05 August 2022, 15:50 WIB

Pengamat: Pemerintah Jangan Terlena dengan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2022


Despian Nurhidayat |

DIREKTUR Center of Economic and Law Studie (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan bahwa Indonesia tidak boleh terlena oleh pertumbuhan ekonomi yang pada kuartal II 2022 tercatat tumbuh positif 5,44% secara tahunan (yoy).

Pasalnya, menurut Bhima, Indonesia akan menghadapi tantangan yang jauh lebih berat pada semester II 2022.

"Tantangan di semester II (2022) itu jauh lebih berat. Ada imported inflation karena mahalnya harga bahan baku dan hal jni diperkirakan akan diteruskan ke konsumen. Konflik yang meluas bukan hanya Rusia-Ukraina tapi Tiongkok-Taiwan diperkirakan memperburuk rantai pasok dan menimbulkan pelemahan sisi investasi langsung," ungkapnya kepada Media Indonesia, Jumat (5/8).

Untuk mengejar target pertumbuhan sepanjang 2022, Bhima meminta pemerintah segera melakukan langkah mitigasi.

Baca juga: Ekonomi Indonesia Tumbuh Impresif di Kuartal II 2022

Hal ini bisa dilakukan mulai dari menjaga stabilitas harga dan stok pangan, menggelontorkan bantuan sosial setara masa pandemi, mendorong industrialisasi di sektor potensial, dan menahan kenaikan harga energi melalui subsidi.

Menurutnya, hal ini perlu segera dilakukan meskipun pemerintah harus mengorbankan belanja lain seperti pemangkasan anggaran seperti infrastruktur dan lainnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis dari Universitas Indonesia (FEB UI) Teguh Dananto mengatakan bahwa dampak dari kondisi global pada saat ini belum dirasakan secara langsung oleh Indonesia.

Dia memprediksi dampak dari hal tersebut akan terjadi secara perlahan-lahan dan baru terasa di kuartal III 2022.

"Hal ini terjadi karena harga produk impor itu akan mahal karena inflasi dan depresiasi. Harga raw material impor juga akan meningkat. Jadi menekan harga domestik. Ada potensi juga pelemahan ekonomi dunia yang menyebabkan pendapatan negara dan surplus negara akan turun," ujar teguh.

"Ini perlu diantisipasi. Jadi kita boleh berbangga, tapi jangan jemawa karena tantangan global masih penuh ketidakpastian dan kita harus bersiap-siap untuk mengatasi hal itu," pungkasnya. (Des/OL-09)

BERITA TERKAIT