01 December 2022, 07:35 WIB

Renyah Rezeki dari Inovasi Keripik Singkong


Fathurrozak |

SEKIRA tujuh tahun, Ade Soelistyowati sempat bekerja di bidang clearance, mengurusi perizinan produk-produk impor. Karena rutinitas kerjanya, ia sempat jatuh sakit. Sementara itu, suaminya, Sahroni Bachrun bekerja di bidang properti. Lantaran kondisi kesehatan Ade, suami-istri yang semula tinggal di Jakarta ini, akhirnya hijrah ke kampung halaman, Sukabumi, Jawa Barat.

Dari Sukabumi, kesempatan kedua keluarga ini pun dimulai. Setelah ‘jatuh’ beberapa kali diterpa badai, termasuk jalan terjal yang ditemui Sahroni di bisnis properti, keduanya pun membulatkan tekad untuk mencoba bisnis kuliner, keripik singkong.

Di Desa Goalpara, Sukabumi, Sahroni menemukan banyak petani menanam singkong. Sayangnya, harga tanaman itu begitu murah. Sekira Rp700-Rp1.000 per kilogramnya. Dengan sisa uang yang cekak, kala itu, Sahroni cuma punya modal Rp50 ribu. Uang itu untuk membeli singkong mentah sekilo, minyak goreng seliter, dan plastik kemasan. Tanaman itu semua ia olah menjadi semacam opak, namun jadi setipis keripik. Ketika itu ia coba memanfaatkan alat yang digunakan untuk membuat kulit molen sehingga adonan singkong bisa diiris tipis.

Dengan modal sedikit itu jadilah sekira 60 bungkus keripik, yang ukuran per bungkusnya dijual Rp10 ribu. Bungkusnya pun masih sangat sederhana berupa plastik yang direkatkan dengan panas api dari lilin. Produk coba-coba itu ia titipkan ke warung-warung. Juga dibawa anaknya yang saat itu masih SMP ke sekolahnya. Tak disangka, inovasinya itu menemukan titik terang. Produk Sahroni laku keras. Bahkan, sang anak, cukup kewalahan melayani teman-temannya. Sehari, sekurangnya bisa habis hingga 120 bungkus.

Inovasi Sahroni, dikawinkan dengan ilmu pemasaran sang istri. Ade, atau akrab disapa Bunda Elis, lalu membawa produk suaminya itu ke ranah digital. Facebook, mulanya. “Saya mulai promosi di Facebook. Kemasannya masih biasa ketika itu. Selain Facebook, saya juga coba pasarkan di Whatsapp saat masih baru-barunya aplikasi itu,’ ujar Ade alias Bunda Elis menceritakan perjalanan awal bisnis Yammy Babeh, keripik singkong asal Sukabumi, kepada Media Indonesia melalui sambungan telepon, Minggu, (27/11).

Pada September 2016, mereka lalu ikut salah satu komunitas, namanya Jaringan Usaha Muda Sukabumi. “Nah, di tiap malam Jumat, itu ada share of mind, dari situ saya belajar arti reseller, agen, distributor, copywriting, dan jualan online,” kenang Bunda Elis.

Dari Facebook dan Whatsapp itulah ia kemudian membentuk jaringan yang kelak menjadi calon agen dan distributor Yammy Babeh. Hingga pada 2017 ia pun menambah kanal digitalnya di Instagram. Untuk menggunakan platform media sosial terakhir itu, Bunda Elis mengaku minta diajari sang anak.

“Pada 2017 itu saya juga makin matang menggunakan Whatsapp. Saya coba cari agen, yang ketika itu minimal order 70 bungkus. Saat aplikasi itu ada fitur bisnis, saya juga manfaatkan untuk efisiensi. Bisa balas cepat, bikin katalog, jadi memudahkan,” lanjut Bunda Elis.

Awalnya mereka memang otak-atik sendiri. Lalu saat pandemi pertengahan 2020, mereka ikut pelatihan dari UKM Indonesia. Di situ diajari merapikan katalog, desain, dan sebagainya.

