05 August 2022, 13:50 WIB

Presiden Jokowi : Dunia Berada pada Kondisi yang Mengerikan


 Indriyani Astuti |

PRESIDEN Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi mengungkapkan secara gamblang kondisi perekonomian yang dihadapi dunia termasuk Indonesia.

Ia menyebut bahwa sekarang ini dunia berada pada posisi yang tidak mudah. Hal itu ia utarakan saat memberikan sambutan dalam acara Silaturahmi Nasional Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD), di Sentul Convention Center, Jawa Barat, Jumat (5/8).

“Saya bertemu dengan Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres, bertemu dengan lembaga internasional bos-bosnya, kepala negara G7 baru saja. Saya tanyakan sebetulnya dunia ini mau kemana? Beliau-beliau menyampaikan presiden Jokowi tahun ini kita akan sangat sulit. Tahun depan, akan gelap. Ini bukan Indonesia, ini dunia, hati-hati,” ujar Jokowi.

Mengutip data yang dikeluarkan oleh Bank Dunia (IMF), Jokowi menyebut akan ada 60 negara yang akan ambruk ekonominya.

Hal itu, sambungnya, mulai terlihat satu per satu dari banyak negara mengalami inflasi akibat lonjakan harga yang tidak bisa dihindari.

Baca juga: Indonesia Siapkan 3 Fondasi untuk Tingkatkan PDB

“Sekarang mulai satu per satu, angkanya 9 (negara) terlebih dahulu, kemudian 25, kemudian 42. Mereka (IMF) sudah secara detil mengalkulasi. Apa yang dikhawatirkan betul-betul kita lihat dan sekarang ini,” ucap presiden.

Selain itu, sambung presiden, PBB juga menyebut 320 juta orang di dunia sudah berada pada posisi kelaparan akut dan sebagian sudah mulai kelaparan diakibatkan oleh pandemi Covid-19 dan krisis pangan.

Sementara itu, negara-negara seperti Singapura, sebagian Eropa, Australia, dan Amerika Serikat, tegas Jokowi, mengalami inflasi, pada saat yang bersamaan pertumbuhan ekonomi melambat.

“Harga barang naik. Kondisi yang sangat kalau boleh saya sampaikan dunia pada kondisi yang mengerikan. Amerika yang biasanya kenaikan barang atau inflasi berada pada 1% hari ini berada pada 9,1%. Bensin naik sampai dua kali lipat, di Eropa juga sama,” ucapnya.

Jokowi menambahkan apabila harga bahan bakar minyak (BBM) Pertalite naik, masyarakat akan demo besar-besaran. Saat ini harga Pertalite di eceran Rp7.650 setelah disubsidi pemerintah. Sedangkan harga yang asli mencapai Rp17.100.

Pemerintah, tegas Jokowi, berani mengeluarkan anggaran subsidi dari bantalan APBN yang tidak kecil atau Rp502 triliun.

Tujuannya menjaga stabilitas harga bahan pokok agar tidak terjadi inflasi, melalui subsidi energi. Hal itu menurutnya tidak dilakukan negara lain.

“Itu demonya berapa bulan? Naik 10% saja demonya dulu 3 bulan. Kalau naik sampai 100% lebih demonya akan berapa bulan. Ini yang sekarang dikendalikan oleh pemerintah dengan subsidi. Begitu harga bensin naik, harga barang otomatis melompat bersama-sama,” ucap Jokowi. (Ind/OL-09)

BERITA TERKAIT