05 August 2022, 20:53 WIB

Perekonomian Masih Ditopang Konsumsi Rumah Tangga


Insi Nantika Jelita |

EKONOM Bank Mandiri Faisal Rachman menyatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpeluang besar untuk berakselerasi pada tahun ini berkat dorongan utama dari konsumsi rumah tangga.

Di kuartal II 2022, pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh 5,44% year on year (yoy), berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Konsumsi rumah tangga menjadi kontributor tertinggi, yakni tumbuh sebesar 5,51% yoy dan memberikan andil sebesar 2,92% terhadap dari April-Juni 2022.

"Kami melihat konsumsi rumah tangga sebagai mesin utama perekonomian Indonesia. Ini semakin menguat seiring dengan pelonggaran aktivitas atau mobilitas," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (5/8).

Konsumsi rumah tangga, sambungnya, juga menguat karena pengendalian pandemi dan meningkatnya vaksinasi, serta faktor musiman libur Ramadhan dan Lebaran, yang mempercepat mobilitas masyarakat dan perputaran uang.

Berkat pulihnya permintaan, Faisal juga berkeyakinan juga mendorong produksi dan kegiatan investasi. Ia melihat pemulihan ekonomi Indonesia akan berlanjut di kuartal III 2022 dengan potensi ekonomi tumbuh lebih kuat sekitar 6% yoy.

"Dengan permintaan domestik yang sehat, ekspor yang stabil pertumbuhan, kondisi fiskal yang hati-hati, dan manajemen covid-19 yang solid, kami memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh sekitar 5,17%pada akhir 2022, lebih kuat dari pertumbuhan tahun lalu sebesar 3,6%.

"Inflasi utama yang telah melampaui kisaran target mungkin menurunkan daya beli rumah tangga sampai tingkat tertentu. Namun, kinerja ekspor komoditas utama yang tinggi dapat terus menghasilkan pendapatan ekspor yang besar," kata Faisal.

Menurutnya, pemerintah akan terus meningkatkan subsidi energi dan alokasi transfer tunai guna menjaga konsumsi rumah tangga, sekaligus tetap mengurangi defisit anggaran menuju konsolidasi fiskal di 2023.

"Selanjutnya kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus tumbuh sebesar 5,22% di 2023," pungkasnya.

Dalam data BPS, indikator pertumbuhan ekonomi yang impresif dilihat dari pendapatan masyarakat yang meningkat pada kuartal II 2022. Nilai Tukar Petani (NTP) yang tumbuh 3,20% yoy dibandingkan kuartal II 2021, kemudian indeks penjualan eceran riil tumbuh 8,67% yoy.

Pinjaman konsumsi juga tumbuh 6,42% yoy. Kemudian, nilai transaksi uang elektronik, kartu debit dan kredit tumbuh 2,60% secara yoy. Kemudian, pajak penghasilan pasal 21, atau dikenal dengan PPh 21 juga tercatat tumbuh 19,77% dibandingkan periode yang sama di tahun lalu. (OL-8)

BERITA TERKAIT