pelanggan melalui business messaging menurut survei. Terpantau sebanyak 2 dari 3 orang lebih memilih berkomunikasi dengan bisnis melalui layanan perpesanan dibandingkan email dan telepon.

Selama bulan Ramadan, 8 dari 10 konsumen menggunakan layanan perpesanan dan sekitar 7 dari 10 konsumen telah menggunakan layanan perpesanan dari teknologiteknologi Meta seperti WhatsApp, Instagram Direct Message, Facebook Messenger.

"Data kami menunjukkan bahwa banyak pelanggan dari awal mencari dan menemukan barang yang mereka butuhkan dari kanal media sosial. Facebook, Instagram, dan WhatsApp masih menjadi top of mind. Kami berharap insights Ramadan ini dapat membantu pelaku usaha meramu cara-cara strategis bagaimana membangun hubungan yang lebih dekat dengan pelanggan dan terus mengembangkan bisnis,” tutup Pieter Lydian. (Try/OL-09)

BERITA TERKAIT