10 October 2022, 23:55 WIB

Erick Thohir Bentuk Sugar Co untuk Kemandirian Gula RI


Mediaindonesia.com |

PEMERINTAH Indonesia, melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus berusaha menjaga ketahanan pangan dan energi di tengah ancaman ketidakpastian global. 

Salah satu langkah nyata adalah melakukan transformasi PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Untuk meningkatkan produksi dan hilirisasi gula, Kementerian BUMN membuat terobosan dengan membentuk Sugar Co. 

Baca juga: BI Sebut Konsumen Tetap Optimistis Pada Kondisi Ekonomi Indonesia

Menteri BUMN Erick Thohir menilai langkah ini sejalan dengan prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang selalu menekankan pembangunan ekosistem dan mengurangi ketergantungan atas rantai pasok dunia untuk sektor pangan dan energi.

“Fokus Sugar Co tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan gula nasional, meningkatkan kesejahteraan petani tebu, menjaga stabilitas harga gula petani, tetapi juga menjadi produsen bioetanol yang merupakan produk turunan dari tebu sebagai campuran bahan bakar minyak,” kata Menteri Erick pada acara kick-off Revitalisasi Industri Gula Nasional untuk Ketahanan Pangan dan Energi di Kebun Tebu Temugiring, Mojokerto, Jawa Timur, Senin (10/10). 
 
Selain membentuk Sugar Co, PTPN juga melakukan langkah strategis dengan membentuk Palm Co untuk meningkatkan produksi dan hilirisasi kelapa sawit. Adapun untuk pengembangan produk komoditas lainnya, dikelompokkan ke dalam payung Supporting Co. 
 
Dengan terbentuknya Sugar Co, maka payung usaha ini menjadi raksasa produsen gula di Tanah Air yang berhasil mengintegrasikan 7 perusahaan PTPN dan 2 cucu perusahaan. Namun lebih dari itu, Sugar Co juga nantinya akan menjadi tulang punggung ketahanan pangan dan salah satu penggerak ketahanan energi nasional dengan produk bioetanol. 

"Hari ini coba kita kick off, kita berharap revitalisasi industri ini dapat memenuhi kebutuhan gula nasional untuk jangka menengah dan panjang," lanjutnya.

Presiden Jokowi, lanjut Erick, juga ingin memastikan kesejahteraan petani harus menjadi bagian dalam revitalisasi ini.

"Kita ingin memastikan pendapatan petani yang Rp 13,1 juta per hektare didorong menjadi Rp 32,1 juta per hektare. Tapi ojo kesusu, bertahap karena perlu juga yang namanya pupuk, bibit, dan off-takernya," ucap dia.

Seperti diketahui, Bioetanol merupakan salah satu bahan bakar alternatif berasal dari tumbuhan yang sudah melewati proses fermentasi, salah satu tumbuhan yang bisa dimanfaatkan adalah tebu. Berdasarkan hasil studi di Brazil, 1 ton tebu dapat menghasilkan setara 1,2 barrel minyak mentah. 
 
“Seiring dengan meningkatnya produksi tebu nasional, Sugar Co sendiri berpotensi memproduksi bioetanol sebanyak 1,2 juta kilo liter pada tahun 2030,” ujar Erick. 
 
Melihat potensi yang begitu besar, Pertamina pun akan memulai pilot project di Pabrik Gula (PG) Gempolkrep untuk memproduksi Bioetanol dari Sugar Co. 

“Dengan mencampur Bioetanol ke BBM Pertamina yang sudah ada, maka BBM Pertamina akan lebih ramah lingkungan," ungkap Erick Thohir. 
 
Lebih lanjut Erick mengatakan revitalisasi industri gula yang dilakukan oleh BUMN dapat memperluas hilirisasi produk yang bisa menyerap lebih banyak lapangan kerja. Erick mengatakan sektor ini memiliki turunan dalam bentuk  ampas tebu yang dapat mendukung industri farmasi.

"Ampas tebu ini salah satu bahan baku farmasi yang halal. Dengan demikian produk farmasi akan lebih terjangkau karena tidak impor bahan bakunya. Ikhtiar ini perlu dukungan semua pihak, kedaulatan pangan dan energi harus kita ciptakan bersama-sama," kata Erick menambahkan.

BERITA TERKAIT