03 August 2022, 15:49 WIB

Bebas Ongkir Bikin Industri Jasa Pengiriman Menjerit


M. Ilham Ramadhan Avisena |

MARAKNYA fenomena bebas ongkos kirim dalam kegiatan jual beli di lokapasar disebut mengancam industri logistik Tanah Air. Karena itu, pemerintah diharapkan mampu merumuskan kebijakan yang adil dan efektif. 

Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo) Trian Yuserma dalam Mid Year Economic Outlook 2022 ke-2, Rabu (3/8).

Baca juga: Kominfo Blokir 1,7 Juta Konten Negatif, Terbanyak Pornografi dan Perjudian

"Kita ingin transform, agar istilah bebas ongkir itu dieliminasi. Kita ingin regulasi free ongkir itu menjadi atensi bagi pemerintah," ujarnya. 

Trian menyampaikan, pertumbuhan yang terjadi di lokapasar sedinya memang mendorong bisnis logistik di Indonesia. Namun pertumbuhan itu tak sejalan dengan imbal yang diperoleh akibat adanya fenomena bebas ongkir itu. 

Padahal industri pengiriman maupun logistik merupakan unit usaha yang padat modal. Belum lagi jangkauan pelayanan dari industri ini cukup luas dan ada di tiap pulau di Indonesia. 

Pertumbuhan dan profit yang dirasakan oleh pelaku lokapasar juga disebut tak merembes ke industri jasa pengiriman dan logistik. Hal ini menurutnya diperlukan intervensi pemerintah melalui kebijakan yang adil. 

Selain penghapusan bebas ongkir, Asperindo juga menuntut pemerintah menciptakan regulasi bisnis yang sehat terkait ekosistem lokapasar. Sebab, saat ini ada sejumlah perusahaan besar yang menguasai tiap lini, mulai dari lokapasar itu sendiri, sistem pembayaran, hingga jasa pengiriman atau logistik. 

"Sekarang ini tidak sehat. Kita menginginkan penciptaan industri yang sehat. Sekarang Indonesia ini menjadi tujuan bisnis e-commerce, kita melihat ada penguasaan yang menyeluruh di platform, payment, termasuk logistik. Kita ingin ini sehat," kata Trian.

"Penguasaan pada tiap lini proses di e-commerce ini harus dihindari. Ini demi kepentingan nasional dan menciptakan pelayanan prima logistik," tambahnya. 

Namun Trian menegaskan, permintaannya itu bukan berarti ada ketidaksukaan pada pertumbuhan lokapasar nasional. Justru Asperindo disebut ingin terus mendukung dan mengiringi pertumbuhan sumber ekonomi baru itu. Hanya, dibutuhkan sistem yang adil dan menguntungkan bagi semua pihak dalam menjalakannya.

Di kesempatan yang sama, Ketua Umun Asosiasi Ecommerce Indonesia (idEA) mengungkapkan, kerja sama dan kolaborasi antara industri jasa pengiriman dan lokapasar perlu untuk terus dilakukan. Dia juga menyatakan, idEA membuka ruang diskusi agar ekosistem ekonomi lokapasar dapat terus tumbuh. 

"Kita dari ecommerce siap berdiskusi bagaimana bisa maju bersama. Dengan berkolaborasi kita bisa memajukan industri, utamanya UMKM dari pertumbuhan ecommerce itu sendiri," jelasnya. 

Bima juga tak menampik peranan penting dari industri jasa pengiriman dan logistik pada pertumbuhan kinerja lokapasar nasional. Di 2021 misalnya, nilai transaksi lokapasar mencapai US$53 miliar dan diprediksi terus meningkat tiap tahunnya. 

Bahkan pada 2025 nilai transaksi lokapasar Indonesia diperkirakan bakal menyentuh US$104 miliar, setara Rp1.400 triliun. "Dengan nilai transaksi sekarang, kita berkontribusi 5% pada PDB. Bahkan bila prediksi itu teejadi, kontribusi kita bisa lebih dari 10% pada 2025," terang Bima. 

Karena itu, lanjut Bima, idEA menginginkan kerja sama dan kolaborasi yang harmonis dengan industri jasa pengiriman dan logistik. Pasalnya transaksi jual beli yang saat ini acap kali dilakukan secara daring membutuhkan peran dari industri jasa tersebut. 

"Logistik itu menjadi salah satu faktor membantu pertumbuhan e-commerce. Road map e-commerce itu salah satunya ada logistik dan payment. Jadi logisitk itu menjadi kontribuitor bagi pertumbuhan e-commerce itu sendiri," pungkas Bima. (OL-6)

BERITA TERKAIT