14 August 2022, 13:35 WIB

Berhasil Swasembada Beras, Jokowi Dapat Penghargaan IRRI


Andhika Prasetyo |

PRESIDEN Joko Widodo meraih penghargaan dari International Rice Research Institute (IRRI) atas orkestrasinya memimpin program penguatan dan ketahanan pangan, terutama di sektor beras periode 2019-2021

Meski penghargaan tersebut ditujukan untuk dirinya, Jokowi mengatakan hasil apik yang dicapai dalam tiga tahun terakhir adalah berkat kerja sama seluruh pihak, mulai dari Kementerian Pertanian, lembaga-lembaga terkait, universitas hingga para petani yang bekerja langsung di lapangan.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada pelaku riil yang bekerja di sawah yaitu para petani, kemudian para bupati, gubernur, Kementerian Pertanian yang semua bekerja sama dengan melakukan riset dengan universitas-universitas. Ini adalah kerja yang terintegrasi, bersama, gotong royong, bukan hanya milik satu pihak saja," ujar Jokowi selepas menerima penghargaan di Istana Negara, Jakarta, Minggu (14/8).

Kepala negara mengatakan, sejak pertama kali memimpin pemerintahan di 2014, penguatan sektor pangan sudah menjadi program prioritas. Itu terlihat dari pembangunan bendungan secara masif di seluruh daerah di Tanah Air.

Hingga saat ini, tercatat sudah 29 bendungan yang selesai dibangun dan diresmikan. Hingga akhir 2022, ditargetkan akan ada tambahan sembilan waduk baru. Dengan demikian, total akan ada 38 bendungan yang sudah dibangun pemerintahan Presiden Jokowi.

"Salah satu infrastruktur yang kita bangun sejak 2015 adalah di bidang pertanian. Kita telah membangun banyak bendungan, embung jaringan irigasi. Seingat saya, sampai hari ini, sudah diresmikan 29 bendungan besar. Tahun ini akan selesai sembilan lagi sehingga secara total ada 38 bendungan. Sampai 2024 akan kita selesaikan 61 bendungan," jelas mantan wali kota Solo itu.

"Ditambah 4.500 embung dan 1,1 juta jaringan irigasi yang sudah kita bangung selama tujuh tahun ini."

Tidak hanya dari aspek infrastruktur, penguatan juga dilakukan dengan melakukan inovasi untuk menciptakan varietas padi unggul.

Semua kebijakan, tersebut, lanjut Jokowi, memberikan hasil peningkatan produksi beras yang signifikan dalam tiga tahun terakhir.

Badan Pusat Statistik mencatat, dalam kurun 2019 hingga 2022, produksi beras nasional stabil di angka 31,3 juta ton. Jumlah tersebut sudah melebihi total konsumsi dalam negeri yang hanya 30,03 juta ton.

"Konsistensi itu yang dilihat FAO, IRRI, karena memang jumlah itu riil," tuturnya.

Terlebih lagi, masih berdasarkan penghitungan BPS, stok beras nasional, per April 2022, mencapai 10,2 juta ton. "Kalau ditanya barangnya ada di mana, ya ada di masyarakat, di petani, di restoran dan Bulog. Plus beberapa ada di industri pangan. Ini yang membuat IRRI memberikan kepada kita sebuah sertifikat bahwa Indonesia dinilai memiliki sistem ketahanan pangan yang baik dan sudah swasembada pangan," tandas mantan Wali Kota Solo itu.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal IRRI Jean Balie mengapresiasi Indonesia karena telah mampu mencapai ketahanan pangan terutama di sektor beras meski berada di tengah pandemi dan ketegangan geopolitik di Eropa Timur.

"Ini adalah langkah awal dalam menjawab permasalahan ketahanan pangan dalam jangka panjang. Indonesia sudab melakukan itu," ucap Balie.

Ia memastikan pihaknya siap melanjutkan kerja sama guna memperkuat capaian yang sudah diraih saat ini. IRRI mengaku telag menyiapkan sejumlah program kerja sama yang meliputi pengembangan dan inovasi teknologi, serta penguatan kapasitas di berbagai sektor.

"Dengan bekerja sama, kami yakin ketahanan pangan akan bisa kita capai secara optimal di masa mendatang. Kami juga mengundang Presiden Jokowi beserta kabinet untuk hadir ke kantor pusat IRRI di Filipina untuk memberi pandangan dan memperkenalkan berbagai teknologi yang bisa dikerjasamakan dengan Indonesia," pungkasnya. (OL-8)

BERITA TERKAIT