02 October 2022, 06:26 WIB

BI: Fundamen Ekonomi Indonesia Masih Cukup Baik


M Ilham Ramadhan Avisena |

DIREKTUR Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Wahyu Agung Nugroho menyatakan kondisi eksternal ekonomi Indonesia memperkuat cadangan devisa dalam negeri. Kendati terjadi arus modal keluar (capital outflow), namun secara fundamen situasi nasional masih cukup baik.

"Secara fundamental, memang tidak ada permasalahan yang perlu kita khawatirkan di Indonesia," ujar Wahyu saat memberikan materi pelatihan media di Bali, Sabtu (1/10).

Hal itu disebabkan oleh kondisi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang masih mencatatkan surplus sebesar US$2,4 miliar pada triwulan II 2022. Kondisi itu jauh lebih baik ketimbang posisi NPI triwulan I yang mencatatkan defisit US$1,8 miliar.

Wahyu optimistis, surplus NPI akan kembali terjadi di triwulan III 2022 meski ada sedikit tekanan dari capital outflow, terutama dalam bentuk portofolio. Pada pekan kedua September 2022, arus modal keluar tercatat sebesar Rp8,48 triliun.

Arus modal keluar terbesar terjadi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp5,38 triliun. Sedangkan capital outflow di pasar saham tercatat sebesar Rp3,1 triliun.

"Ini karena memang semua negara akhir-akhir ini mendapat tekanan dari outflow, larinya balik lagi ke AS. Investor berlomba-lomba memindahkan asetnya ke negara yang dianggap paling aman," ujar Wahyu.

Kendati demikian, cadangan devisa Indonesia masih dalam kondisi yang aman. Per 20 September 2022, nilai cadangan devisa negara tercatat sebesar US$132,2 miliar. Tekanan disebut masih akan ada dan terjadi. Untuk itu BI akan melakukan intervensi valuta asing.

Baca juga:  Ekonom: BLT Pemerintah Sangat Membantu Masyarakat Kelompok Rentan

Optimistis terjaganya cadangan devisa juga berasal dari kinerja dagang yang selama 20 bulan terakhir mencatatkan surplus. Belum lagi pemerintah masih berhasil meraup dana sebesar US$2,3 miliar dari penerbitan global bond.

"Ini jumlah yang sangat signifikan, terutama bagi kondisi saat ini. Memang, pertama ini adalah pertanda ada perbaikan di sisi cadangan devisa, dan menunjukkan persepsi investor asing ke perekonomian Indonesia masih kuat," ujar Wahyu.

Tak hanya itu, bila dibandingkan negara-negara lain yang mengalami depresiasi nilai tukar, Indonesia dianggap masih relatif lebih baik. Dalam tahun berjalan, rupiah tercatat mengalami depresiasi 6,4% (year to date/ytd).

Itu dinilai masih lebih baik ketimbang depresiasi mata uang yang dialami India (8,65%), Malaysia (10,16%), dan Thailand (11,36%). Namun Wahyu memastikan BI juga akan tetap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.(OL-5)

BERITA TERKAIT