18 August 2022, 21:21 WIB

Kemenhub Sebut Biang Kerok Tiket Pesawat Mahal karena Avtur


Insi Nantika Jelita |

MENTERI Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi membeberkan melambungnya harga tiket pesawat karena harga bahan bakar avtur yang naik. Dari data Pertamina, harga rata-rata avtur di Bandara Soekarno-Hatta saat ini sudah naik 55,38% selama periode Januari-Juni 2022.

"Harga avtur memang mengakibatkan harga tiket naik, tetapi ada strategi pengelolaan yang harus dikoordinasikan secara detail sehingga harga tiket bisa tetap terkendali," kata dia dalam keterangan resmi, Kamis (18/8).

Ia menjelaskan sejumlah langkah disiapkan untuk menstabilkan harga tiket pesawat, sebagaimana arahan Presiden RI Joko Widodo pada Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi Tahun 2022 di Istana Negara hari ini. Seperti menetapkan kebijakan pengenaan tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp0 atau 0% terhadap Jasa Pendaratan.

Kemudian, Kemenhub telah meminta kepada Kemenkeu untuk memberlakukan relaksasi PPN pada tiket dan avtur. Langkah lainnya ialah Kemenhub telah berkirim surat kepada pemerintah daerah untuk turut mendukung konektivitas guna membantu peningkatan keterisian penumpang pesawat, memberikan subsidi dan insentif lain.

Pasalnya, di beberapa daerah, tingkat keterisian atau okupansi pesawat hanya 50% atau bahkan kurang dari itu.

Baca juga: Menhub akan Panggil Stakeholder untuk Stabilkan Harga Tiket Pesawat

Maka itu, pemda didorong untuk turut memberikan subsidi dan juga turut memasarkan, agar okupansi penumpang pesawat meningkat.

“Kalau tingkat keterisian bisa naik maka harga akan terkendali, karena harga tiket berbanding lurus dengan tingkat keterisian,” ujar Menhub.

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir meminta maskapai penerbangan nasional, Garuda Indonesia tidak menaikkan harga tiket pesawat. Salah satu usaha pihaknya ialah mendorong penambahan volume penerbangan.

"Makanya kalau Garuda bisa lebih produktif lagi dalam jumlah pesawatnya sehingga pengurangan dari stabilitas harga tiket bisa diseimbangi," ujar Erick dalam keterangannya.

Mengingat pentingnya untuk segera menambah volume penerbangan maka Erick berharap segera cairnya penanaman modal negara sebesar Rp7,5 triliun untuk Garuda. Dengan modal tersebut Erick optimistis akan mampu membuat Garuda bersaing secara bisnis sekaligus mampu menjaga harga pesawat yang terjangkau bagi rakyat. (OL-4)

BERITA TERKAIT