 

Menang kompetisi

Pada 2017, untuk pertama kalinya Yammy Babeh juga ikut kompetisi bisnis yang diadakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat. Kala itu, mereka mewakili Kabupaten Sukabumi. Di kompetisi itu, mereka diminta untuk menunjukkan proyeksi bisnis dan kemungkinan terwujudnya. “Saat itu kami juara ketiga dan mendapat hadiah tunai sekira Rp2,5 juta,” kenang Ade.

 

Hadiah itu kemudian digunakan untuk mempercantik kemasan. Dari yang semula sangat sederhana, menjadi standing pouch dengan stiker, dan bertransformasi menjadi kemasan yang dilengkapi alumunium foil dengan desain gambar print. Produk Yammy Babeh pun bersalin rupa.

Omzet pun kian meningkat. Dari ketika awal saat skala produksi masih di kisaran ratusan bungkus cuma Rp1 juta-Rp1,5 juta, lalu perlahan merangkak menjadi Rp3 juta-Rp5 juta, hingga Rp15 juta. Pada tahun ini, per bulannya omzet mereka bahkan menyentuh Rp50 juta-Rp80 juta. Dengan skala produksi 5.000-7.000 bungkus per bulan, dengan per bungkusnya rerata berukuran 65 gram.

Selain kemasan, ada perubahan strategi pula yang diterapkan Yammy Babeh. Jika sebelum pandemi yang jadi proyeksi utama ialah penambahan distributor maupun agen, sejak pandemi yang mereka gencarkan adalah melalui kanal digital seperti Instagram, Whatsapp bisnis, dan di lokapasar digital. Selain itu, mereka juga banyak berkolaborasi dengan memberikan paket bundling dengan beberapa umkm lain.

“Sejak pandemi kemarin yang dikejar adalah distributor, yang skala pemesanannya bisa lebih besar, misalnya minimal sekali pesan adalah 1.000 bungkus. Lalu, sekarang pasar ekspor juga jadi tujuan utama,” kata Bunda Elis.

Sejauh ini, kampanye digital yang dilakukan Yammy Babeh masih berjalan secara organik. Dengan 10 karyawan yang ada di departemen produksi, otomatis semua konten kreatif serta distribusinya masih ditangani Bunda Elis sendiri. Namun, meski cuma memanfaatkan kampanye secara organik tanpa iklan, dampaknya cukup signifikan. Misalnya, beberapa dari pengikut akunnya menyatakan konten-konten yang diunggah Bunda Elis dan Yammy Babeh inspiratif. Peluang untuk ditemukan distributor juga menjadi lebih terbuka, dan masuk ke pasar internasional, jadi lekas terengkuh.

“Tahun lalu sudah ekspor ke Australia. Ya memang jumlahnya masih sekitar 300-500 bungkus. Cuma cukup intens, dua bulan sekali. Nah, tahun ini dan tahun depan sedang mengejar ekspor ke Singapura, Australia lagi, Malaysia, dan Hong Kong. Dengan eskalasi jumlah ekspornya per negara satu kontainer, atau mencapai 19 ribu bungkus.”

Salah satu yang diproyeksikan Yammy Babeh ke depan ialah memapankan instrumen digital. Bunda Elis berencana membangun studio untuk memproduksi konten kreatif. Selain itu, ia juga memproyeksikan untuk merekrut tim pemasaran profesional. Dengan alokasi bujet rerata 10% dari omzet.

Meski produk Yammy Babeh cukup terbantu dengan digitalisasi dan beberapa program yang sudah dicanangkan pemerintah dalam upaya mendorong para pelaku UMKM, Bunda Elis menyebut kerap kali beberapa instansi pemerintah tidak memerhatikan keberlanjutan dari program yang dijalankan sehingga cuma terkesan seremonial dan buang-buang anggaran. Selain itu, keseriusan pemerintah dalam memfasilitasi produk UMKM untuk ekspor pun masih dipertanyakan. Ada beberapa kendala itu yang menurut Bunda Elis bisa menjadi batu sandungan bagi perkembangan UMKM, jika tidak dibarengi dengan upaya serius dari negara. (M-3)

 

BERITA TERKAIT