03 August 2022, 16:54 WIB

Gobel Pelajari Keunggulan Pertanian Hokota


Mediaindonesia.com |

WAKIL Ketua DPR RI Bidang Korinbang, Rachmat Gobel, memimpin delegasi DPR RI untuk mengunjungi kota Hokota, sekitar 100 km dari Tokyo, Jepang.

“Sekitar 60 tahun lalu kota ini adalah kota yang miskin, tapi kemudian berhasil mengubah keadaan dengan menjadi pemasok sayur-sayuran di Jepang, bahkan untuk sejumlah produk menjadi nomor satu dan produk premium untuk seluruh Jepang,” katanya, Rabu (3/8).

Hal itu ia sampaikan seusai melakukan dialog dengan Walikota Hokota, Kishida, dan berkunjung ke areal pertanian milik keluarga Murata. Gobel (Partai Nasdem) didampingi ketua dan anggota Komisi IV, Sudin (PDIP) dan Alien Mus (Partai Golkar), anggota Komisi XI Kamrussamad (Partai Gerindra) dan Charles Meikyansyah (Partai Nasdem), serta anggota Komisi VI Subardi (Partai Nasdem) dan Abdul Hakim Bafagih (PAN). Dalam kunjungan ke Hokota ini juga didampingi Duta Besar Indonesia untuk Jepang, Heri Akhmadi).

Baca juga: Daewoong Buka Peluang bagi SDM Berbakat Indonesia

Saat di kantor Walikota, delegasi DPR RI disuguhi ubi jalar dengan rasa yang sangat manis. Ubi ini dipanen pada bulan Oktober tahun 2021 namun baru disajikan sekarang. Ubi disimpan dalam gudang dengan suhu yang dingin. Inilah salah satu faktor penyebab ubi ini menjadi lebih manis. Saat jamuan makan siang, Walikota Kishida Kazuo juga menghidangkan melon. Inilah produk unggulan kota Hokota. Melon Ibaraki ini dikenal sebagai melon termanis di dunia dengan level kemanisan di atas 16. Kishida juga menjelaskan produk unggulan Hokota lainnya yaitu strawberi. Buah warna merah ini per bijinya bisa mencapai Rp 500 ribu. Produk lainnya adalah timun, pare, wortel, lobak, dan berbagai jenis sayuran lainnya.

Pada kesempatan itu, delegasi DPR RI juga mengunjungi lahan pertanian milik keluarga Murata. Di lahan seluas 2 hektar ini terdapat sembilan pekerja Indonesia yang berasal dari Singaraja, Bali. Mereka sedang magang selama tiga tahun. Mereka mengaku dikirim oleh pemda setempat untuk belajar bagaimana cara bertani yang unggul di Hokota. Di Hokota terdapat 543 orang Indonesia yang sedang magang bertani.

“Kami puas dengan kinerja mereka. Mereka rajin dan jujur,” kata Kishida.

Rasa senang juga disampaikan Kazutoshi Murata, pemilik pertanian Murata, yang mempekerjakan mereka. Kazutoshi merupakan generasi ketiga keluarga Murata yang mengelola pertanian stawberi tersebut. 

Murata menjelaskan, strawberi kota Hokota bisa unggul selain karena faktor bibit, juga ada faktor pengolahan tanah dan perlakuan terhadap tanaman. Sebagai contoh ia menyebutkan bahwa sebelum ditanami, selama 3 pekan tanah dipanaskan dengan suhu mencapai 64 derajat celcius. Ini untuk membunuh hama yang ada di tanah serta untuk menyuburkan tanah.

“Kami tidak menggunakan pestisida maupun pupuk kimia. Kuncinya pada pengaturan suhu, keseimbangan keasaman tanah, nutrisi, dan pengaturan air,” katanya. Semuanya menggunakan greenhouse sehingga lebih mudah pengontrolannya.

Kishida bercerita, saat pertama kali membangun pertanian di Hokota, mereka tidak bekerja sama dengan pihak universitas maupun dengan pabrik pupuk.

“Kami memanfaatkan para ahli di sini saja serta kerja keras para petani. Kami terus melakukan perbaikan dan beruji coba untuk menghasilkan yang terbaik. Contohnya ubi. Ubi itu berasal dari ubi yang ada di sini sejak dulu,” katanya.

Mereka juga terus melakukan upaya menciptakan bibit dengan varietas yang terbaik.

“Jadi kami melakukannya secara mandiri,” katanya. Selain itu, mereka juga belajar dari daerah lain yang saat itu pertaniannya sudah lebih maju.

“Namun sekarang mereka semua menjadi belajar ke kami,” katanya.

Gobel mengatakan, kunjungan ke Hokota ini memiliki makna strategis. Ia sengaja fokus pada masalah pertanian karena perkembangan geopolitik internasional dan juga masalah climate change.

“Akibat masalah geopolitik, yang terakhir adalah konflik Rusia-Ukraina, dunia menghadapi masalah ketersediaan pangan. Bahkan bisa mengarah pada krisis pangan,” katanya.

Hal itu memperparah keadaan karena sebelumnya dunia sudah didera pandemi Covid-19. Sedangkan climate change, katanya, berakibat pada gagal panen karena iklim yang berubah-ubah dan juga menimbulkan bencana banjir yang mengganggu produksi pertanian.

“Jadi, kita dan dunia ke depan akan menghadapi masalah pangan. Kita tidak boleh diam. Apalagi Indonesia memiliki penduduk yang besar. Kita harus berdaulat di bidang pangan, tak boleh tergantung pada negara lain. Selain itu, dengan lahan yang luas, kita bahkan bisa menyediakan pangan untuk dunia. Jadi ini sangat strategis,” katanya.

Pada kesempatan itu, Gobel mengatakan, tahun depan adalah 65 tahun hubungan diplomasi Indonesia-Jepang.

“Harus ada kado yang bermakna. Tadi Pak Dubes menyampaikan kado itu bisa berupa lahan 10 hektar di Hokota untuk dikelola petani Indonesia. Lalu, Pak Sudin menyampaikan Indonesia bisa memberikan 100 hektar lahan di Indonesia untuk dikelola Jepang,” katanya. Selain itu, Gobel menyampaikan, kerja sama tenaga magang di Hokota bisa diperluas asal daerahnya dan juga jumlahnya. “Ini penting agar petani Indonesia bisa praktik bagaimana bertani yang unggul,” katanya.

Gobel berharap untuk memperkuat kerja sama perlu proyek percontohan seluas 10 hektar di Indonesia. "Ini penting untuk dikonkretkan," katanya.

Selain itu, kata Gobel, pemerintah perlu mempertimbangkan untuk peserta magang di sektor pertanian ini, yang sudah kembali ke Indonesia, bisa  mendapat fasilitas kredit dari pemerintah agar mereka bisa langsung mempraktikkan ilmunya. "Ini harus menjadi perhatian khusus dari menteri pertanian," katanya. (RO/OL-6)

BERITA TERKAIT