05 August 2022, 15:47 WIB

Pemerintah Minta BI Tidak Buru-buru Naikkan Suku Bunga Acuan


Despian Nurhidayat |

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan arah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebaiknya tetap dipertahankan dalam level yang rendah 3,5%. Hal ini karena kondisi perekonomian dalam negeri dikatakan masih terpantau membaik dan menguat sehingga belum ada urgensi untuk BI teburu-buru menaikkan suku bunganya.

"Tingkat suku bunga, kita melihat dari inflasi yang mencapai 4,94 persen (yoy) dan inflasi inti sebesar 2,86% (yoy) sehingga angkanya masih rendah dan ekonominya masih recovery. Jadi kami berharap tidak perlu terburu-buru (BI naikkan suku bunga acuan) apalagi dana pihak ketiga (DPK) terpantau masih solid," ungkapnya dalam konferensi pers secara vritual, Jumat (5/8).

Lebih lanjut, menurut Airlangga laju pemulihan ekonomi dalam negeri terus menguat dengan beberapa indikator di antaranya indeks keyakinan konsumen (IKK) yang tercatat 128,2, kemudian indeks penjualan ritel 15,42 serta laju inflasi Juli tercatat 4,94% (yoy) dengan inflasi inti 2,86% (yoy) yang masih terjaga rendah.

Indikator lainnya dari sisi kredit perbankan tercatat tumbuh 10,66% (yoy) pada Juni 2022, dengan tingkat NPL terjaga pada level 2,86%. Kemudian pertumbuhan dana pihak ketiga jauh lebih tinggi sebesar 9,13% (yoy).

Baca juga: Jokowi: Harga Pertalite Naik 10% Didemo 3 Bulan, Gimana Naik 100%

Secara umum sejauh ini, Airlangga menekankan bahwa di tengah ketidakpastian global, indikator sektor eksternal Indonesia relatif baik dan terkendali yang tercermin dari neraca perdgangan sepanjang semester I 2022 mencapai US$24,89 miliar atau lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu tercatat US$11,84 miliar.

Kemudian transaksi berjalan hingga kuartal I 2022 mencapai 0,07% terhadap PDB.

"Kondisi nilai tukar rupiah pun dalam kondisi stabil di bawah Rp15.000 per dolar AS, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di antara 6.500 hingga 7.000 dan cadangan devisa Juli pun terpantau masih tinggi sebesar US$132 miliar dan rasio utang turun dilevel 32% terhadap PDB," pungkas Airlangga. (OL-4)

BERITA TERKAIT