02 October 2022, 07:23 WIB

BI Berupaya Kendalikan Inflasi


M Ilham Ramadhan A |

TREN peningkatan inflasi dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian Bank Indonesia. Tidak hanya karena gejolak perekonomian global, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada awal September 2022 turut menjadi sebab melonjaknya angka inflasi di dalam negeri.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Wahyu Agung Nugroho menyatakan angka inflasi pada September diperkirakan akan berada di level 5,88%, naik dari bulan sebelumnya di angka 4,69%.

"Kami terus terang sudah mempunyai proyeksi inflasi pascakenaikan BBM subsidi sampai akhir 2023. Kami melakukan tracking sesuai survei pemantauan harga. Survei pada minggu kelima, bulan ini inflasinya sekitar 5,88%," ujar Wahyu usai memberikan pelatihan media di Bali, Sabtu (1/10).

Naiknya harga BBM, kata Wahyu, menjadi pendorong utama meningkatnya inflasi di Indonesia. Kenaikan harga BBM jenis pertalite, pertamax, dan solar disebut bakal berkontribusi sebesar 0,91% secara bulanan terhadap tingkat inflasi dalam negeri.

Sedangkan hingga akhir tahun, diperkirakan kontribusi harga BBM terhadap tingkat inflasi diperkirakan berkisar 1,8% hingga 1,9%. Karenanya BI mengambil sejumlah langkah untuk ikut mengendalikan peningkatan inflasi, utamanya dari komponen inti.

"Untuk kebijakan moneter, kami akan fokus ke stabilisasi inflasi inti. Untuk volatile food, kami akan terus mengakselerasi Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan," tutur Wahyu.

Baca juga: Presiden Jokowi: Penaikan Suku Bunga Tidak Jitu Atasi Inflasi

Dia menyatakan, BI telah memetakan perkiraan pergerakan harga komoditas yang masuk ke dalam keranjang Indeks Harga Konsumen (IHK) hingga akhir tahun. Identifikasi pasokan dan permintaan juga telah dihitung sebagai dasar pengambilan kebijakan dari sisi moneter.

"Kami sudah antisipasi. Dalam koordinasi Tim Pengendali Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/D) sudah ditentukan juga langkah-langkah dan program yang kita siapkan untuk menanggulangi tekanan inflasi," ucap Wahyu.

Dari hitungan BI, komponen inti menjadi penyumbang terbesar pada tingkat inflasi, yakni sebesar 55%. Sedangkan komponen volatile food dan administered price cenderung memiliki porsi yang hampir sama di bawah komponen inti.

Wahyu menambahkan, selain berupaya mengendalikan tingkat inflasi, kebijakan yang diambil oleh BI sedianya untuk menjaga ekspektasi inflasi ke depan. Ini salah satunya dilakukan melalui penaikan suku bunga acuan sebesar 50bps menjadi 4,25% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) beberapa waktu lalu.

Dengan langkah itu, diharapkan ekspektasi inflasi akan terjaga dan pada pertengahan tahun depan tingkat inflasi akan kembali ke level 3% plus minus 1%.

"Salah satu pertimbangan BI melakukan kebijakan suku bunga front loading dan preemptive. Ini harus segera dikendalikan agar tidak mempengaruhi ekspektasi inflasi," pungkas Wahyu.(OL_5)

BERITA TERKAIT