09 December 2022, 17:18 WIB

Kapitalisasai Melorot, GOTO Tidak Lagi Masuk Kategori Decacorn


Fetry Wuryasti |

KAPITALISASI saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) telah berkurang jauh dari IPO yang awalnya berjumlah Rp 400,32 triliun, menjadi Rp110,15 triliun, atau berkurang Rp290,17 triliun. Dengan kata lain, GOTO tidak lagi dapat disebut Decacorn.

Pengamat pasar modal Avere Investama Teguh Hidayat mengatakan sebutan Decacorn adalah kepada perusahaan rintisan dengan kapitalisasi pasar USD10 miliar atau sekitar Rp 150 triliun.

"Maka GOTO sudah tidak lagi disebut Decacorn. Sebab kapitalisasi pasarnya saat ini udah di bawah itu di bawah Rp 150 triliun. Rp 110,15 triliun itu kalau dijadikan dolar sekitar USD 8 miliar, pada harga saham Rp 93. Dia masih unicorn, tapi sudah tidak Decacorn," kata Teguh saat dihubungi, Jumat (9/12).

GOTO selama 15 hari berturut-turut longsor menyentuh Auto Rejection Bawah (ARB). Kini per Jumat (9/12), sahamnya berada di level harga Rp 93 per lembar, turun jauh dari awal IPO pada April lalu, yang dimulai pada harga Rp 338 per lembar.

Teguh melihat dengan sentimen yang beredar saat ini, maka mungkin saja harga saham GOTO bisa menyentuh level Rp 50 per lembar. Namun mungkin prosesnya bertahap karena aturan Bursa Efek Indonesia (BEI), koreksi saham maksimal di 7% per hari.

"Tapi bukan berarti GOTO pasti akan ke harga Rp 50. Kemungkinan tetap ada. Sebenarnya bahkan pada harga Rp50 itu pun kapitalisasi pasar GOTO masih sekitar Rp 60-70 triliun karena jumlah saham beredarnya sangat banyak," kata Teguh.

Baca juga: Tidak Lagi Decacorn sejak Listing, Kapitalisasi Pasar GoTo Tersisa Rp110 T Dihajar ARB Beruntun

Di sisi lain, hasil paparan publik manajemen Kamis (9/12) tidak merangkul dan menenangkan para investornya. Key person CEO GOTO, yaitu Andre Soelistyo, dan Komisaris Utama PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. atau GoTo Garibaldi alias Boy Thohir tidak terlihat pada paparan publik tersebut.

"Menurut saya ketika dua orang tidak muncul, berarti sebenarnya manajemen masih bungkam dan seperti membiarkan merosotnya saham, dan dua orang besarnya sengaja dia. Maka besar kemungkinan saham bisa dibiarkan turun sampai Rp50," kata Teguh.

Namun diam juga bisa saja merupakan strategi perusahaan. Meski begitu Teguh tidak bisa memperkirakan strategi apa atau rencana apa yang sedang dilakukan perusahaan.

"Sebenarnya niat mereka apa membiarkan saham GOTO turun sampai sedalam ini, saya tidak tahu. Tapi dengan mereka melakukan itu, tidak mencoba menahan investor ritel untuk untuk tidak panik, itu seperti apa mungkin mereka juga menginginkan saham GOTO dibiarkan turun, saya juga tidak paham," kata Teguh.

Sebab umumnya, emiten besar seperti BBRI atau TLKM atau siapapun, kalau sahamnya sudah turun dalam, pihak sekretaris perusahaan akan membuat penjelasan yang menenangkan pasar.

Menariknya, longsornya saham GOTO juga menyeret saham 'bapak'nya, yaitu PT Astra Internasional Tbk (ASII) dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Terutama pada Telkom yang merupakan BUMN, ada kemungkinan harus dipanggil oleh DPR untuk membuat pertanggungjawaban atas investasinya ke GOTO. Namun banyak dalih yang bisa diutarakan terkait untung rugi yang belum direalisasikan dan investasinya yang berupa jangka panjang.

Kapitalisasi pasar GOTO bisa dikatakan mendadak besar setelah merger, menjadi Rp 400,32 triliun, melebihi ASII dan TLKM, dan hanya di bawah urutan setelah BBRI dan BBCA. Sahamnya dijual di pasar dengan harga Rp 338 per lembar.

Berbeda kasus dengan Bukalapak (BUKA),yang memulai IPO dengan kapitalisasi pasar Rp 87,6 triliun, dengan harga saham Rp 850 per lembar. Kini kapitalisasi BUKA Rp 27,42 triliun, dengan harga saham Rp 266 per lembar.

"Posisinya BUKA kini sudah jadi perusahaan menengah di BEI. Kalau GOTO bahkan pada harga 50 perak sekalipun, kapitalisasi pasar masih sekitar Rp70 triliun. Jadi besar kmungkinan dia ke level 50," kata Teguh. (OL-4)

BERITA TERKAIT