20 October 2022, 17:02 WIB

BI Kembali Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 4,75%


M. Ilham Ramadhan Avisena |

BANK Indonesia (BI) kembali menaikkan BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 basis poin menjadi 4,75%. Keputusan itu berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berlangsung pada 19-20 Oktober 2022. 

Lalu, suku bunga deposit facility dan lending facility juga dinaikkan masing-masing sebesar 50 basis poin menjadi 4,00% dan 5,50%.

"Keputusan kenaikan suku bunga sebagai langkah front loaded, pre-emptive dan forward looking untuk menurunkan ekspektasi inflasi terlalu tinggi (overshooting)," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Kamis (20/10).

Baca juga: Kurs Rupiah Terus Melemah meski Neraca Dagang Surplus, Mengapa?

Penaikan suku bunga acuan juga bertujuan memastikan tingkat inflasi inti kembali ke dalam sasaran target di semester I 2023. Pada September 2022, tingkat inflasi yang menggambarkan agregat kekuatan permintaan dan penawaran, terpantau berada di level 3,21% (yoy).

Bank sentral menargetkan inflasi inti dapat terkendali di level 3% plus minus 1% pada semester I 2023, melalui kebijakan penaikan suku bunga tersebut. Hingga akhir 2022, komponen inflasi inti diperkirakan berada di level 4,3%, atau lebih rendah dari proyeksi awal pascakenaikan harga BBM sebesar 4,6%.

Adapun penaikan suku bunga acuan diharapkan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, yang belakangan ini mengalami depresiasi. Dalam tahun berjalan (ytd), mata uang Garuda mengalami pelemahan 8,03% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang tercatat menguat 18,1% (ytd).

Baca juga: HIPMI Optimistis Indonesia Tidak Mengalami Resesi di 2023

Bahkan indeks mata uang dolar AS (DXY) berada di level tertinggi, yakni 116 pada September 2022. Lalu, sedikit mengalami penurunan menjadi 114. Perry menjelaskan bahwa selain kebijakan suku bunga, pihaknya juga melakukan intervensi di pasar uang, agar stabilitas rupiah tetap terjaga.

"Ini kami lakukan dari intervensi dan ini (depresiasi) lebih rendah dari negara lain. Seperti, India 10,42%, Malasyia 11,75%, Thailand 12,55%. Semua negara melakukan stabilisasi nilai tukar, untuk memitigasi dari dampak imported inflation," pungkas Perry.(OL-11)

BERITA TERKAIT