04 August 2022, 12:52 WIB

PPA Mendapatkan Pengakuan Dua Lembaga Pemeringkat Internasional


mediaindonesia.com |

KINERJA keuangan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA/Perusahaan) yang terus membaik sepanjang 2022 mendapatkan afirmasi dari dua lembaga pemeringkat internasional, yaitu S&P Global Ratings dan Fitch Ratings.

S&P Global Ratings dalam laporan riset yang dirilis Juli lalu meningkatkan rating outlook jangka panjang PPA menjadi stabil. Bersamaan dengan itu, S&P Global Ratings juga meningkatkan profil kredit mandiri (stand-alone credit profile/SACP) PPA serta menegaskan issuer credit ratings PPA dengan predikat BB/B.

Penguatan peringkat PPA merefleksikan peningkatan struktur permodalan PPA yang mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah. S&P Global Ratings menilai bahwa PPA memiliki basis permodalan yang kuat dengan pendekatan yang lebih berhati-hati terhadap pertumbuhan aset, meskipun ada tantangan ekonomi dari faktor eksternal. Manajemen PPA juga dinilai mampu mengendalikan volatilitas yang terjadi, bahkan mampu menginisiasi fase ekspansi yang sejalan dengan rencana transformasi Perusahaan.

Dalam laporan terpisah, Fitch Ratings juga memberikan outlook stabil dan menaikkan SACP PPA karena adanya peningkatan profil keuangan Perusahaan. Fitch Ratings juga memberikan penilaian AA (idn) atas obligasi nasional yang diterbitkan PPA. Peringkat AA menunjukkan tingkat risiko gagal bayar yang sangat rendah dibandingkan dengan emiten atau obligasi lainnya.

Fitch Ratings menilai status, kepemilikan, dan kontrol yang sangat kuat dari Pemerintah menjadi faktor penentu yang menunjukkan dukungan penuh terhadap PPA. Selain itu, PPA dinilai berada di lingkungan operasi yang stabil tanpa persaingan pasar yang signifikan.

"PPA telah melakukan sejumlah langkah strategis untuk menghasilkan pertumbuhan yang berkelanjutan, mulai dari transformasi organisasi, penguatan struktur permodalan dan likuiditas, penyempurnaan proses bisnis, penguatan manajemen risiko, hingga perbaikan kualitas portfolio aset. Afirmasi dari S&P Global Ratings dan Fitch Ratings memberikan motivasi bagi kami untuk terus memperbaiki dan meningkatkan kinerja Perusahaan, sehingga dapat memberikan nilai dan dampak yang signifikan bagi negara," kata Direktur Utama PPA Yadi Jaya Ruchandi.
 
Dalam laporannya, S&P Global Ratings juga menyoroti risiko yang dihadapi sektor perbankan tetap tinggi pasca pandemi, terutama setelah perpanjangan masa relaksasi restrukturisasi kredit perbankan berakhir pada 31 Maret 2023. Non-performing loan (NPL) diperkirakan akan tetap stabil di 2022, namun terdapat loan at risk (LAR) yang berpotensi menjadi NPL dengan kisaran 1:10 sampai 1:8. Pada 2023, S&P memproyeksikan adanya peningkatan rasio NPL menjadi 5% setelah berakhirnya kebijakan relaksasi.

"PPA memiliki pengalaman dan rekam jejak dalam pengelolaan NPL perbankan di Indonesia. Solusi inventif dengan skema off-balancesheet yang sukses kami implementasikan dalam penyelesaian aset berkualitas rendah PT Bank Muamalat Indonesia Tbk diharapkan dapat memfasilitasi penyelesaian NPL bagi industri finansial secara luas," ungkap Yadi.

Berdasarkan amanat yang diberikan Pemerintah, PPA memiliki peran sebagai instrumen strategis dalam mengoptimalisasi nilai dari aset-aset BUMN maupun ekosistem BUMN melalui tiga pilar bisnis utama, yaitu Restrukturisasi & Revitalisasi BUMN, Pengelolaan non-performing loan (NPL) Perbankan, serta solusi investasi Special Situations Fund (SSF).

PPA secara intensif menjalankan strategi turnaroundatas sejumlah BUMN Titip Kelola melalui restrukturisasi dan memfokuskan kembali pada core business unggulan guna mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan. PPA juga sedang menjajaki kerja sama dalam pengelolaan NPL dengan sejumlah bank. Dari pilar bisnis SSF, PPA telah melakukan sejumlah langkah strategis untuk mengoptimalisasi nilai dari ekosistem BUMN melalui solusi advisory dan investasi.

Per semester 1 tahun 2022, PPA mencatatkan pertumbuhan laba usaha konsolidasi yang signifikan hingga 187% dibanding laba usaha periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy) dan kenaikan laba bersih sebesar 58% secara yoy. (E-3)

BERITA TERKAIT