11 October 2022, 17:59 WIB

Rupiah Tertekan Suku Bunga The Fed dan Penjualan Ritel


Mediaindonesia.com |

NILAI tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa (11/10) sore melemah. Ini tertekan pelaku pasar yang kini cenderung menghindari aset berisiko.

Rupiah ditutup melemah 40 poin atau 0,26% ke posisi 15.358 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 15.318 per dolar AS. "Rupiah tertekan oleh sentimen risk off di pasar. Dolar AS masih menguat hari ini walau tidak besar," kata Analis DCFX Futures Lukman Leong saat dihubungi di Jakarta, Selasa.

Dolar menguat karena investor khawatir tentang penaikan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (Fed), dan eskalasi dalam perang Ukraina. Imbal hasil obligasi pemerintah AS melonjak sebab suku bunga The Fed semakin tinggi.

Rilis data inflasi AS pada Kamis (13/10) pun menentukan penaikan suku bunga yang besar berikutnya oleh bank sentral pada pertemuan November mendatang. Pasar memperkirakan sekitar 90% peluang penaikan suku bunga The Fed 75 basis poin bulan depan dan mencapai 4,5% pada Februari dan tetap di level tersebut pada sebagian besar 2023. 

"Sedangkan dari domestik, data penjualan ritel pada Agustus mengecewakan, yaitu hanya mengalami pertumbuhan 4,9%. Ini lebih rendah dibandingkan perkiraan untuk 8% dan 6,2% pada bulan sebelumnya. Hal ini menambah tekanan pada rupiah," ujar Lukman. Pada Agustus 2022 kinerja penjualan eceran yang tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) tercatat sebesar 201,8 atau tumbuh 4,9% (yoy). 

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi 15.331 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran 15.331 per dolar AS hingga 15.374 per dolar AS. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia pada Selasa melemah ke posisi 15.362 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya 15.299 per dolar AS. (Ant/OL-14)

BERITA TERKAIT