01 August 2022, 13:58 WIB

Nilai Tukar Petani Alami Penurunan Karena Anjloknya Harga Komoditas


M. Ilham Ramadhan Avisena |

NILAI Tukar Petani (NTP) pada Juli 2022 mengalami penurunan 1,61% dari bulan sebelumnya menjadi 104,25. Penurunan disebabkan oleh turunnya indeks harga yang diterima petani sebesar 1,04% dan ada kenaikan pada indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,58%.

Dengan demikian, pada Juli 2022 indeks harga yang diterima petani berada di level 118,37 dan indeks harga yang dibayar petani berada di level 113,55.

"Indeks harga yang diterima petani turun diantaranya karena menurunnya harga kelapa sawit, jagaung, karet, dan kelapa," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono dalam konferensi pers secara daring, Senin (1/8).

Adapun komoditas yang mendorong kenaikan indeks harga yang dibayarkan petani ialah bawang merah, cabai merah, cabai rawit, dan rokok kretek filter.

Pada Juli 2022, kata Margo, terdapat dua subsektor NTP yang mengalami penurunan, yakni NTP tanaman pangan dan NTP tanaman perkebunan rakyat. Keduanya masing-masing mengalami penurunan 0,62% dan 6,63% menjadi 95,28 dan 114,03.

Penurunan NTP pada subsektor tanaman perkebunan rakyat terjadi lantaran indeks harga yang diterima petani megalami penurunan hingga 6,06%. Sedangkan indeks harga yang dibayarkan petani mengalami kenaikan 0,61%.

"Komoditas utama yang menyebabkan penurunan NTP tanaman perkebunan rakyat ialah kelapa sawit, karet, dan kelapa," kata Margo.

Sementara itu, BPS mencatat terjadi kenaikan yang signifikan pada NTP hortikultura, yakni sebesar 4,91% dari bulan sebelumnya menjadi 123,91. Kenaikan terjadi karena indeks harga yang diterima petani meningkat sebesar 5,48%, lebih besar dari kenaikan harga yang harus dibayar petani yang naik sebesar 0,55%.

"Komoditas yang dominan berpengaruh pada indeks harga yang diterima petani berasal dari komoditas bawang merah, cabai merah, dan wortel," jelas Margo.

Sejalan dengan NTP, Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) juga mengalami penurunan sebesar 1,34% dari bulan sebelumnya menjadi 105,47. Ini disebabkan karena indeks harga yang dierima petani turun sebsar 1,04%, sementara indeks biaya produksi dan penambahan barang modal naik sebesar 0,30%.

Baca juga: Inflasi Juli 2022 Sebesar 4,94%, BPS: Tertinggi Sejak 2015

Berdasarkan subsektor, penurunan tertinggi terjadi di NTUP tanaman perkebunan rakyat sebesar 6,39%. Ini disebabkan karena indeks yang diterima petani juga mengalami penurunan sebesar 6,06%. Sedangkan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal mengalami kenaikan sebesar 0,36%.

"Komoditas yang dominan yang mempengaruhi kenaikan biaya produksi dan penambahan barang modal diantaranya adalah NPK, urea, dan ongkos angkut. Ini sejalan dengan harga urea yang di tingkat global naik, berdampak kepada biaya input untuk produksi mengalami peningkatan," jelas Margo.

Sementara itu, NTUP yang mengalami peningkatan terjadi pada subsektor hortikultura, di mana meningkat 4,98%. Ini terjadi karena indeks yang diterima petani naik sebesar 5,48%, lebih besar dari kenaikan indeks yang harus dibayar petani, khususnya biaya produksi dan penambahan barang modal yang meningkat hanya 0,48%.

"Komoditas yang dominan berpengaruh pada indeks harga yang diterima petani, diatanranya berasal dari bawang merah, cabai merah, dan wortel, dan juga terdapat beberapa komoditas yang dominan menghambat kenaikan biaya produksi dan penambahan barang modal, diantaranya adalah bibit jahe," pungkas Margo.

Adapun hal yang membedakan NTP dan NTUP yakni penghitungan yang dilakukan oleh BPS. Pada NTP, BPS menghitung indeks yang diterima petani dengan indeks yang dibayarkan petani, mencakup seluruh pengeluaran petani seperti pengeluaran rumah tangga, biaya produksi, sekolah, berobat, kebutuhan sandang, papan, sehingga tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil pengeluaran usaha petani.

Sementara pada NTUP, BPS mengeluarkan konsumsi rumah tangga, alias hanya menghitung pengeluaran terkait kegiatan produksi usaha petani. NTP dan NTUP di atas 100 menunjukkan kondisi petani mengalami surplus dan di bawah 100 menggambarkan petani merugi. (OL-4)

BERITA TERKAIT