12 November 2022, 20:33 WIB

G20 Harus Bisa Hasilkan Terobosan Atasi Persoalan Dunia


M. Ilham Ramadhan Avisena |

FORUM Group of 20 (G20) merupakan representasi perekonomian global lantaran berkontribusi 85% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia. Karenanya, forum ini mesti bisa menghasilkan langkah dan terobosan besar untuk mengatasi persoalan yang terjadi saat ini.

Isu mengenai krisis pangan, energi, hingga keuangan global menjadi topik utama untuk dicari jalan keluarnya agar pemulihan ekonomi pascapandemi dapat dirasakan bersama tanpa ada satu negara pun yang tertinggal.

Demikian disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menyambut kehadiran para delegasi dari Sherpa Track secara virtual. Dia mengatakan, sebagai perwakilan negara berkembang dan satu-satunya anggota G20 dari Asia Tenggara, inklusivitas menjadi sangat penting bagi Indonesia dan harus saling membantu dalam melalui masa-masa yang sulit ini.

“Kuncinya adalah mencapai keseimbangan. Dengan agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 sebagai penunjuk arah kita, kita harus mempertimbangkan solusi paling efektif untuk krisis multidimensi yang sedang berlangsung dan tetap rendah hati dalam keterbatasan kita sebagai manusia,” ujar Airlangga.

Sebagai salah satu workstream dalam G20 Sherpa Track terus melakukan pembahasan terkait tantangan global dan berbagai isu ekonomi (non-finansial) untuk mencari solusi dan memberikan rekomendasi atas agenda dan isu prioritas G20.

Pertemuan Sherpa G20 juga telah diselenggarakan guna menyiapkan versi terbaik Leaders’ Declaration yang akan dibawa dan ditetapkan oleh para Kepala Negara dan Pemerintahan negara anggota G20 pada KTT G20.

Baca juga: Penggunaan Kendaraan Listrik di KTT G20 Simbol Konkret Transisi Energi Indonesia

Leaders’ Declaration merupakan komitmen dari para Pemimpin G20 terhadap upaya bersama dalam pemulihan ekonomi dan kesehatan pasca pandemi covid-19. Rancangan Deklarasi berisikan substansi pembahasan prioritas Presidensi G20 Indonesia yakni arsitektur kesehatan global, tranformasi digital, dan transisi energi.

Deklarasi juga membahas mengenai isu ketahanan pangan yang menjadi isu global saat ini. Seluruh pembahasan yang dilakukan dalam pertemuan juga akan mendukung concrete deliverables.

Hal tersebut sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo agar Presidensi G20 Indonesia dapat menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia dan menjadi warisan Indonesia bagi G20 serta meningkatkan peran dan profil Indonesia pada Forum G20.

“Tidak dapat dipungkiri bahwa krisis yang dihadapi dunia saat ini penuh dengan risiko dan rintangan. Jadi, para pemimpin mengandalkan Anda, atas kebijaksanaan, solusi, dan inovasi untuk pemulihan ekonomi global," ujar Airlangga.

Pertemuan Sherpa G20 keempat yang sekaligus merupakan pertemuan terakhir menyongsong KTT G20 dalam Presidensi G20 Indonesia, saat ini juga telah dilangsungkan di Jimbaran, Bali, pada 11-14 November.

Pertemuan tersebut dibuka pada tanggal 11 November lalu oleh Co-Sherpa G20 Indonesia Edi Prio Pambudi dan dihadiri juga oleh Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso selaku Ketua Sekretariat Gabungan Sherpa Track dan Finance Track Presidensi G20 Indonesia.

Sherpa Track Presidensi G20 Indonesia sendiri meliputi 12 Working Groups (WG) dan 10 Engagement Groups (EG). Selain itu, peran vital Sherpa Track juga untuk mengadakan berbagai kegiatan lainnya seperti culture and creative economy, Research and Innovation Ministers’ Meeting, Side Event, dan Joint Ministerial Meeting yang merupakan bentuk kerja sama antar Kementerian dan Lembaga.

"Selain unsur pemerintah, Indonesia juga secara aktif melibatkan kelompok non-pemerintah yang tergabung dalam G20 Engagement Groups. Tujuannya antara lain untuk memastikan bahwa proses pembahasan mengenai upaya pemulihan ekonomi bersifat inklusif dengan memperhatikan masukan dari kelompok di luar Pemerintah selaku stakeholders dan pelaku utama pertumbuhan ekonomi," jelas Susiwijono. (OL-4)

BERITA TERKAIT