18 August 2022, 13:37 WIB

Bank Indonesia: Inflasi Tahun Ini akan Melebihi Batas Atas Sasaran


Despian Nurhidayat |

GUBERNUR Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan bahwa inflasi 2022 diperkirakan akan melebih batas atas sasaran 3% plus minus 1%.

Hal ini terutama disebabkan oleh masih tingginya harga energi dan pangan global, gangguan cuaca, serta kesenjangan pasokan antarwaktu dan antardaerah.

"Inflasi 2022 berisiko untuk melebihi batas atas sasaran 3% plus minus 1%. Di samping masih tingginya harga pangan dan energi global, kenaikan permintaan juga kemungkinan akan mendorong tekanan inflasi dari sisi permintaan untuk ke depannya," ungkapnya dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi 2022 secara virtual, Kamis (18/8).

Lebih lanjut, untuk mengatasi hal ini, Perry menegaskan perlu langkah konkret bersama baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk mengendalikan tekanan inflasi pangan yang tercatat sangat tinggi atau mencapai 11,47%, mendorong produksi, serta mendukung ketahanan pangan nasional.

Baca juga: Harga Pertalite Naik Jadi Rp10 ribu/liter, Inflasi Bisa 6,5%

Sejalan dengan hal tersebut, BI telah menginisiasi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) sebagai wujud komitmen bersama untuk dapat segera mengatasi tingginya inflasi pangan serta menjaga daya beli masyarakat.

"BI juga terus akan mengarahkan kebijakan kami untuk memastikan stabilitas inflasi, nilai tukar dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Kebijakan moneter kami arahkan untuk mendukung stabilitas. Sementara kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, pasar uang, UMKM, dan ekonomi keuangan syariah untuk mendukung pemulihan ekonomi," ucap Perry.

Selain itu, Perry memastikan bahwa sementara ini BI belum perlu menaikkan suku bunga acuan.

Hal ini disebabkan pemerintah pusat telah memastikan kondisi saat ini masih sangat baik, sehingga BI tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga acuan.

"Karena ada subsidi energi dan pengendalian pangan, sehingga dari sisi kebijakan suku bunga tidak harus buru-buru dinaikkan. Sehingga masih bisa menjaga stabilitas dan mendorong pemulihan ekonomi," pungkasnya. (Des/Ol-09)

BERITA TERKAIT