11 August 2022, 20:13 WIB

Pupuk Batubara Karya Anak Bangsa Diekspor ke Nigeria


Mediaindonesia.com |

PANGAN adalah kebutuhan dasar manusia yang paling penting dan hampir tidak dapat diproduksi tanpa adanya pupuk. Setiap negara akan sulit mencapai kemandirian pangan tanpa memiliki kemandirian pupuk. Oleh karena itu posisi pupuk sama pentingnya dengan posisi pangan itu sendiri.

Pupuk batubara karya R. Umar Hasan Saputra, yang telah mendapatkan paten di Amerika Serikat dan sebagai satu-satunya teknologi di dunia saat ini, makin diminati banyak negara. 

PT Bursatani Global Niaga sebagai produsen dan PT Saputra Global Harvest sebagai perusahaan yang bertanggungjawab untuk urusan ekspor, kembali merealisasikan ekspor pupuk batubara pada Agustus ini dengan negara tujuan Nigeria.

Nigeria adalah negara ketiga yang menjadi tujuan ekspor pupuk batubara. Setelah Amerika Serikat dan Zimbabwe.

Realisasi ekspor itu pun merupakan hasil kerja keras Duta Besar Republik Indonesia untuk Nigeria Usra Hendra Harahap dan Minister Counsellor, Pelaksana Fungsi Ekonomi Kedubes RI di Nigeria dan Team ITPC Lagos Nigeria Tamel Vinsen Sidabutar.

Berbeda dengan produk umumnya, sebelum melakukan impor, hampir setiap negara terlebih dahulu melakukan pengujian keandalan pupuk batubara ini. Pada awal tahun lalu Nigeria sudah mulai melakukannya di Provinsi Jigawa. 

Pemerintah Nigeria sendiri memandang pupuk batubara sebagai produk yang sangat penting. Mereka berhasrat untuk segera membuat pabriknya di sana. 

Baca juga : Prediksi Harga Gandum Naik Tajam, Akademisi IPB: Saatnya Gaungkan Pangan Lokal dan Produk Turunannya

Sebab itulah pengujian produk sekaligus studi kelayakan pembangunan pabrik langsung dilakukan oleh lembaga resmi pemerintah, yaitu NASENI (National Agency for Science and Engineering Infrastructure).

Sebagai bentuk keseriusan, rencananya delegasi NASENI yang dipimpin oleh Prof MS Haruna akan melakukan penandatangan kerja sama dengan pihak Saputra pada akhir bulan ini di Jakarta. Kerja sama yang dilakukan meliputi pengembangan dan diseminasi aplikasi, serta transfer teknologi produksi pupuk batubara di Nigeria.

"Ekspor dalam bentuk jadi dari Indonesia bersifat sementara. Tujuan akhirnya adalah transfer teknologi, sehingga akan tercipta efisiensi, dan setiap negara dapat memproduksi sendiri pupuk batubara sesuai kebutuhannya" ujar Saputra.

Dari hasil kunjungannya ke beberapa negara Afrika, terutama wilayah sub sahara, Saputra menyimpulkan bahwa rawan pangan yang banyak terjadi di wilayah ini sebenarnya bukan karena lahan tidak subur atau curah hujan yang kurang. Namun umumnya karena tidak memiliki kecukupan pupuk. Mereka tidak mampu membangun Industri pupuk yang sangat mahal.

Untuk itulah transfer teknologi sebagai jalan keluar bagi semua. Sehingga diharapkan negara-negara Afrika nantinya mengalami kecukupan pangan karena mereka telah mampu melakukan kemandirian produksi pupuk.

Pupuk batubara adalah pupuk yang sangat lengkap. Pupuk itu mengandung 3 komponen penting, yakni humus, unsur hara yang lengkap dan karbon yang tinggi. Pupuk tersebut dapat diproduksi dalam waktu singkat dan masif, serta dengan harga terjangkau. 

"Saat ini pupuk batubaralah yang dipercaya sebagai jalan keluar dunia, karena mampu mengatasi masalah kerusakan lahan pertanian yang terus terjadi, sulitnya mendapatkan pupuk, dan mahalnya harga pupuk," kata Saputra. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT