09 November 2022, 05:44 WIB

IPO Blibli Curi Perhatian Pasar


Mediaindonesia.com |

Sebanyak enam perusahaan mencatatkan saham perdana bareng di Bursa Efek Indonesia (BEI)  pada Selasa (8/11) yaitu PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY), PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED), PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), PT Wulandari Bangun Laksana Tbk (BSBK), PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT), dan PT Menthobi Karyatama Raya Tbk (MKTR).

Keenam perusahaan tersebut secara berurutan menjadi perusahaan tercatat ke-45 hingga 50 di bursa sepanjang 2022.

Dari enam emiten debutan ini, perhatian banyak ditujukan pada saham BELI. Hal ini terkait dengan posisi holding dari perusahaan e-commerce blibli.com, ranch market dan tiket.com yang merupakan perusahaan teknologi dan unicorn yang berkapitalisasi besar. 

CEO & Co-founder PT Global Digital Niaga Tbk  Kusumo Martanto menjelaskan saham perusahaannya diperdagangkan dengan kode saham BELI dan harga perdana Rp 450 per saham.

“Blibli mendapatkan respon sangat-sangat positif dari investor baik institusi maupun ritel atau individu,” ujar dia dalam konferensi pers virtual kemarin. 

Kusumo menjelaskan dana yang Blibli galang sebesar Rp 8 triliun dengan kapitalisasi pasar setara dengan Rp 53 triliun.   Blibli menawarkan konsep ekosistem yang berbeda dengan unicorn lainya seperti Tokopedia dan Bukalapak karena menggabungkan antara leisure, belanja online dan offline. 

George Hendrata dari Tiket.com mengajak para investor untuk memegang saham BELI karena perusahaan ini menawarkan pertumbuhan yang baik ke depan. "Seperti travel, saat ini merupakan sektor yang paling tinggi pertumbuhannya pasca pandemi," ujarnya

Adapun saham Blibli   bergerak di area Rp440 hingga Rp472 dan ditutup pada level Rp450. Saham Blibli ditransaksikan 32.749 kali dengan nilai mencapai Rp411,28 miliar.  

Sementara itu,  Peneliti dari Center of Economic and Law Studies Celios) Muhammad Andri Perdana menilai dana hasil  IPO Blibli  yang akan digunakan untuk membayar utang, akan membuat perseroan
menjadi lebih fleksibel dalam mengelola aset.
  
"Sebanyak Rp5,5 triliun dari Blibli itu digunakan untuk memperbaiki
dari struktur modal, mengurangi utang, sehingga dapat mengurangi Debt
Equity Rasionya (DER). Dengan penurunan DER ini, perusahaan menjadi lebih fleksibel dalam pengelolaan aset yang dimiliki, termasuk potensi pembagian dividen kepada investor di masa mendatang," ujar Andri  (Ant/E-1

BERITA TERKAIT