09 December 2022, 10:32 WIB

Investor Khawatirkan Volatilitas, Dana Keluar dari Bursa Capai Rp2 Triliun


Fetry Wuryasti |

Pada perdagangan kemarin, Kamis (9/12), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan arus modal keluar / capital outflow cukup besar yakni senilai Rp2 triliunan, akibat volatilitas yang terjadi dalam sepekan terakhir.

Gerak IHSG yang terkonsolidasi sejak akhir Oktober sudah memberikan kewaspadaan terhadap kemungkinan yang akan terjadi.

"Mekanisme pasar yang terjadi, aksi taking profit para investor untuk memperoleh likuiditas memang cukup wajar. Hal ini sekaligus mengindikasikan bahwa sikap para pelaku pasar tampak khawatir melihat kondisi pasar yang bergejolak," kata Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Jumat (9/12).

IHSG seakan kehilangan daya tahannya di mana terus jebol hingga menyentuh level psikologis 6.800-an.

"Namun, kami melihat penurunan kemarin sudah mulai landai," kata Nico.

Tidak bisa dipungkiri kondisi global dan dalam negeri saat ini cukup memprihatinkan. Dari sisi global, konflik geopolitik terus memanas, dengan potensi penggunaan senjata nuklir Rusia meningkat, kenaikan suku bunga agresif, tren Covid-19 yang meningkat, neraca dagang Tiongkok yang turun.

Bank-bank besar global yang juga berencana melakukan efisiensi melalui layoff sebagai langkah antisipatif menghadapi ketidakpastian global yang tinggi.

Negara dengan ekonomi terkuat ketiga atau Jepang pun sudah menunjukan perlambatan ekonomi yang tercermin dari rilis pertumbuhan ekonominya yang terkontraksi sebesar -0,2% secara kuartal.

Sementara itu, kondisi global yang masih belum menentu dapat berpengaruh terhadap fleksibilitas gerak ekonomi dalam negeri. Pada saat yang sama, Covid-19 di dalam negeri juga meningkat. 

Penurunan saham berkapitalisasi besar yang bobotnya cukup besar terhadap IHSG baik dari sektor perbankan maupun teknologi dan sejumlah data ekonomi yang mengalami penurunan tren seperti laporan indeks keyakinan konsumen yang kembali turun namun masih dalam level optimis.

"Kami melihat kondisi ini menjadi momentum untuk masuk agar dapat memperoleh potensi capital gain yang lebih menarik," kata Nico.(E-1)
 

BERITA TERKAIT