09 December 2022, 13:40 WIB

Tidak Lagi Decacorn sejak Listing, Kapitalisasi Pasar GoTo Tersisa Rp110 T Dihajar ARB Beruntun


Fetry Wuryasti |

Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mengalami Auto rejection Bawah (ARB) untuk 10 hari berturut-turut, dan kini merosot pada level harga Rp 93 per lembar saham.

Pada saat pertama kali IPO, GOTO sangat dibanggakan karena menjadi perusahaan rintisan Indonesia dengan sebutan Decacorn. Sebab merujuk pada data CB Insights, total valuasi dari merger kedua perusahaan teknologi ini mencapai US$ 18 miliar berdasarkan putaran penggalangan dana Gojek 2019 dan Tokopedia di awal 2020. Decacorn sendiri merupakan istilah startup yang telah mencapai nilai valuasi hingga US$ 10 Miliar atau sekitar Rp 150 triliun.
 
Adapun kapitalisasi pasar GOTO pada sesi pertama perdagangan IPO di April lalu mencapai Rp 400,32 triliun.

Namun sejak IPO pada bulan April, dibuka dengan harga saham Rp 338 per lembar, grafiknya terus menunjukkan penurunan. Hingga Jumat pekan lalu, (2/12), harga saham GOTO berada di level 132 per lembar, dengan Rp 156 triliun. 

Terakhir, per Jumat (9/12) harga sahamnya merosot ke level 93 per lembar atau -29,54% dalam seminggu perdagangan. Kapitalisasi pasarnya pun  tercatat sebesar Rp 110,15 triliun, tergerus Rp 45,85 triliun. Bila dihitung sejak awal IPO, GOTO sudah kehilangan kapitalisasi pasarnya sebesar Rp 290,17 triliun.

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan istilah decacorn hanya untuk perusahaan rintisan sebelum IPO.

"Decacorn ini hanya istilah untuk start up sebelum IPO. Perusahaan rintisan yang sudah IPO, tidak istilah-istilah seperti ini lagi," kata Rudiyanto, saat dihubungi, Jumat (9/12).

Penurunan harga saham GoTo tidak hanya berdampak pada indeks Bursa Efek indonesia (BEI) karena menjadi pemberat indeks.  Penurunan juga berdampak pada Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana yang memasukkan saham GoTo sebagai salah satu portofolionya.  Meski penurunan NAB tidak sepenuhnya dikontribusikan oleh GOTO, tergantung bobot atau porsi GOTO dalam komposisi aset di reksa dana itu.

Manajemen GOTO sendiri tidak berada dalam posisi menahan kejatuhan harga sahamnya secara langsung. 

Presiden GoTo Patrick Cao berkilah bahwa fluktuasi harga saham, sama seperti di perusahaan publik lainnya merupakan bagian dari mekanisme pasar yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk namun tidak terbatas pada kondisi makroekonomi, pasar modal, kompetisi dan kinerja perusahaan.

"Dengan berakhirnya periode lock up, ada kenaikan dalam jumlah saham yang beredar di pasar, yang mengakibatkan peningkatan transaksi jual beli saham," kata Patrick, dalam public expose, Kamis (8/12).

Hal ini dapat dikarenakan oleh beberapa penyebab, antara lain investor yang masuk di harga saham yang lebih rendah, investor yang merealisasikan keuntungan, lalu berakhirnya masa investasi atau fund life untuk investor financial, dan kebutuhan likuiditas di akhir tahun atau kebutuhan likuiditas lainnya.

"Banyak dari variabel ini merupakan hal-hal di luar kontrol dan pengetahuan perusahaan," kata Patrick. (Try/E-1)

BERITA TERKAIT