19 September 2022, 15:51 WIB

Pengamat: Pembatasan Beli Pertalite 120 Liter/Hari Tidak Bijak


Insi Nantika Jelita |

PENGAMAT Energi Universitas Indonesia Iwa Garniwa menilai langkah PT. Pertamina (Persero) yang membatasi pembelian bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite tidak tepat.

Menurut hematnya pembatasan tersebut bukan menyelesaikan masalah penyaluran subsidi BBM yang salah sasaran selama ini.

"Langkah ini lebih mengarah ke langkah panik dan menurut saya tidak bijak karena harga pertalite sudah dinaikkan menjadi Rp10 ribu per liter," ujarnya kepada wartawan, Senin (19/9).

Ia mengatakan seharusnya Pertamina tetap melayani kebutuhan masyarakat tanpa batasan pembelian BBM.

Kebijakan tersebut dikatakan Iwa, sebagai pertimbangan Pertamina untuk menjaga stok pertalite, mengingat konsumsi pertalite yang terus meningkat. Hal ini akan berdampak pada tingginya anggaran subsidi dan kompensasi energi dari APBN.

Baca juga: 100% Persen Masih Impor, Presiden Tugaskan Bulog Tanam Kedelai

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat, hingga Agustus konsumsi pertalite hampir 80% dari kuota sebesar 23 juta kilo liter (KL).

"Mungkin karena konsumsi BBM subsidi masih terus meningkat, agar turun makanya dibatasi pembeliannya," ucapnya.

Iwa meminta Pertamina untuk memberikan keterangan secara jelas alasan pembatasan pembelian pertalite tersebut di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

"Pertamina harus jujur sebetulnya masalahnya kenapa, setelah dinaikkan masih dibatasi pertalite. Ini akan menjadi bumerang bagi mereka karena ada ketidakpercayaan masyarakat, kalau tidak diklarifikasi hal ini," pungkasnya.

Dari keterangan Pertamina sendiri menyebut pengendalian pembelian pertalite bersifat sementara untuk uji coba sistem subsidi tepat. Perusahaan pelat merah itu sudah melakukan uji coba pengendalian volume pembelian sejak awal September ini. (OL-4)

BERITA TERKAIT