13 October 2022, 18:49 WIB

Dorong Ketahanan Energi, Energi Terbarukan dan Green Fuel Jadi Katalis Utama


Mediaindonesia.com |

EKONOMI dunia diliputi bayang bayang resesi akibat perang Rusia-Ukraina yang berlarut larut sehingga mengakibatkan harga komoditas energi dan pangan mengalami kenaikan. Kenaikan tersebut berdampak terhadap inflasi yang tinggi. 

Indonesia termasuk salah satu negara yang mengalami imbas efek kenaikan harga minyak bumi akibat perang tersebut. Oleh karena itu, Perlu dilakukan upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi yang punya muatan impor tinggi seperti minyak bumi dan LPG, karena selain rentan terhadap kenaikan harga, juga rentan terhadap gangguan defisit neraca perdagangan. 

Upaya melakukan diversifikasi energi juga harus selaras dengan tekad Indonesia yang berkomitmen mengurangi emisi CO2 baik melalui penggunaan energi maupun kelestarian hutan. 

Kepala Pusat Riset Industri Proses dan Manufaktur Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Hens Saputra mengatakan, subtitusi sumber energi fosil harus memperhatikan sumber energi yang ramah lingkungan dan tersedia di dalam negeri.

Penggunaan yang besar akan bahan bakar fosil selama ini untuk bahan bakar minyak dan LPG ada di sektor transportasi dan rumah tangga, sedangkan batubara ada di sektor Kelistrikan. 

"Solusi diversifikasi sumber energi untuk transportasi dan rumah tangga yang paling memungkinkan akan bertumpu pada kelistrikan dan Green Fuel”, kata Hens Saputra pada Webinar Series “Greenfuel Mendukung Ketahanan Energi dalam masa transisi menuju Net Zero Emission yang digelar secara virtual.

Perekayasa Ahli Utama yang juga sebagai Ketua Kelompok Riset Green Fuel BRIN Unggul Priyanto mengatakan, penggunaan sumber energi pada pembangkit listrik juga harus menggunakan sumber energi yang ramah lingkungan dan punya kelangsungan pasokan yang aman dan tersedia di dalam negeri. 

Permasalahannya, dengan penggunaan energi listrik yang akan meningkat pesat maka diperlukan pasokan sumber energi untuk pembangkit listrik yang sangat besar yang hanya bisa dipenuhi oleh berbagai macam sumber energi yang ada.

Peneliti Profesor Riset bidang Elektrokimia BRIN Eniya Dewi menambahkan, perkembangan teknologi transportasi berbasis baterai dewasa ini telah berkembang pesat mulai dari mobil listrik Hybrid, mobil listrik berbasis baterai, mobil listrik plug-in-Hybrid, dan mobil fuel cell.

Baca juga : Kebijakan Ekonomi Indonesia Adaptif terhadap Ancaman Krisis Global

kendaran kendaraan tersebut telah dijual secara komersial dan telah terbukti mempunyai efisiensi yang tinggi dan biaya listrik yang setara bahan bakar sangat irit. 

"Kedepan dengan meningkatnya harga BBM, maka penggunaan mobil listrik merupakan alternatif yang sangat menarik untuk digunakan menggantikan peranan kendaraan BBM, khususnya sepeda motor yang jumlahnya cukup besar dan banyak mengkonsumsi gasoline/bensin yang selama ini sulit disubtitusi oleh bahan bakar lain termasuk biodiesel yang sudah dipakai menggantikan Sebagian solar/diesel oil dalam bentuk B20-B30," ujarnya.

Meskipun demikian, penggunaan mobil listrik masih memerlukan waktu untuk menggantikan kendaraan-kendaraan berat seperti truk, kapal laut, bahkan pesawat terbang, sementara itu tuntutan pengurangan atau peniadaan penggunaan bahan bakar fossil sudah merupakan kesepakatan global untuk menjaga perubahan iklim.

Oleh karena itu peranan green fuel atau bahan bakar bersih seperti biofuel masih akan diperlukan untuk jangka waktu yang cukup panjang sejalan dengan kemajuan teknologi kendaraan listrik.

Unggul menambahkan, berbicara mengenai penggunaan bahan bakar migas tidak lepas dari penggunaan bahan bakar LPG di sektor rumah tangga setelah konversi minyak tanah ke LPG yang sukses sejak 2012 yang lalu.  

"Konsumsi LPG di rumah tangga meningkat pesat, akibatnya produksi LPG yang selama ini dipasok dari kilang minyak dan tambang gas alam tidak bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga dilakukan impor yang volumenya semakin meningkat daan saat ini sudah mencapai dua pertiga dari kebutuhan total," tambahnya. 

Sementara subsidi yang diberikan juga semakin besar sejalan dengan kenaikan harga minyak bumi di pasar international. Penggunaan listrik untuk memasak di rumah tangga bisa menjadi alternatif untuk mengurangi konsumsi LPG. Selain harganya lebih murah, juga mengurangi impor dan subsidi lebih mudah dikontrol sehingga lebih tepat sasaran. 

"Namun, sama seperti ketika konversi minyak tanah ke LPG, perlu dilakukan sosialisasi dan penjelasan yang masif ke masyrakat, pimpinan politik, dan lembaga tinggi negara sehingga ada pemahaman yang baik bahwa konversi LPG ke listrik menguntungkan baik ke masyarakat maupun negara," tutur Unggul.  (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT